Menu

Hari Buruh, Bakar Bunga dan Aroma Cemburu

  Dibaca : 490 kali
Hari Buruh, Bakar Bunga dan Aroma Cemburu
Pembakaran Bunga di Hari Buruh Beraroma Cemburu

Peringatan Hari Buruh atau lebih dikenal dengan May Day tahun 2017 di Jakarta diwarnai aksi tak terpuji.

Dalam aksi tersebut,  para demonstran membakar puluhan karangan bunga di depan jalan Balai Kota.

Hal ini disayangkan karena hari buruh seharusnya menjadi sarana menyampaikan aspirasi yang berjalan damai dan tertib.

Tuntutan yang dilayangkan sejumlah kelompok buruh mulai dari pencabutan PP 78 Tahun 2015 tentang pengupahan, outsourcing, hingga ancaman era digital, memang sebuah kewajaran.

Secara histori, peringatan hari buruh didasari aksi demonstrasi tanggal 1 Mei tahun 1886. Kala itu, sekitar 400.000 buruh di Amerika Serikat mengadakan demonstrasi besar-besaran untuk menuntut pengurangan jam kerja mereka menjadi 8 jam sehari.

Demonstrasi itu kemudian dibalas polisi dengan rentetan tembakan yang membuat membuat ratusan orang tewas. Para pemimpin aksi pun ditangkap dan dijatuhi hukuman mati.

Aksi itu kemudian diperingati sebagai hari buruh internasional setiap tahunnya.

Namun, aroma iri dan cemburu kuat tercium mengatasnamakan perjuangan buruh seluruh Indonesia dalam aksi pembakaran tersebut.

Ribuan bunga yang dikirimkan ke halaman balai kota yang nyaris menyentuh angka sepuluh ribu, memang merupakan hal luar biasa dan mungkin bisa menimbulkan rasa iri dan cemburu.

Kiriman bunga tersebut merupakan spontanitas warga DKI Jakarta untuk mengapresiasi kinerja pasangan Basuki-Djarot, meski kalah dalam pertarungan Pilkada DKI Jakarta.

Hal ini memang agak di luar nalar, karena semestinya pemenanglah yang harus mendapat karangan bunga.

Ribuan bunga itu merupakan ungkapan cinta dan terima kasih kepada pasangan yang tak genap lima tahun menakhodai ibukota tersebut.

Aksi demonstrasi buruh memang terindikasi disusupi beberapa kelompok yang iri atas sejumlah karangan bunga tersebut.

Ketua Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal menanggapi hal itu, mengatakan aksi pembakaran tersebut untuk meringankan tugas gubernur tekait masalah sampah.

Padahal sebelumnya pasangan Basuki-Djarot sudah ‘meghadiahkan’ ribuan karangan bunga tersebut untuk petugas kebersihan , agar bisa dijual kembali dan mendapatkan penghasilan tambahan.

Sudah menjadi rahasia umum, Said Iqbal merupakan pendukung rival Jokowi dalam Pilpres 2014 lalu.

Bahkan sejak Jokowi masih menjabat gubernur DKI Jakarta, Iqbal selalu mengeluarkan pernyataan tendensius yang menyerang Jokowi-Basuki Tjahaya Purnama.

“Kita enggak mau pilih Jokowi, si bapak upah murah, kita enggak akan mendukung yang pro kebijakan upah murah,” kata Iqbal saat deklarasi dukungan KSPI kepada pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa di Hotel Mega Proklamasi, Senin (2/6/2014).

Akhir tahun 2016, Said Iqbal dipanggil kepolisian terkait isu makar yang melibatkan beberapa tokoh nasional.

Iqbal sempat ingin mengerahkan massa mengatasnamakan buruh untuk berbaur dengan aksi berjilid tiga angka. Mereka ingin melakukan demo ke Istana Presiden meski pada akhirnya tak mendapat izin pihak kepolisian.

Memang aksi tersebut agak disayangkan. Tuntutan yang datang seharusnya murni dari para buruh bukan ditunggangi aktor politik.

Basuki Tjahaya Purnama dan Djarot Saeful Hidayat menegaskan tuntutan kenaikan upah buruh memang sangat dimaklumi. Tapi menurut mereka, ada hal yang jauh lebih penting dan tak disadari sebagian buruh yakni nilai dari nominal yang diterima tersebut.

Sebagai pemerintah, pasangan ini  melakukan berbagai kebijakan agar upah yang diterima bisa menyejahterakan keluarga. Saat ini pemerintah telah bekerja keras untuk mengurangi beban kehidupan para buruh, mulai dari kesehatan, pendidikan dan transportasi.

Cara ini merupakan win-win solution yang akan tetap menyejahterakan buruh, namun tidak mematikan jalannya usaha para pengusaha yang menggaji para buruh tersebut.

“Saya bilang inilah fungsi pemerintah, bagaimana mengatur dan mengadministrasi keadilan sosial, bukan memenuhi kehendak dan membela kebutuhan sebagian orang hanya karena takut dianggap tidak baik,” kata Basuki.

Itu juga sesuai paket kebijakan ekonomi tahap keempat tentang kepastian kenaikan upah minimum provinsi (UMP) tiap tahun.

Dalam kebijakan tersebut, formulasi kenaikan upah buruh dihitung dengan cara UMP tahun berjalan dikalikan hasil penambahan inflasi dan pertumbuhan ekonomi dalam persen.

Kini publik dan para buruh makin gamblang melihat ada benang merah antara ribuan bunga yang dikirimkan, rasa iri dan cemburu atas perlakuan istimewa itu, serta pihak yang ada di belakang aksi pembakaran tersebut.

Tak semestinya aksi tulus memperjuangkan hak buruh dibelokkan dan disusupi kepentingan politik.

Aksi damai buruh pada hari buruh yang  yang sejak tahun 2014 menjadi libur nasional adalah untuk memperjuangkan hak dan kesejahteraan buruh dan keluarga. Aksi ini bukan untuk memperjuangkan kepentingan politik seseorang atau suatu golongan.

Para buruh jangan mau ‘dibodohi’ dengan kalimat retorika untuk kepentingan dan ambisi politik segelintir orang, terlebih menjelang pemilihan presiden.

Penulis :Franky Guntur Tangkudung

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Protected by Copyscape

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional