Menu

Data PE Jokowi Dikritik Ekonom Asing

  Dibaca : 422 kali
Data PE Jokowi Dikritik Ekonom Asing
Data PE Jokowi Dikritik Ekonom Asing

Pernyataan Presiden Indonesia saat berada di Hongkong soal pertumbuhan ekonomi Indonesia mendapat kritik tajam dari ekonom Jake Van Der Kamp.

Waktu itu, Jokowi mengklaim pertumbuhan ekonomi Indonesia terbesar ketiga di dunia setelah India dan China.

Dalam tulisan di kolom bisnis South China Morning Post (SCMP), Jake mengkritik data yang dimiliki Presiden Jokowi salah.

Catatan itu dimuat dalam media massa terbesar berbahasa Inggris di Hong Kong itu, dengan judul ‘Sorry President Widodo, GDP rankings are economists’ equivalent of fake news’.

Dari data yang dimiliki Jake, Indonesia berada di peringkat keempat belas dalam hal pertumbuhan ekonomi di antara seluruh negara di dunia. Bahkan dari data yang dimiliki Jake posisi Indonesia kalah dari Timor Leste.

“Di Asia saja, ada 13 negara dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang 5,02 persen. Mereka adalah India (7,5 persen), Laos (7,4 persen), Myanmar (7,3persen), Kamboja (7,2 persen), Bangladesh (7,1 persen), Filipina (6,9 persen), China (6,7 persen), Vietnam (6,2 persen), Pakistan (5,7 persen), Mongolia (5,5 persen), Palau (5,5 persen), Timor-Leste (5,5 persen) dan Papua Nugini (5,4%),” tulis Jake.

Dia menambahkan jika melihat negara dengan jumlah penduduk di atas 200 juta, Indonesia kalah dari India, China dan Pakistan.

“Jangan biarkan fakta menghalangi cerita yang bagus. Politisi melihat angka produk domestik bruto ini sebagai kartu laporan atas prestasi mereka. Terima kasih atas acaranya Joko, tapi ada banyak hal yang harus dilakukan dengan waktumu daripada membuat PDB konyol,” sindir Jake.

Kritikan dari pengamat ekonomi asing tersebut disayangkan Wakil Ketua umum Partai Gerindra, Arief Poyuono.

Menurutnya, Cibiran sinis Ekonom Jake Van Der Kamp di kolom bisnis media terkemuka SCMP terkait pernyataan Presiden Jokowi akibat informasi yang salah.

“Persoalan yang dihadapi Presiden Jokowi ialah tidak adanya informasi akurat, kredibel dan terpercaya dari para pembantunya, khususnya Kantor Staf Presiden (KSP),” katanya.

Dia menambahkan hal itu telah mempermalukan Presiden Jokowi sebagai pemimpin nasional sekaligus menghilangkan wibawa Indonesia sebagai bangsa.

Kepala Staf Presiden Teten Masduki menanggapi kritikan tersebut meluruskan data yang ada.

Menurutnya, yang disampaikan Jokowi dalam forum tersebut dalam konteks negara anggota G-20.

“Yang disampaikan Presiden Joko Widodo itu bukan di seluruh dunia, tapi di negara-negara G20. Saya enggak tahu apakah terjadi salah kutip (oleh ekonom asing) atau tidak,” jelas Masduki.

Menurut Masduki, yang terjadi hanyalah salah paham karena Jokowi menggunakan slide G20 ketika menyampaikan keterangan soal pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menambahkan, slide yang dipakai Jokowi tersebut tentang pertumbuhan ekonomi negara-negara G20, bukan dunia.

“Ini kan tidak klaim paling tinggi seluruh dunia. Presiden mengatakan pertumbuhan itu dalam konteks negara-negara G20,” ujar Mulyani.

Dari data yang dikeluarkan IMF pada Oktober 2016, perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di nomor tiga dengan 5,3 persen, di bawah India dengan 7,6 persen dan China dengan 6,1 persen.

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Protected by Copyscape

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional