Menu

Negara tak Boleh Kalah dengan Buronan

  Dibaca : 5503 kali
Negara tak Boleh Kalah dengan Buronan
Negara tak Boleh Kalah dengan Buronan

Penetapan tersangka terhadap Rizieq Shihab dalam kasus dugaan percakapan berkonten pronografi, ternyata mendapat perlawanan.

Dari Arab Saudi, Rizieq berani memberikan ancaman revolusi putih dan menegaskan tak mau kembali ke tanah air sebelum presiden berganti.

Tim kuasa hukum Rizieq bahkan bersumbar kliennya sudah mendapatkan perpanjangan visa setahun ke depan.

Rizieq yang sudah dua kali ditetapkan sebagai tersangka, kini masih bebas menghirup udara segar.

Sembilan kasus hukum yang membelitnya tak cukup menjadi alasan pihak kepolisian untuk segera menjemputnya.

Fitnah dan berita hoax justru kini menghujam ke tubuh kepolisian Republik Indonesia yang terus dilemahkan.

Citra kepolisian yang dinakhodai Tito Karnavian perlahan mulai tergerus karena terkesan takut menghadapi seorang buronan yang mempunyai massa.

Hal ini tak boleh terus dibiarkan berlarut.

Negara tak boleh terlalu kompromi apalagi kalah dengan buronan yang selalu berlindung di balik jubah agama.

Permohonan red notice yang akhirnya tak dikabulkan justru membuat pendukung Rizieq mendapatkan amunisi baru untuk menyerang polisi.

Seperti pepatah masih banyak jalan menuju Roma, bukan hanya berharap red notice.

Opsi pencabutan paspor Rizieq tampaknya menjadi pilihan paling masuk akal.

Jika polisi segera berkoordinasi dengan pihak imigrasi dan hal tersebut dilakukan, status Rizieq menjadi ilegal di luar negeri, Undocumented Person.

Dengan status pendatang ilegal Rizieq akan ditahan pihak Arab Saudi atau bahkan langsung dideportasi ke Indonesia.

Hal terburuk jika Arab Saudi tak menggubrisnya, seperti yang terjadi pada kasus buronan kasus BLBI, Anggodo Widjojo atau beberapa kasus di sejumlah negara.

Namun agak riskan bagi Arab Saudi jika mempertaruhkan hubungannya dengan Indonesia hanya untuk seorang Rizieq.

Kerjasama P to P atau bahkan G to G juga bisa dikedepankan. Dengan menjelaskan status Rizieq kepada pemerintah dan kepolisian Arab Saudi mungkin Rizieq akan diserahkan secara sukarela.

Ada juga opsi lain, pemerintah lewat imigrasi bisa mengeluarkan surat penangkalan bagi Rizieq jika akan kembali ke Indonesia.

Dengan begitu Rizieq tak bisa lagi kembali ke Indonesia dan harus terus menetap di negara yang menerimanya.

Ini juga sudah pernah diterapkan pihak imigrasi ketika menangkal puluhan orang yang diduga terlibat perang membela ISIS di Suriah.

Pilihan terakhir yang lebih ekstrim adalah pencabutan WNI yang dimiliki Rizieq jika satu syarat terpenuhi.

Dengan begitu Rizieq resmi tak lagi memiliki hak dan keistimewaan menjadi warga negara Indonesia.

Meski tak menjalani proses hukum dan persidangan, namun hukuman pencabutan WNI dan tak bisa lagi menginjakkan kaki di WNI akan terasa jauh lebih berat.

Kini kita menunggu langkah pemerintah lewat kepolisian dan keimigrasian untuk menyudahi pelarian seorang buronan yang menguras energi bangsa.

Melihat perkembangan kasus Rizieq, tampaknya besar kemungkinan setelah hari raya Idul Fitri, Rizieq Shihab akan segera dijemput oleh pihak kepolisian dari tempat persembunyiaannya selama ini.

Hal ini tentunya mengingatkan kita kolaborasi apik dari keimigrasian dan kepolisian yang menjemput M. Nazarudin dari Kolombia, Agustus 2011 silam.

Bukan hanya itu, ‘gelar’ tersangka pada sejumlah kasus akan kembali disandangkan kepadanya.

Pembelaan sejumlah pendukungnya, kini akan mulai tegas ditindaki. Biar semua itu akan dibuktikan dalam proses hukum.

Jika melihat semua kasus yang menjeratnya, kemungkinan Rizieq tak akan dipenjara berkisar di nol hingga satu persen.

We’ll wait n see…

Penulis : Franky Guntur Tangkudung

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Protected by Copyscape

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional