Menu

Pendidikan Karakter

  Dibaca : 213 kali
Pendidikan Karakter

Pemerintahan Jokowi di Indonesia menerbitkan dasar hukum untuk pembinaan karakter, budi pekerti, atau apapun namanya. Sudah dapat dipastikan isinya cuma banyak didasarkan pada psikologi-pop yang selama ini beredar dengan label gagah “ESQ”, persis seperti arah yang disiratkan dalam khotbah tentang “lebih penting orang dididik untuk bisa meng-antri daripada bisa menguasai sains dan teknologi”.

ESQ, emotional and spiritual quotient, yang anehnya diterjemahkan sebagai kecerdasan emosi dan rohani, punya 2 hulu atau sumber mata air. Pertama, keinsafan bahwa IQ bukan penentu utama keberhasilan. Contoh, seorang siswa di Florida USA yang bernama Jason. Otaknya cemerlang, selalu ranking puncak. Tapi tiba-tiba Jason bisa menikam guru fisikanya dengan sebilah pisau, hanya lantaran tak dapat nilai 10 saat ulangan. Pintar di sekolah namun ternyata gagal dalam karir dan kehidupan. Maka mutlak pentinglah kearifan menata emosi, dibanding sekadar kecerdasan otak. IQ (Intelligence Quotient) setinggi apapun tiada artinya bila EQ payah.

Hulu kedua, temuan Howard Gardner, peneliti psikologi di Harvard Graduate School of Education. Tahun 1983 ia mempublikasi teori multiple intelligence. Kecerdasan manusia ternyata tak hanya inteligensia yang pengukurannya dikenal dengan skor IQ. Gardner menunjuk 8 jenis kecerdasan. Teori Kecerdasan Ganda segera jadi anutan hampir seluruh lembaga pendidikan di bumi ini.

DstQ, APA PULA ITU?
Setelah itu bermunculanlah segala teori kecerdasan lainnya. John D. Mayer dan P. Salovey (1990) mengajukan teori Kecerdasan Emosional. Tapi buku Daniel Goleman tentang EQ yang cepat merebut hati dunia, sebab gaya sajiannya yang pop dan sugestif. Donah Zohar dan Ian Marshall, awal tahun 2000, menampilkan SQ. Kecerdasan spiritual, mereka simpulkan, adalah the ultimate intelligence. Tapi spiritualitas Zohar-Marshall tidak, bahkan dilarang untuk, diidentikkan dengan iman. Maka, sementara yang ‘menganut’ SQ Sohar-Marshall hanya segelintir kaum New Ages, di masyarakat agama-agama samawi teori SQ dari Marsha Sinetar yang lebih laris.

SQ muncul sesudah EQ meluas. Maka, seperti biasanya ulah pegandrung psikologi-pop, tanpa ha-hi-hu langsung saja SQ ala Sinetar itu digabungkan pada EQ yang sudah dibangun komprehensif oleh Salovey, Mayer, Caruso dan Goleman, menjadi ESQ. Cuma seperti mengkonversi, atau membaptis, EQ ke dalam dimensi spiritual bahkan keagamaan SQ. Inilah yang dilanjutkan oleh tak terhitung pengkhotbah di semua negara. Termasuk sejumlah buku dan kursus “ESQ” di Indonesia. Orang seenak perutnya saja menggabung-gabungkan, dikira semua yang dianggap benar akan mencapai kebenaran tertinggi bila digabungkan. Itulah sebabnya ketika Robert Coles memunculkan MQ, ia masih bisa mendapatkan banyak penganut. Paul Stolz mengedepankan AQ, kecerdasan untuk mampu melampaui kesukaran hidup. Tak tanggung-tanggung, Robert Stenberg mengajukan teori tentang kecerdasan buat sukses, SQ. Dan seterusnya…!

MQ (Moral Quotient) dari Robert Coles memang penting, sebab spiritualitas bahkan iman kita tidak memiliki wujud sejatinya yang konkret kecuali melalui moral atau akhlaq. Lalu ada AQ (Adversity Quotient), kesanggupan menanggung masalah, kemampuan melampaui segala kesulitan. Lantas ada CQ, Courage Quotient, atau Braveheart, keberanian. Ini juga sangat menentukan, secerdas apapun kita kalau tak berani bertindak maka kita hanya selamanya berada di titik nol. Kemudian muncul pula PQ, Physical Quotient. Tentu saja, secerdas apapun dan sebajik apapun kita tapi kalau fisik kita penyakitan ya payah! Lalu muncul pula ScQ, Successful Quotient. Yang betul SI, Successful Intelligence, tapi untuk gampangnya pembahasan ini sengaja diseragamkan dengan serial Q lainnya, sehingga jadi ScQ karena SQ sudah ada. Nah, ScQ ini pun tentu saja harus penting, sebab apapun keunggulan dan kebajikan kita tetaplah penilaian terakhirnya pada soal berhasil (suskes) atau gagal.

Begitu seterusnya, akan muncul Q lainnya. Maka sah untuk kita bicara DstQ: “Dan seterusnya Q”. Sampai Z. Karena bukan tak mungkin seorang teoretikus psikologi pop serial Q yang melihat kebenaran ajaran Zen maupun pentingnya metode kebatinan pengosongan diri (selfishness in zero) lantas latah mempromosikannya berupa teori ZQ Zerofying Quotient. Maka lengkaplah, dari A sampai Z.

SEMUA BUNTU!
Masalahnya, setiap muncul satu teori Q yang baru, selalu mengklaim sebagai penentu utama, sehingga harus berarti meminggirkan atau menelan yang lain. Bahkan beberapa di antaranya saling menihilkan…!
Itu masalah konseptual. Lalu, yang terutama, masalah praktikalnya. Saat motivator Mario Teguh sedang laris-manis di TV, banyak pemirsa menelpon: “Pak Mario, Salam Super! Saya kok sudah 4 tahun setia mengikuti semua ceramah Bapak, dan semua yang Bapak omongkan benar belaka. Tapi, mau tanya, kenapa ya saya tak bisa menerapkannya walaupun sangat mau?”

Buntu! Itulah akibat teori psikologi pop yang tanpa sistematika dan tanpa dasar benar. Aristoteles sejak dua ribu tiga ratus tahun lalu sudah bikin teori etika yang tak dapat dibantah sampai hari ini, tetapi sampai hari ini kita tak pernah dengar ada suatu sekolah atau lembaga agama yang bisa mencetak output didikan atau jemaatnya yang seideal digambarkan Aristoteles. Begitu juga sejumlah teori lainnya, sampai segala teori psikologi pop seperti Edward De Bono, Tony Buzan, Stephen Covey (yg peluncuran bukunya [yang makin melantur] dilakukan Presiden RI SBY di Istana Negara), dsb, dst., bahkan beberapa teori yang ternilai berwibawa seperti Teori Virus n’Ach dari Prof. David McClelland (1953, 1961), J. Geoffrey Rawlinson (1981). Tak kecuali sejumlah teori self-improvement yang ternilai “pasti benar” sebab didasarkan pada ajaran Alkitab seperti Norman Vincent Peale, Dale Carnegie, dsb, dst. Apalagi segala pendidikan moral Pancasila yang cuma berupa wacana ideologi gagah namun mengambang di awan-awan.

AQ-ZQ MAUPUN IQ HANYALAH MUARA, DARI MANA HULUNYA?

IQ yang lama diagung-agungkan dalam dunia pendidikan “sekuler”, makin disepelekan ketika muncul SQ. SQ pun langsung jadi favorit para pengkhotbah agama. Karena dengan SQ maka para pemimpin agama merasa jadi lebih layak mengajar tentang hidup yang benar dan sukses, lebih layak dibanding sarjana ilmu apapun yang selama ini terlihat arogan dengan label “ilmiah” mereka. Ada sejenis sindrom “kodok dalam tempurung” yang diidap para penganjur ESQ. Mereka kira, EQ yang sudah ampuh itu akan makin digdaya bila ditambah dengan spiritualitas yang mereka identikkan dengan unsur agama. Inilah yang, saat sedang menjamurnya mode ESQ, dikritik oleh cendekiawan Muslim Jalaluddin Rakhmat dengan mengingatkan fakta betapa tak sedikitnya orang yang tekun beragama, bahkan yang mengaku pemimpin spiritual, tapi moralnya amat bejat. Prof. Gordon Allport mengungkap hasil penelitiannya tentang korelasi nyata antara rajinnya seseorang dalam aktivitas spiritual di rumah ibadah dengan hatinya yang dipenuhi kebencian terhadap sesama manusia yang lain aliran agamanya.

Sementara teori Kecerdasan Ganda-nya sudah dikembangkan melantur jadi sangat banyak, Howard Gardner sendiri terus menambah. Tapi tiba-tiba sadar bahwa jumlah tersebut memang bisa tiada berhingga. Maka Gardner berupaya mencari satu saja sebagai akar dari semuanya, dan ia simpulkan itu adalah: daya pemahaman. Memang, periksalah semua kecerdasan lain — 8 yang dari Gardner maupun segala serial Q dan entah apa lagi yang akan datang — semuanya tetap mengandalkan daya pemahaman. Semua berjangkar pada sistem kesadaran. Periksalah teori EQ dari Goleman, tentang kemampuan mengenali emosi diri, kemampuan mengenali emosi orang lain, kemampuan mengembangkan hubungan dengan orang lain, semuanya urusan kesadaran. Tapi bukankah semua itu berarti kembali ke IQ lagi? Buntu?!

Dr. Christopher Peterson, professor psikologi di University of Michican, dan Dr. Martin E.P.Seligman, professor psikologi di University of Pennsylvania, dalam karya besar (besar menurut ukuran fisik buku maupun pencapaian kadar kebenaran) yang mereka susun bersama 40 profesor lainnya, “Character Strengths and Virtues” (Oxford University Press, 2004), sangat tepat ketika menempatkan pokok-pokok daya cipta, open-minded, gairah belajar dan hikmat sebagai yang pertama dari puluhan pokok lainnya.

Teori Aristoteles sudah jauh lebih benar dibanding semua konsep psikologi pop itu — itulah mengapa Prof. Alasdair MacIntyre (“After Virtue”, 1981) menganjur dunia untuk kembali kepada Aristoteles — namun Aristoteles pun sebetulnya belum tuntas. Sempurnanya: potensi moral kasih telah disemai Allah dalam diri manusia, itulah yang mesti ditumbuhsuburkan melalui ibadat serta praxis etika, dan melalui proses itulah kecerdasan serta pelbagai kebajikan (virtues) berkembang. Bukannya satu-persatu kebajikan itu baru hendak ditambahkan ketika manusia sudah tumbuh bersama segala sifat anti-kebajikan.

Kegagalan dari semua teori Q selama ini berpangkal dari kesalahan di tataran konseptual, berujung namun tanpa pangkal. Cuma gambaran post-facto dari pribadi yang sudah berhasil, bukan teori yang memedomani pencapaian keberhasilan dengan hasil yang dijamin relatif sama bagi setiap orang.

AQ sampai ZQ, termasuk IQ, hanyalah hasil, bukan sumber penyebabnya. Hanyalah muara, bukan hulu sumber mata airnya.

Penulis : Benny E. Matindas

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional