Menu

Hakim, Wakil Tuhan Dalam Penegakan Hukum?

  Dibaca : 480 kali
Hakim, Wakil Tuhan Dalam Penegakan Hukum?
Hakim, Wakil Tuhan Dalam Penegakan Hukum?

Vonis dua tahun untuk Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) sudah diketuk majelis hakim PN Jakarta Utara. Ahok diharuskan mendekam di Rutan Cipinang untuk beberapa waktu ke depan.

Ahok divonis telah melakukan penodaan agama Islam karena menganggap Surat Al-Maidah sebagai sumber kebohongan untuk membohongi masyarakat. Menurut hakim, Ahok telah merendahkan dan menghina Surat Al-Maidah ayat 51.

Keputusan itu lebih berat dari tuntutan tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang menuntut hukuman 1 tahun penjara dengan masa percobaan dua tahun.

Dalam tuntutan,  tim jaksa Penuntut Umum (JPU) menggunakan pasal 156 KUHP dan menyatakan Ahok tidak mempunyai niat untuk melakukan penodaan dan penghinaan agama Islam.

Dalam Vonis, Hakim berpendapat Ahok telah sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan permusuhan, penyalahgunaan, atau penodaan terhadap suatu agama sesuai pasal 156a KUHP.

Presiden Joko Widodo, mantan partner Ahok, langsung memberikan tanggapannya.

Dengan wajah datar menjurus menahan emosi, dia meminta semua pihak untuk menghormati keputusan hukum yang sudah dibuat.

Keputusan hakim di tingkat pertama memang belum final, masih ada beberapa proses hukum yang akan dijalani Basuki Tjahaya Purnama bersama tim kuasa hukumnya.

Hakim memang disebut menjadi ‘wakil Tuhan’ dalam supremasi hukum. Masyarakat tak boleh mengomentari keputusan yang sudah dibuat.

‘Kepintaran’ dan ‘kebijaksanaan’ mereka seolah tak bisa disamakan dengan masyarakat Indonesia pada umumnya, termasuk Jaksa Penuntut Umum dan Penasihat Hukum.

Setuju atau tak setuju dengan putusan hakim, masyarakat harus ikhlas menerimanya.

TETAPI, bukankah hakim juga manusia? Bukankah banyak kasus yang akhirnya diakui sebagai proses salah hukum?

Bukankah juga profesi Jaksa dan Pengacara mendapatkan pendidikan hukum berjenjang sama seperti Hakim?

Tak perlu panjang membahasnya…

Mungkin yang lebih tepat, masyarakat Indonesia kembali mengingatkan jika keputusan hakim bukan hanya dipertanggungjawabkan kepada terdakwa, keluarga, kelompok dan simpatisannya.

Keputusan itu akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan, yang ‘diwakilinya’ di dunia.

Karena setiap keputusan hakim yang memberikan kebaikan maupun kesengsaraan kepada orang lain, akan dibalas puluhan bahkan ratusan lipat kali dari Tuhan.

Hati nurani yang akan menjawab semua itu.

Penulis: Franky Guntur Tangkudung

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional