Menu

Memaafkan Bukan Berarti Melupakan…

  Dibaca : 272 kali
Memaafkan Bukan Berarti Melupakan…
Memaafkan Bukan Berarti Melupakan...

Tanggal 20 Mei 2017 terasa berbeda. Hampir di semua pelosok Indonesia, perayaan kelahiran organisasi Budi Utomo 109 tahun silam ini terasa khidmat.

Mungkin karena keadaan bangsa Indonesia yang kini sedang dilanda ‘badai’ perpecahan yang sangat kencang.

Anak-anak bangsa kini hampir tercerai-berai karena kondisi politik yang ada.

Seruan NKRI harga mati terus bergema dalam setiap perayaan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) tahun ini.

Tak bisa dipungkiri, energi bangsa memang banyak terkuras lebih dari enam bulan terakhir.

Puncaknya adalah ketika seluruh wilayah Indonesia menyaksikan Pilkada DKI Jakarta, padahal DKI Jakarta hanya satu dari 101 daerah yang melaksanakan Pilkada.

Sebagai daerah ibukota, wajar jika Pilkada DKI Jakarta sangat menyita perhatian.

Tetapi kali ini berbeda, yang menguras energi dan melibatkan emosi hampir semua masyarakat Indonesia bukan karena faktor ibukotanya, tetapi  permainan belakang layar yang dilakukan para Timses untuk memenangkan jagoannya.

Yang menjadi keresahan bangsa adalah digunakannya isu agama untuk ‘membodohi’ umat yang kurang pemahaman agamanya.

Menolak menyalatkan jenazah sesama muslim adalah hal luar biasa kejam yang dilakukan.

Hal ini sudah di luar batas kemanusiaan dan nurani, parahnya itu dilakukan atas nama agama Islam.

Belum cukup, memecat pengurus masjid yag berseberangan pilihan politiknya serta mengusir seorang muslim untuk Salat Jumat adalah noda bangsa Indonesia yang akan terus dikenang.

Video ‘melegalkan’ aksi tersebut sudah tersebar luas. Demi kepentingan politik dan setumpuk materi, konsultan politik gubernur-wakil gubernur terpilih, Eep Saefullah rela menggadaikan, menjual bahkan mempermalukan agama Islam.

Dengan pembenaran menurut logikanya, para umat ‘dibodohi’ dan ‘ditakuti’ demi sebuah kemenangan yang sejatinya menjadi ‘kekalahan dan rasa malu’, karena tak disambut dengan karangan bunga dan balon merah putih.

Dalam logika sempitnya, Eep menyimpulkan umat Islam hanya masyarakat yang berada di Jakarta.

Dia tak pernah berpikir, perasaan banyak umat Islam yang berada di daerah yang selama ini berangkulan dengan saudara-saudara Nasrani, Katolik, Budha, Hindu dan Konghucu.

Dia tak pernah berpikir, umat Islam yang menjadi minoritas di daerahnya seperti Medan, Kupang, Bali, Manado, Ambon, Papua dan masih banyak lagi.

KINI, di Hari Kebangkitan Nasional sudah saatnya seluruh anak bangsa kembali bergandengan tangan, melupakan semua luka yang pernah dialami.

Tak perlu terlampau lama meratapi kesedihan, kini saatnya bangkit dengan optimisme membangun NKRI ke depan.

Mayoritas masyarakat Indonesia sudah tahu mana pihak yang selama ini menjadi akar dan sumber pemecah belah bangsa.

Sudah selayaknya juga pemerintah lewat dua alat negaranya Kepolisian dan TNI bersikap tegas, tanpa kompromi.

Jangan sampai semuanya terlambat, karena banyak contoh terbentang di sejumlah negara timur-tengah.

Sayup terdengar, gerakan massa dari Minahasa, Dayak dan beberapa kelompok lainnya. Meski itu diyakini sebagai bentuk kekecewaan semata yang terakumulasi dalam waktu lama.

Sekali lagi, mari kita bangkit menegakkan NKRI dengan penuh maaf meninggalkan kesedihan, kekecewaan dan kemarahan yang tercipta enam bulan terakhir ini.

TAPI, memaafkan bukan berarti melupakan…

Tahun politik kembali akan terbentang di depan kita…

Penulis: Franky Guntur Tangkudung

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional