Menu

Penetapan Alfian Tanjung Sebagai Tersangka

  Dibaca : 211 kali
Penetapan Alfian Tanjung Sebagai Tersangka

Ketua umum ikatan cendekiawan Musilm Indonesia, Jimly Asshiddiqie berkata bahwa berdakwah merupakan sebuah kegiatan untuk mengajak dalam kebaikan. Sehingga sudah seharusnya seorang ulama hendaknya memperhatikan terlebih dahulu bahan yang hendak disampaikan pada saat ceramah.

Kalimat tersebut dikatakan menanggapi ditangkap dan ditetapkannya Ustad Alfian Tanjung sebagai seorang tersangka berikaitan mengenai pengujaran kebencian. Jimly berkata kepada wartawan di kantor DKKP, Gedung Bawaslu, di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat pada 31 Mei 2017 bahwa “ulama sudah seharusnya ketika ceramah harus berpikir terlebih dahulu.

Sudah seharusnya dakwah itu bukan hanya soal menyampaikan, tetapi juga tabligh juga seharusnya mengajak. Tabligh sendiri sifatnya sepihak, tetapi jika dakwah adalah melibatkan orang banyak.”

Jimly yang juga merupakan Ketua dari DKKP merasa khawatir jika kebebasan berbicara yang tidak menghormati orang lain maka dapat menimbulkan banyaknya perpecahan. Dia juga setuju dengan adanya proses hukum yang dilakukan kepada ustad Alfian Tanjung.

Solusi dari masalah tersebut adalah dengan melalui hukum. Jika dibiarkan maka akan terjadi seperti yang di Media Sosial, semua orang menghujat. Karena di Media Sosial, semuanya menyembunyikan identitasnya sehingga dapat berani mengeluarkan apa saja yang ingin dikatakannya.

Hal ini menjadi tidak sehat untuk kehidupan beradab. Seharusnya para penceramah seperti ulama dididik mengenai bagaimana seharusnya bertutur. Jimly juga menghimbau bagi pihak yang disalahkan atas tuduhannya dalam melakukan penyebaran atau ujaran kebencian sebaiknya mengikuti proses hukum yang sudah berlaku.

Proses hukum yang ada akan dapat membuktikan bahwa ceramah yang telah dilakukan oleh ustad Alfian tanjung yang mengandung ujaran atau penyebaran mengandung kebencian atau tidak. Dia mengatakan harus adanya proses pengadilan, karena belum tentu Alfian Tanjung bersalah atau tidak.

Argumen atau perbedaan pendapat diperbolehkan asalkan sudah ada dasar hukumnya, sehingga tidak dapat dihalangi. Yang menjadi permasalahan adalah adanya kalimat yang bernada menuduh, serta fitnah tersebut juga sudah seharusnya dibuktikan. Ini bukan mengenai pengekangan terhadap ulama tetapi isi dari pidatonya, pihak yang terhina dapat melaporkan.

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional