Menu

Fatwa MUI tak Cukup untuk Mereka

  Dibaca : 218 kali
Fatwa MUI tak Cukup untuk Mereka

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan Fatwa dalam bermuamalah melalui Media Sosial, Senin (05/2017).

Intinya, dalam bermedsos MUI menekankan untuk saling mempererat persaudaraan (ukhuwah) Islamiyah, wathaniyah (kebangsaan) dan insaniyah (kemanusiaan).

Dalam fatwa tersebut diharamkan segala bentuk bullying, ujaran kebencian, dan permusuhan atas dasar suku, agama, ras, atau antar golongan.

Meski terbilang terlambat, langkah ini harus diapresiasi. Kondisi perpecahan di media sosial makin hari semakin parah.

Sayang fatwa tersebut tak signifikan pengaruhnya, terlebih kepada kelompok gagal otak. Menukil istilah medis gagal jantung, mereka memang layak disebut gagal otak.

Gagal jantung adalah kondisi saat otot jantung menjadi sangat lemah sehingga tidak bisa memompa cukup darah ke seluruh tubuh.

Sama halnya otak mereka yang sangat lemah dan tidak bisa menjalankan 14 fungsinya terutama terkait cara berpikir dan sistem syaraf.

Bentuk bumi yang bulat bisa berganti menjadi datar di pemikiran mereka. Jika ada yang coba mengingatkan langsung disambut dengan kata munafik, kafir, PKI atau sejenisnya.

Lihat saja, di saat fatwa tersebut disosialisasikan ternyata masih banyak bertebaran berita fitnah yang luar biasa kejam.

Yang teranyar adalah berita Presiden Jokowi yang berbuka puasa bersama di pos polisi dan menjadi Imam Salat Magrib yang kemudian menjadi berita fitnah.

Dalam grup mereka, hal tersebut disebut sebagai pencitraan dan kebohongan. Mereka menyampaikan alasan, jam di ruangan itu menunjukkan siang hari.

Berita tersebut langsung diikuti cacian dan makian untuk orang nomor satu republik ini, sebuah hal yang sangat di luar batas.

Dua tokoh yang selama ini getol memerangi berita hoax, Kapolri Tito Karnavian dan Ketua PBNU Said Agil Siraj juga terus mendapat cacian, makian dan penghinaan dalam grup mereka.

Fatwa MUI memang tak cukup untuk membuat mereka kembali ke pemikiran dan perasaan normal. Hati dan otak mereka terlalu dipenuhi kebencian.

Postingan mereka sudah di luar batas, dan sangat berpotensi menimbulkan gesekan horizontal.

Pemerintah melalui kementerian Kominfo tak bisa lagi berharap atau sekadar mengandalkan fatwa MUI.

Harus ada tindakan cepat dan tegas. Kementerian Kominfo hingga dinas di Kabupaten/Kota beserta puluhan ribu relawan TIK-nya harus turun tangan.

Segera lakukan perang memblok situs intoleran, grup dan akun yang menjadi tempat berkoordinasinya kaum gagal otak ini.

Kementerian harus membackup penuh pihak kepolisian lewat tim cybernya memerangi kelompok para penebar kebohongan dan kebencian.

Jika perlu libatkan petinggi media sosial yang berada di Indonesia atau wilayah Asia Tenggara.

Libatkan juga tokoh agama yang kapabel dan kredibel dari Nahdlatul Ulama (NU) untuk mengambil alih tempat ibadah yang selama ini sudah ‘tercemar’.

Hal ini juga tentunya harus ditunjang dengan ‘amunisi’ anggaran yang memadai karena ‘perang’ tersebut akan berlangsung alot.

Negara tak boleh takut apalagi kalah dengan intimidasi mengatasnamakan massa atau agama.

Semoga…

Penulis : Franky Guntur Tangkudung

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Protected by Copyscape

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional