Menu

Kriminalisasi Ulama atau Ulamanisasi Kriminal?

  Dibaca : 670 kali
Kriminalisasi Ulama atau Ulamanisasi Kriminal?
Kriminalisasi Ulama atau Ulamanisasi Kriminal?

Penetapan tersangka Rizieq Shihab dalam kasus percakapan berkonten pornografi disambut tuduhan miring kepada penegak hukum dan pemerintah.

Rizieq Shihab disebut sengaja dikriminalkan karena merupakan seorang ulama dan sering berseberangan dengan pemerintah.

Rizieq kemudian memilih bersembunyi di Arab Saudi tak ingin mengikuti porses hukum di Indonesia.

Ironisnya, Firza Husain ‘partner’ Rizieq Shihab dalam percakapan mesum yang ramai beredar kini dengan kesatria mengikuti proses hukum.

Firza yang seorang wanita seolah menyindir Rizieq dan mengajarkan arti kata maskulin dan bertanggung jawab.

Benarkah penetapan tersangka Rizieq Shihab adalah bentuk kriminalisasi ulama?

Mari kita tilik lebih dalam…

Penetapan Rizieq Shihab sebagai tersangka oleh pihak kepolisian dalam kasus pornografi adalah kali kedua.

Sebelumnya Rizieq sudah menjadi tersangka pada kasus penghinaan Pancasila.

Rizieq Shihab juga masih menunggu proses hukum dari tujuh kasus lain yang dilaporkan. Mayoritas kasus yang membelit Rizieq disertai dengan bukti video yang sahih.

Dari sembilan kasus yang membelit Rizieq, sulit rasanya lolos dari jeratan hukuman penjara.

Ungkapan pernyataan kriminalisasi ulama terkesan dihembuskan para pendukung dan pihak yang dekat dengan Rizieq semata.

Pertemuan Amien Rais dan para petinggi PKS di Arab Saudi seolah menjawab kesan tersebut. Tak bisa dipungkiri selama ini dua pihak tersebut dikenal dekat dengan Rizieq.

Amien Rais bahkan dengan gamblang menyebut pertemuannya dengan Rizieq membahas soal isu kriminalisasi ulama.

Sama halnya dengan Rizieq, posisi Amien Rais kini sedang tersudut ketika namanya disebut menerima aliran dana korupsi Alat kesehatan (Alkes) dalam kasus hukum mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari.

Namun, pernyataan tiga pimpinan institusi negara serentak membantah tuduhan kriminalisasi ulama tersebut.

Ketua Komnas HAM Imdadun Rahmat sudah menegaskan dalam kasus ini tidak terjadi kriminalisasi ulama. Dia menyangkal pernyataan pribadi yang dilontarkan Natalius Pigai sebelumnya.

Kapolri Tito Karnavian juga dengan tegas menolak jika kasus Rizieq adalah bentuk kriminalisasi. Tito bahkan siap menjelaskan jika dipanggil Komisi III DPR.

Yang terakhir adalah pernyataan panglima TNI Gatot Nurmantyo yang menyebut orang yang hendak memecah belah bangsa bukan merupakan ulama.

Pernyataan ini jelas menyindir dan menohok Rizieq Sihab yang selama ini dituding menjadi pemecah belah kerukunan bangsa Indonesia.

Ulama sejatinya adalah orang yang ahli dalam hal atau dalam pengetahuan agama Islam, yang Rahmatan Lil Alamin.

Kini banyak yang menilai status ulama terlalu gampang disematkan kepada sejumlah orang, padahal mereka baru ada di tingkatan penceramah.

Ulama seharusnya tak akan melanggar hukum baik dalam hukum Islam atau hukum Indonesia yang memang searah dan bertalian.

Kita mungkin lupa banyak kasus  hukum yang sejak dulu menerpa beberapa penceramah yang sudah menyebut dirinya ulama.

Solmed, Neno Warisman dan Guntur Bumi adalah tiga nama yang pernah berurusan dengan hukum karena tindakan mereka.

Ada juga orang yang mengaku ulama justru dihina karena perilakunya dalam berumah tangga.

Ada juga perilaku AlHabsyi  yang dihujat kaum wanita karena melakukan kebohongan selama bertahun-tahun kepada istrinya.

Terbaru, pelaporan Yusuf Mansur kepada pihak kepolisian untuk kesekian kalinya terkait dugaan penipuan.

Publik juga masih ingat sikap Munarman, petinggi FPI lain yang menyiramkan minuman kepada Thamrin Tomagola karena kalah berdebat saat siaran langsung di salah satu stasiun televisi.

Kini Munarman sedang menghadapi kasus hukum di Polda Bali karena menghina pecalang.

Semua tindakan tersebut jelas bukan mencerminkan sifat dan sikap seorang ulama. Ulama sesungguhnya ada di dalam hati dan perilaku.

Harus diakui, kini banyak orang yang berlindung di balik jubah ulama.

Kini terjadi generalisasi antara sekadar penceramah, bergamis, bersorban, atau berkerudung dengan ulama sesungguhnya.

Persentase ‘ulama karbitan’ ini mereka memang hanya secuil buih di lautan. Namun mereka selama ini mereka lebih terkenal karena kontroversi ucapan dan tindakannya.

Jutaan ulama sejati dan sesungguhnya yang tak banyak terekspos. Memang kebanyakan mereka yang bergelar ulama selalu merendah dan tak mau publikasi.

Merekalah para kyai dan ulama yang ada di lingkungan NU. Status ulama mereka dijawab dengan ucapan dan perilaku baik.

Merekalah kini yang terus menyebarkan benih kebaikan dan semangat bela tanah air di jutaan pesantren.

Mereka tak pernah terjebak kasus hukum, tak pernah menyakiti orang lain apalagi menimbulkan kegaduhan yag berpotensi memecah belah bangsa.

Kini publik menunggu perkembangan kasus Rizieq Shihab. Tampaknya kasus ini akan segera berakhir pascalebaran nanti.

Masyarakat kini harus terampil belajar memilah antara ulama sejati dan ulama karbitan.

Kelak kita akan tahu mana bedanya ulama penyebar kebaikan sesungguhnya dan mana yang sekadar bergamis, bersorban dan mengaku ulama namun mempunyai maksud dan ambisi terselubung.

Penulis : Franky Guntur Tangkudung

 

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional