Menu

Ulama itu Harus Menjadi Penyejuk, Bukan Sebaliknya

  Dibaca : 437 kali
Ulama itu Harus Menjadi Penyejuk, Bukan Sebaliknya
Ulama itu Harus Menjadi Penyejuk, Bukan Sebaliknya

Kejadian khotbah Idul Fitri di Wonosari menyisakan sesal bagi mayoritas umat muslim di Indonesia.

Kala semua umat Islam merayakan hari kemenangan dan saling bermaaf-maafan, khotbah yang terkesan tendesius menyerang pemerintah dan kepolisian, membuat perayaan Idul Fitri di Wonosari sedikit ternoda.

Jamaah Salat Id sempat menunjukkan kekecewaan dengan meninggalkan lokasi Salat sebelum khotbah berakhir.

Hal seperti ini seharusnya tak boleh terjadi lagi. Pemerintah saat ini sedang berusaha sekuat tenaga untuk mempersatukan masyarakat yang sempat terkotak-kotak karena politik.

Ulama seharusnya menjadi penyejuk untuk mengajarkan kebaikan kepada umat, bukan malah sebaliknya.

Memang tak bisa dipungkiri saat ini, garis status antara penceramah, ustaz dan ulama tak lagi jelas.

Banyak orang yang mengaku diri ulama namun tak mengerti hakikat dan fungsi ulama. Ulama itu tercermin dari cara bertutur dan bersikap, yang akan selalu diteladani.

Namun kini banyak orang yang mengaku ulama justru selalu mengedepankan perbedaan dalam ceramah yang justru menciptakan sekat dan jurang pemisah.

Perbedaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tak boleh memecah belah umat, namun justru harus menjadi perekat dan pemersatu.

Perbedaan memang diciptakan sebagai kodrati manusia. Namun yang terpenting adalah bagaimana manusia saling menghormati perbedaan, tidak memaksakan dan membuat orang lain merasa mulia.

Kejadian serupa pernah dicontohkan dua Ulama besar, Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Buya Hamka) yang merupakan tokoh Muhammadiyah dan KH. Idham Chalid  yang merupakan tokoh Nahdlatul Ulama.

Saat itu keduanya pernah satu kapal saat hendak melaksanakan ibadah haji. Ketika tiba waktu Salat Subuh berjamaah, KH. Idham Chalid yang menjadi imam, pada rakaat kedua tidak membaca doa Qunut.

Padahal doa Qunut di kalangan NU selalu dilakukan.

Usai Salat, Buya Hamka bertanya mengapa KH Idham Chalid tidak membaca Qunut.

Jawabannya sungguh menyejukkan,

“Saya tidak membaca doa Qunut karena yang menjadi makmum adalah Pak Hamka. Saya tak mau memaksa orang yang tak berqunut agar ikut berqunut,” kata KH Idham Chalid.

Keesokan harinya, Buya Hamka gantian menjadi Imam Salat Subuh berjamaah.

Ketika rakaat kedua, Buya Hamka mengangkat kedua tangannya dan membaca doa Qunut.

Bagi kalangan Muhammadiyah, doa Qunut hampir tidak pernah dilakukan.

Usai Salat, KH. Idham Chalid balik bertanya mengapa Buya Hamka membaca doa Qunut.

Jawaban yang terlontar pun kembali membuat para jamaah kagum.

“Saya mengimami Pak Kyai Idham Chalid, tokoh NU yang biasa berqunut saat shalat Subuh. Saya tak mau memaksa orang yang berqunut untuk tidak berqunut,” kata Buya Hamka.

Keduanya langsung berpelukan seolah menyampaikan rasa terima kasih dan kekaguman masing-masing.

Banyak mata para Jamaah langsung berkaca-kaca menyaksikan kejadian mengharukan tersebut. bahkan ada yang tak bisa membendung air matanya.

Islam memang seperti itu, tak saling memaksa dan bertoleransi di tengah perbedaan.

Kisah dua tokoh lain, KH Mustofa Bisri (Gus Mus) dan Prof DR Quraish Shihab juga menunjukkan sikap ulama sesungguhnya.

Mereka berdua selalu mengeluarkan ucapan yang menyejukkan bukan memecah belah umat. Sikap mereka pantas diteladani.

Itu juga yang dituliskan Pastor Kopong MSF, tokoh Katolik yang merupakan Gusdurian Kalimantan Timur.

Pastor Kopong MSF mengamini pernyataan Gus Mus tentang moderat itu islam, Islam itu moderat. Tidak ada Islam moderat, Islam Radikal dan lain-lain.

Semua agama bisa menjadi radikal ketika tidak mampu merendahkan diri di hadapan Tuhan dan sesama.

Selanjutnya dia mengiyakan pernyataan makna kafir yang menurut Quraish Shihab adalah mereka yang mengingkari agama, mengingkari aqidah Islam, tidak Salat, tidak membela kebenaran.

“Nabi berkata, yang mengkafirkan orang, dia adalah kafir,” kata Quraish Shihab.

Katolik pun menurutnya bisa menjadi kafir ketika mengingkari ajaran agama Katolik, tidak rajin berdoa, munafik, kikir.

Selanjutnya dia terkesan dengan simbol tanah untuk mengajarkan toleransi. Toleransi akan tercipta jika semua manusia menyadari diciptakan dari tanah agar tetap rendah hati.

Tanah yang berada di dasar dan selalu diinjak tapi dibutuhkan semua mahluk dan bersifat menumbuhkan tumbuhan.

Tanah juga merupakan perlambang tanah air yang harus selalu dibela dan dicintai.

Hanya mereka yang tidak waras atau tidak cinta tanah air yang ingin merusak kedamaian antar anak bangsa.

Terakhir, dia kagum dengan pandangan jika persahabatan itu bukan interaksi dua badan namun juga kesepahaman hati dan pikiran.

Persahabatan harus melihat manusia sebagai manusia dan tetap menjaga kemanusiaannya.

Persahabatan juga harus seperti melihat sosok diri sendiri terhadap orang lain. Sahabat adalah Anda.

Penghakiman dan merasa paling benar sering membuat manusia tidak mampu menjaga kemanusiaan sesama.

Hal ini juga sudah diingatkan budayawan kondang Indonesia, Emha Ainun Najib.

“Kebenaran itu tidak untuk dibawa keluar dari diri kita. Tetapi begitu yang keluar dari diri kita, yang kita bawa bukan kebenaran. Yang kita bawa adalah kebaikan, keindahan, kemuliaan dan upaya-upaya agar nyaman satu sama lain, kita dengan semua orang di sekitar kita. Jadi kebijaksanaan dan kearifan, bukan kebenaran yang kita bawa keluar,” katanya.

Hal inilah yang melahirkan benih perselisihan dan bibit pertengkaran.

Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Konghucu dan semua ajaran yang ada hakikatnya mengajarkan kebenaran dan kebaikan.

Jika semua yakin akan kebenaran agama, biarlah perbedaan itu tidak merusak persaudaraan dan kedamaian yang ada.

Biarlah perbedaan itu menjadi misteri-NYA. Karena memang itu kehendak-NYA sedari awal menciptakan bumi ini, khususnya Indonesia.

Biarlah manusia tetap memanusiakan dan menjaga kemanusiaan manusia lain, bukan sebaliknya.

Banyak bangsa lain yang selalu mengagumi Indonesia dengan kerukunan, toleransi dengan Pancasilanya meski memiliki beragam perbedaan.

Sementara kita, yang terlahir di bumi Indonesia masih sering lalai dan lupa arti mencintai Indonesia dengan nilai Pancasilanya.

Penulis: Franky Guntur Tangkudung

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional