Menu

Vonis Hakim Untuk Fidelis, Korban Kesempitan Berpikir

  Dibaca : 217 kali
Vonis Hakim Untuk Fidelis, Korban Kesempitan Berpikir
Fidelis Ari

Majelis hakim Pengadilan Negeri Sanggau, Kalimantan Barat, telah menjatuhkan vonis 8 bulan penjara kepada Fidelis Arie Sudewarto (36), seorang PNS yang tertangkap menanam ganja di rumah untuk pengobatan istrinya, Rabu (2/8/2017).

Fidelis juga dikenai denda sebesar Rp 1 miliar atau subsider 1 bulan penjara.

Majelis hakim yang diketuai Achmad Irfir Rohman dengan anggota John Sea Desa dan Maulana Abdulah menilai Fidelis terbukti bersalah dalam kepemilikan 39 batang ganja.

Fidelis dinilai memenuhi unsur dalam Pasal 111 dan 116 UU nomor 35 tentang Narkotika.

“Dalam memutuskan, majelis hakim memperhatikan tiga hal, yaitu yuridis, sosiologis dan filosofis. Ketiganya harus memiliki porsi yang seimbang,” ujar Irfir.

Vonis ini lebih berat dari tuntutan jaksa. Sebelumnya oleh jaksa, Fidelis dituntut lima bulan penjara dan denda Rp 800 juta subsider satu bulan kurungan.

Vonis yang dijatuhkan menuai pro dan kontra di banyak kalangan. Banyak yang menilai vonis tersebut tidak adil untuk seorang Fidelis Ari.

Salah satunya adalah tulisan Antonius Made Tony Supriatma, peneliti dan pengamat masalah sosial politik.

Tulisan ini sudah dipublikasikan di akun media sosial facebook miliknya.

Berikut isi tulisannya:

Fidelis Arie Sudewarto (2): Kira-kira sepuluh hari lalu, saya menulis soal Fidelis untuk IndoProgress. Dia diadili karena membuat ekstrak minyak ganja untuk kesembuhan istrinya yang menderita penyakit Syringomyeila.

Dalam persidangan, Fidelis menyampaikan nota pembelaan yang sangat personal. Dia mengungkapkan bagaimana dia sampai pada keputusan untuk mengobati istrinya. Dia melakukan riset sendiri dan melakukan percobaan untuk mengekstrak ganja.

Hari ini Majelis Hakim di PN Sanggau sudah memutuskan perkara ini. Majelis menjatuhkan hukuman 8 bulan penjara dan denda sebesar 1 miliar (subsider 1 bulan kurungan).

Fidelis adalah seorang pegawai negeri. Tentu dia akan kehilangan pekerjaan kalau dia harus masuk penjara dalam waktu selama itu. Dia sudah kehilangan istrinya, yang meninggal 32 hari sejak dia ditangkap. Dia menanggung dua orang anak.

Majelis hakim mengaku bahwa keputusan mereka sudah mempertimbangkan aspek yuridis, sosiologis, filosofis. Kita tidak tahu apa artinya itu. Belum ada media yang memuat secara lengkap putusan hakim itu.

Untuk saya keputusan ini menarik. Dia bisa diperdebatkan secara intelektual — tidak saja oleh ahli hukum namun juga bidang-bidang ilmu-ilmu sosial lainnya.

Secara juridis tentu ada argumen bahwa ganja adalah barang terlarang. Fidelis dihukum karena melanggar pasal 111 dan 116 UU nomor 35 tentang Narkotika. Pasal 111 intinya adalah menanam apa yang disebut narkotika; dan pasal 116 mengatur tentang akibat dari pemberian narkotika — seperti jika menyebabkan kematian.

Untuk saya yang hanya belajar soal-soal yang amat elementer dalam hukum Indonesia, UU ini boleh dikatakan sangat ganjih (shaky). Orang dihukum jika “tanpa hak atau melawan hukum menanam, memelihara, memiliki, menyimpan, menguasai, atau menyediakan Narkotika Golongan I dalam bentuk tanaman” dan “menanam, memelihara, memiliki, menyimpan, menguasai, atau menyediakan Narkotika Golongan I dalam bentuk tanaman.”

Hukum tidak pernah secara tegas menentukan apakah “hak” itu? Apakah menyelamatkan nyawa atau memperpanjang hidup seseorang dengan narkotika tidak bisa disebut sebagai ‘hak”? Satu-satunya yang mungkin memberatkan Fidelis adalah kesalahan prosedural — yakni bahwa dia tidak meminta ijin (yang kemungkinan besar tidak akan diijinkan) untuk menanam ganja.

Persoalan kedua adalah klaim soal sosiologis. Saya tidak tahu majelis hakim ini mengutip tinjauan sosiologis yang mana. Apakah ganja adalah sesuatu yang dianggap ‘social malice’ (sesuatu yang bisa membangkitkan keburukan dalam tatanan sosial)? Bukankah efek ganja itu sama dengan alkohol, yang secara tradisional juga dikonsumsi masyarakat? Bukankah ganja juga dipakai secara tradisional dalam beberapa kebudayaan di Nusantara?

Yang ketiga adalah yang saya kira paling penting yakni soal filosofis. Saya kira perdebatan disini adalah soal etik. Apakah mempergunakan sesuatu yang dianggap buruk untuk menyelamatkan atau memperpanjang nyawa manusia itu salah? Pondasi dari hukum modern adalah etik. Dan etik sedikit banyak mengandalkan akal sehat atau common sense. Bukankah secara akal sehat menyelamatkan nyawa manusia itu adalah prinsip etis tertinggi?

Untuk saya, dalam soal filsofis (etik) yang mengandalkan akal sehat, Fidelis tidak bisa dihukum. Apalagi dengan melihat fakta bahwa jika dia dihukum maka dia akan kehilangan pekerjaan dan kemungkinan akan menjatuhkan fungsi dia sebagai ayah. Nasib kedua anaknya menjadi taruhan.

Saya sudah memperlihatkan secara amat singkat bahwa penyebab Fidelis dihukum sangat ganjih. Akibat dari penghukuman dia juga bisa berkepanjangan dan berpotensi merusak beberapa kehidupan lain (kehidupan anaknya, misalnya).

Kasus ini sangat merangsang secara intelektual untuk diperdebatkan. Sekalipun demikian, kita harus kembali pada persoalan dasar. Bahwa ada yang menjadi korban dari kesempitan berpikir ini. Dan, akibatnya sangat mematikan untuk yang menjadi korban.

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional