Menu

Gejala Kanker Serviks dan Pengobatannya

  Dibaca : 395 kali
Gejala Kanker Serviks dan Pengobatannya

Artis Julia Perez meninggal dunia karena kanker serviks (10/6/2017).

Artis cantik serba bisa ini dalam beberapa bulan terakhir harus terbaring di Rumah Sakit berjuang melawan kanker ganas yang menyerang kaum hawa tersebut.

Semasa hidup, Julia Perez getol mengampanyekan bahaya kanker serviks terhadap wanita. Dia juga menegaskan pentingnya wanita menjaga kebersihan bagian intim dan memperhatikan gaya hidup.

Sebenarnya apa itu kanker serviks? Bagaimana gejalanya? Bagaimana juga pencegahan dan pengobatannya?

Kanker serviks biasa disebut kanker leher rahim. Penyebab utamanya atau 99,7% disebabkan oleh human papilloma virus (HPV) onkogenik, yang menyerang leher rahim.

Di Indonesia banyak wanita yang mengabaikan gejala awalnya sehingga ketika terdeteksi, penderita sudah memasuki stadium lanjut atau di atas stadium II.

Pemeriksaan awal/ Penapisan dapat dilakukan dengan melakukan tes Pap smear dan juga Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA).

Kanker leher rahim pada stadium awal tidak menunjukkan gejala yang khas, bahkan bisa tanpa gejala.

Pada stadium lanjut, gejala kanker serviks, antara lain perdarahan post coitus, keputihan abnormal, perdarahan sesudah mati haid (menopause) serta keluar cairan abnormal dari vagina (kekuning-kuningan, berbau dan bercampur darah).

Penyebab utama terjadinya infeksi HPV adalah melalui hubungan seksual berisiko, berhubungan seksual di usia terlalu muda, berganti-ganti partner seks dan tidak menjaga kebersihan area intim wanita.

Ciri-ciri dan gejala kanker serviks.

Flek atau pendarahan di luar jadwal menstruasi, menstruasi lebih panjang dari biasanya, darah menstruasi lebih banyak dari biasanya, mudah terjadi pendarahan, nyeri selama berhubungan seksual, nyeri di sekitar pinggul, perdarahan pasca menopause, keputihan yang tidak biasa, keluar cairan berlebih biasanya berwarna darah dan berbau busuk, kehilangan nafsu makan, berat badan turun drastis tanpa sebab yang jelas, mudah kelelahan, nyeri punggung dan kaki, darah dalam urin, kehilangan kontrol kandung kemih.

Jika sel-sel prakanker atau kanker bisa diketahui secara dini kemungkinan untuk sembuh sangat besar.

Pencegahan terhadap kanker serviks dapat dilakukan dengan program skrinning dan pemberian vaksinasi. Sayangnya, vaksinasi HPV masih terbilang mahal.

Standar pengobatan kanker serviks meliputi terapi: operasi pengangkatan, radioterapi, dan kemoterapi.

Pengobatan kanker serviks tahap pra kanker – stadium 1A adalah dengan: histerektomi (operasi pengangkatan rahim).

Bila pasien masih ingin memiliki anak, metode LEEP atau cone biopsy dapat menjadi pilihan.

Pengobatan kanker serviks stadium IB dan IIA tergantung ukuran tumornya. Bila ukuran tumor tidak melebih 4 cm, disarankan radikal histerektomi ataupun radioterapi dengan/tanpa kemo.

Bila ukuran tumor lebih dari 4 cm, pasien disarankan menjalani radioterapi dan kemoterapi berbasis cisplatin, histerektomi, ataupun kemo berbasis cisplatin dilanjutkan dengan histerektomi.

Selain pengobatan medis, pasien juga dapat melakukan terapi komplementer dengan herbal kanker

Angka harapan hidup setelah didiagnosis kanker serviks, dikelompokkan menurut stadium:

Stadium 1 – 80-99 persen

Stadium 2 – 60-90 persen

Stadium 3 – 30-50 persen

Stadium 4 – 20 persen

Penulis : Franky Guntur Tangkudung

(dari berbagai sumber).

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional