Menu

Jangan Hukum Garuda Muda dengan Cacian…

  Dibaca : 1646 kali
Jangan Hukum Garuda Muda dengan Cacian…
Jangan Hukum Garuda Muda dengan Cacian…

Timnas U-23 Indonesia kembali memperpanjang rekor gagal dalam perebutan medali emas SEA Games, setelah dalam pertandingan semifinal takluk 1-0 dari tuan rumah Malaysia di SEA Games 2017.

Kekalahan tersebut menambah haus berkepanjangan setelah kali terakhir, Ferril Hattu dan kawan-kawan merebutnya pada tahun 1991 di Filipina.

Melihat dari sisi permainan, tim Indonesia muda memang mulai membaik meski tak bisa disebut berubah signifikan. Pelatih sekaliber Luis Milla yang membawa Spanyol muda menjadi juara Eropa U-21 ternyata belum mampu memberikan sentuhan emas.

Perjalanan tim garuda muda memang harus diberikan apresiasi setinggi-tingginya, melihat perjuangan mereka membela kehormatan negara. Namun tak dapat dipungkiri hasil yang dicapai gagal memenuhi ekspetasi seluruh pendukung garuda muda.

Ketika timnas Garuda kewalahan mengalahkan Timor Leste, digempur habis-habisan pasukan Vietnam serta ‘hanya’ menang 2-0 lawan Kamboja, mulai terlihat persiapan Indonesia tak cukup matang.

Indonesia punya sejarah panjang membantai tim sekelas Kamboja, apalagi negara baru seperti Timor Leste. Vietnam juga sejak dahulu selalu menjadi negara kelas dua di Asia Tenggara.

Emosi, mental dan fisik Indonesia tidak lebih baik dari sesama kontestan. Beban yang diberikan terlalu berat. Indonesia juga tak cukup bagus berhitung jika negara lain melakukan persiapan yang sama, bahkan lebih.

Persiapan hampir delapan bulan pasukan Luis Milla ternyata belum cukup. Masih butuh banyak tambalan untuk menjadikan tim Indonesia kembali menjadi macan Asia.

Indonesia boleh memiliki pelatih asing hebat, Indonesia juga banyak memiliki calon bintang masa depan. Namun Indonesia selalu kurang menghargai waktu dan proses.

Prestasi itu tak bisa serta merta datang meski sudah mengeluarkan uang banyak merekrut pelatih berkualitas. Pelatih sekelas Jose Mourinho, Pep Guardiola, atau Zinedine Zidane juga pasti tak bisa berbuat banyak ketika dituntut prestasi besar dalam waktu singkat dengan materi seadanya.

Timnas Jerman bisa merebut piala dunia tahun 2014 setelah banyak berbenah saat ‘hanya’ menjadi peringkat tiga ketika menjadi penyelanggara piala dunia tahun 2006. Lihatlah, butuh 8 tahun untuk melihat hasil maksimal dari sebuah proses.

Timnas garuda Muda sudah berada di jalan yang benar untuk meraih prestasi hebat. Hanya saja, butuh campur tangan banyak pihak agar tujuan tercapai.

Jangan lagi para penggawa timnas muda dibiarkan terlalu larut dalam euforia selebritis. Jangan lagi mental mereka dirusak atas nama komersialisme menjadi bintang iklan sana-sini, gaya hidup hedonis, sering keluar malam atau yang lainnya.

Peleburan timnas U-19 dan U-23 nantinya kemudian diikutkan dalam Liga 1 mungkin bisa menjadi opsi alternatif. Biarkan mereka terus menjadi ‘keluarga’ serta terus belajar dan berlatih.

Anggaran untuk gaji mereka sebagai satu tim juga bukan sesuatu nilai yang fantastis jika diukur dalam rupiah untuk ditalangi pemerintah dan PSSI. Masih banyak kejuaraan yang bisa menjadi target selanjutnya.

Kuota piala dunia 2026 untuk zona Asia yang ditambah bisa menjadi target besar PSSI, mewujudkan mimpi rakyat Indonesia melihat tim kesayangannya berlaga di piala dunia.

Tim ini harus terus dipertahankan dan dievaluasi setiap tahunnya. Sistem promosi dan degradasi pemain harus dilakukan agar kualitas tim meningkat setiap tahun. PSSI dan pemerintah juga harus terus memberikan support optimal bagi pasukan Luis Milla.

Sekali lagi, perjuangan garuda muda sudah maksimal, namun kali ini kita harus berbesar hati dan berlapang dada legowo menerima tim Indonesia belum cukup kualitas untuk menjadi yang terbaik dan membawa pulang medali emas.

Jangan hukum mereka dengan cacian, umpatan dan sejenisnya. Mental mereka harus dijaga, dibesarkan agar menjadi mental pemenang.

Sambut mereka dengan kebanggaan, mereka telah bertempur di medan laga dengan gagah berani. Merekalah 23 putra terbaik bangsa Indonesia yang terpilih.

Kita hanya perlu bersabar… Sampai kapan? Wallahu Alam…

Penulis: Franky Guntur Tangkudung

 

 

 

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional