Menu

Mari Kembali ke Fitrah, Indonesia Damai

  Dibaca : 293 kali
Mari Kembali ke Fitrah, Indonesia Damai
Mari Kembali ke Fitrah, Indonesia Damai

Hari masih terlihat gelap, pancaran fajar belum terlihat. Namun lalu lintas sudah ramai. Kalimat Takbir, Tahlil dan Tahmid terus berkumandang usai Salat Subuh, Ahad (25/6/2017).

Hari itu umat Islam di seluruh dunia merayakan kemenangan setelah melewati ibadah di bulan Ramadan.

Fajar mulai menyingsing, terik mentari mulai terpancar. Masjid Istiqlal terlihat disesaki ratusan ribu orang untuk menjalankan Salat Idul Fitri.

Di seberang Masjid terbesar di Asia Tenggara tersebut, Gereja Katedral milik umat Katolik dengan penuh kasih menyediakan lahan depannya untuk tempat parkir untuk para saudaranya yang datang Salat Id.

Bukan hanya itu, wujud toleransi dan kecintaan umat Katolik terlihat ketika mengundurkan jadwal misa mingguan karena ingin memberikan kesempatan umat Islam khusyuk menjalankan ibadahnya.

“Pengumuman. Sehubungan dengan hari Raya Idul Fitri & Shalat Id, halaman Gereja Katedral Minggu, 25 Juni 2017 diubah menjadi: Pagi hari (pukul 10.00-12.00) dan sore hari seperti biasa (pukul 17.00-19.00),” begitu isi pengumuman yang disebarkan melalui akun facebook resmi Gereja Katedral Jakarta.

“Bertetangga yang baik dan tulus sebagai sesama anak bangsa dan saling mendukung dalam bertetangga, untuk saling menghormati dan ikut bergembira di hari yang Fitri,” tambah Kepala Paroki Gereja Katedral Jakarta Romo Hani Rudi Hartoko SJ.

Ketika waktu menunjukkan pukul 07.19 WIB, seorang lelaki baya naik ke atas mimbar untuk memberikan ceramah Idul Fitri.

Dia adalah Prof DR Quraish Shihab, mantan menteri Agama, cendekiawan muslim dan juga ahli tafsir Alquran.

“Dalam kebangsaan dan kewarganegaraan, tidak wajar ada istilah mayoritas dan minoritas karena semua telah sama dalam kewargaan negara dan lebur dalam kebangsaan yang sama,” kata Ustaz yang memiliki pertalian darah dengan Nabi Muhammad SAW dan berhak menyandang gelar Habib namun enggan memakai gelar tersebut.

Menurutnya, Allah memang menghendaki manusia di bumi untuk berbeda namun harus saling menyayangi dalam tujuan yang sama.

“Seperti kesatuan suami isteri yang berbeda jenis kelamin namun mereka harus menyatu. Tidak ada lagi yang berkata ‘saya’ tetapi ‘kita’. Mereka sama-sama hidup, sama-sama cinta serta sama-sama menuju tujuan yang sama,” tambah Shihab.

Isi khotbah Idul Fitri Shihab memang mengingatkan kita pada kondisi bangsa Indonesia terkini. Kehidupan Masyaarakat Indonesia kini sarat dengan ujaran kebencian dan permusuhan antar anak bangsa.

Ulama dan para pimpinan agama seharusnya menjadi penyejuk untuk menyatukan umat bukan sebaliknya.

Jangan lagi ada permusuhan atas nama minoritas, suku atau agama. Bangsa ini didirikan atas atas perjuangan dan kesepakatan semua tokoh lintas etnis dan lintas agama.

Hari raya Idul Fitri seyogyanya menjadi momen bangsa Indonesia untuk saling memafkan dan kembali berpegangan dan berangkulan dalam kedamaian.

Mungkin ini momen yang tepat untuk kembali ke fitrah, indonesia yang damai.

Segala keragaman dan perbedaanlah yang menjadikan Indonesia bangsa besar dan kuat, bukan sebaliknya.

Agama adalah hubungan vertikal kita dengan Sang Pencipta, yang selalu mengajarkan kebaikan, kebenaran, cinta dan kasih.

Tuhan tak pernah mengajarkan kita untuk membuat kita selalu sama, apalagi membenarkan diri atas nama agama untuk menyalahkan dan berbuat jahat kepada umat ciptaan-NYA yang lain.

Biarlah itu selalu menjadi urusan dan misteri-NYA.

“Kalau Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan- Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.” (Al-Ma’idah 48).

Penulis : Franky Guntur Tangkudung

 

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Protected by Copyscape

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional