Menu

Predikat Penista Agama Jadi Milik Buni dan Eep

  Dibaca : 23238 kali
Predikat Penista Agama Jadi Milik Buni dan Eep
Predikat Penista Agama Jadi Milik Buni dan Eep

Kasus dugaan penistaan agama yang menyeret Basuki Tjahaya Purnama banyak menguras energi bangsa Indonesia.

Hampir setengah tahun, kasus ini membuka lebar jurang pemisah antar anak bangsa. Ujaran kebencian dan fitnah bertebaran di mana-mana.

Sejak awal, banyak masyarakat Indonesia heran bahkan marah dengan kasus ini. Mereka yakin kasus ini disusupi unsur politik yang besar, untuk kepentingan lebih besar juga.

Mereka menahan amarahnya bahkan memaklumi ketika Presiden Jokowi dan Kapolri Tito Karnavian ‘mengalah’ membawa kasus ini ke pengadilan.

Rasa maklum makin tinggi ketika melihat hubungan Buni Yani, pengupload video Ahok, dengan sejumlah tokoh yang selama ini berseberangan dengan Ahok.

Yani mengupload video yang dipangkas menjadi 31 detik dari aslinya berdurasi 1 jam 40 menit. Dia juga menuliskan caption dengan nada provokatif.

TAK cukup sampai di situ, masyarakat kembali dibuat marah ketika Pilkada DKI Jakarta, isu agama dan etnis menjadi bahan utama pemenangan pasangan Anies-Sandi.

Adalah Eep Saefullah, konsultan politik pasangan Anies-Sandi yang ‘ketahuan’ menggunakan jaringan masjid menjadi alat pemenangan pasangan nomor tiga.

“Sejumlah khatib, para ulama, ustaz yang mengisi kegiatan-kegiatan di masjid, termasuk dan terutama Salat Jumat, bukan hanya menyerukan ketaqwaan, tapi dilanjutkan dengan seruan-seruan politik… Ingin itu mengalahkan Pak Ahok,” katanya dalam video, seraya mencontoh kemenangan FIS di Aljazair.

Haji Djarot Saeful Hidayat yang seorang muslim, bahkan menjadi korban ‘doktrin sesat’ tersebut ketika diteriaki kafir dan diusir usai menunaikan Salat Jumat di Masjid Jami Al-Atiq, Jaksel, (14/4/17).

Usai pasangan yang dibelanya menang, Eep menganggap isu yang digunakan itu wajar dan kreatif.

Eep menyamakan kemenangan itu dengan kemenangan Presiden ke-35 AS, John Fitzgerald Kennedy atas Richard Milhous Nixon tahun 1960.

Semua hal yang terjadi, justru menjelaskan siapa penista agama sesungguhnya.

Buni Yani dan Eep Saefullah telah memecah umat Islam dan bangsa Indonesia, yang sejak dulu hidup damai berbangsa dalam keberagaman.

Mari kita tilik lebih dalam…

Buni Yani dan Eep Saefullah menyadari tafsir Al-Maidah 51 akan berbeda di kalangan umat Islam.

Keduanya memanfaatkan ‘keadaan’ untuk menyasar mereka yang pemahaman agamanya kurang untuk didoktrin sesuai keinginan politiknya.

Kini hal itu makin kentara, ketika organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama bersama Banser dan Ansor tegas menunjukkan posisi Islam sebenarnya.

Islam yang Rahmatan Lil Alamin, sekaligus menjadi bagian penjaga NKRI.

NU bersama Banser dan Ansor sadar umat akan terpecah lebih dalam jika kelompok radikal tak segera ditangkal.

Kelompok itu akan terus ‘membodohi’ dan mendoktrin para pemeluk Islam yang kurang pemahaman agamanya.

Eep kemudian menyamakan kemenangan ‘kreatif’ Anies-Sandi dengan kemenangan John F Kennedy atas Richard M Nixon tahun 1960.

Persamaan itu jelas sesuatu yang terlalu dipaksakan.

Kennedy yang seorang Katolik keturunan Irlandia tidak pernah menyerang Nixon yang Protestan, kulit putih, Anglo Saxon di luar batas norma, susila, etika, moral dan adab.

Kemenangan Kennedy justru ditentukan lewat The Great Debate tangal 26 September 1960. (First Kennedy-Nixon Debate, situs YouTube), yang merupakan debat pertama dari empat debat jelang pemilihan Presiden AS tahun 1960.

Saat debat Kennedy tampil meyakinkan mengalahkan Nixon yang terlihat tegang dan pucat, peristiwa yang ditonton 80 juta pemirsa televisi yang ketika itu masih hitam putih.

Hal ini juga yang disadari Eep dan mungkin menjadi masukan Eep kepada Sandiaga Uno untuk absen dalam undangan debat antar Wakil Gubernur di program Rossi, di sebuah stasiun televisi swasta.

Dalam debat resmi KPU, tak ada pertarungan debat antara dua calon wakil gubernur DKI Jakarta yang mungkin bisa saling berargumen tentang pemahaman Islam sesungguhnya.

Bahkan yang makin melenceng, ketika diingatkan sesepuh Muhammadiyah, Buya Ahmad Syafii Maarif untuk menjauhi ormas radikal, Eep menyebut Anies Baswedan harus seperti Nelson Mandela.

Menurut Eep pasangan ini harus melakukan rekonsiliasi dengan tuntas dan merangkul semua Ormas.

Terakhir, Eep menyebut Ahok pemimpin yang melayani tapi tidak  baik. Dia menganalogikan Ahok yang memakinya saat membawa sarapan.

“Bang**t! Mali*g! Itu sarapan kamu! Makan situ,”

Eep kembali memaksakan perumpamaan yang keliru untuk membenarkan pola pikirnya.

Akan lebih bijak jika Eep menganalogikan posisi itu dengan sikap orang tua yang  sudah memberikan semua fasilitas dan materi kepada anaknya agar bisa bersekolah dengan baik.

Namun satu saat ketahuan, ternyata anaknya suka bolos, sering mabuk-mabukan, memakai narkoba, mencuri dan berzinah menggunakan semua fasilitas itu.

Eep mungkin pura-pura lupa sosok Ali Sadikin yang ‘gemar bermain tangan’ ketika sesuatu tak beres dilihatnya.

Namun Ali Sadikin menjadi gubernur yang berhasil membangun Jakarta dan  sangat dicintai rakyatnya.

Eep mungkin harus berkeliling Indonesia, terlebih ke bagian di luar pulau Jawa, yang banyak kaum minoritasnya.

Melihat bagaimana kegeraman masyarakat atas ulahnya, yang tersakiti disebut kafir atau melihat kelompok radikal mendapat tempat yang nyaman di sisi Anies- Sandi.

Tak semestinya politik itu menghalalkan segala cara.

Politik itu harusnya seperti janji sebuah pernikahan. Janji akan melayani tulus tanpa memutarbalikkan fakta, apalagi mencari pembenaran atas nama agama.

Tidak memaksakan sesuatu melewati koridor hanya untuk memenangkan hati seseorang, meski harus melukai banyak orang.

Sebagai penutup, analogi yang tepat untuk rasa marah dan sakit yang dialami banyak warga Indonesia  adalah seperti hati seorang wanita yang terluka ketika diselingkuhi, lalu ditinggalkan bersama anak yang masih kecil.

Tak cukup, kesedihan wanita bertambah ketika mendengar kabar suaminya melamar dan akan menikahi wanita lain meski belum resmi bercerai.

Tapi sang suami tetap mencari pembenaran, mengatakan dirinya berselingkuh karena bosan dengan sarapan yang disuguhkan, juga pengantarnya, setiap paginya.

Sang suami malah melakukan pembenaran mengatasnamakan agama dengan menikah di tanah suci.

Eep mesti belajar mengerti rasa sakit dan marah yang dialami oleh banyak masyarakat Indonesia.

Termasuk rasa marah dan sakit yang pernah dialami Rico Ceper dan Sarah Santi.

Tabea…

Penulis: Franky Guntur Tangkudung

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional