Menu

Jangan (Lagi) Lukai Hati Warga di Daerah

  Dibaca : 422 kali
Jangan (Lagi) Lukai Hati Warga di Daerah
Jangan (Lagi) Lukai Hati Warga di Daerah

Penolakan dan pengusiran wakil ketua DPR, Fahri Hamzah saat berkunjung ke Manado menyadarkan banyak pihak akan arti kecintaan terhadap NKRI.

Saat itu, masyarakat menolak kedatangan Fahri Hamzah untuk menginjakkan kakinya di kota paling utara Indonesia tersebut.

Dia dinilai sebagai tokoh intoleran dengan beberapa pernyataan kontroversialnya dan melukai hati masyarakat.

Bahkan, para tokoh adat Minahasa -salah satu suku di Sulawesi Utara- turun lengkap dengan baju perang Minahasa, berwarna merah dengan senjata perang tradisionalnya, turut menolak kehadiran Fahri.

Suara memisahkan diri dari NKRI pun sempat terdengar. Namun itu hanya luapan emosi yang selama ini ditahan.

Kemarahan masyarakat di daerah atas situasi di Indonesia memang sangat beralasan.

Berbulan-bulan masyarakat di daerah selalu disuguhi kondisi dengan agenda politik yang terjadi di Ibukota negara, Jakarta.

Demo berjilid atas nama agama, isu kafir dan penodaan agama, Pilkada DKI Jakarta dan beberapa isu lain memantik rasa nasionalisme masyarakat di daerah.

Pernyataan yang keluar dari tokoh nasional seperti Fahri Hamzah dan beberapa tokoh lain mengusik masyarakat di daerah.

Mereka tak rela kedamaian dan persatuan di bumi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tercabik-cabik oleh segelintir orang dan sekelompok kaum intoleran.

Masyarakat di daerah terlalu mencintai NKRI dan tak ingin negara kalah dengan sekelompok orang berjubah agama yang membenarkan tindakan intoleran.

Hal ini bukan hanya terjadi di Manado. Sebelumnya aksi penolakan serupa juga terjadi di Kalimantan Barat. Sama dengan di Manado, masyarakat adat suku Dayak juga turun lengkap dengan baju perangnya.

Hal ini juga bukan karena masalah agama, buktinya Nahdlatul Ulama dengan Banser serta Ansornya dengan tegas menolak dan menindak radikalisme atas nama Islam.

Aksi seperti ini murni suara masyarakat daerah yang mengingatkan histori perjuangan bangsa ini.

Indonesia bukan hanya milik Jakarta atau sekelompok orang.

NKRI adalah harga mati, dari Sabang sampai Merauke. Indonesia ada 34 Provinsi, 1134 Suku bangsa, 6 agama dan berbagai kepercayaan. Indonesia berdasar Pancasila, UUD 1945 dan Bhineka Tunggal Ika.

Masyarakat di daerah selama ini diam bukan mengiyakan, namun mencoba bersabar dengan kondisi ini.

Tak boleh lagi ada tokoh nasional yang memberikan pernyataan mendiskreditkan agama dan suku dengan isu minoritas.

Pemerintah harus bersikap tegas, jangan ada kesan menganaktirikan masyarakat di daerah untuk mencapai kepentingan politik di Jakarta.

Untuk para tokoh nasional bermulut lancang, sudah saatnya berkaca dari kasus penolakan Fahri jika masih ingin bebas melihat keindahan 34 provinsi di Indonesia.

Masyarakat di daerah juga harus didengar dan dihargai.

Jangan lagi menganggap masyarakat di daerah seperti sapi yang bisa dicocok hidungnya dan berdiam diri atas semua yang terjadi.

Masyarakat di daerah juga penuh dengan orang pintar, kritis dan berani.

Masyarakat di daerah pasti akan bereaksi, jika melihat ketidakadilan dan perlakuan diskriminatif terlebih yang akan memecah belah bangsa dan merusak bingkai NKRI.

Tolong dengarkan itu…

Penulis: Franky Guntur Tangkudung

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Protected by Copyscape

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional