Menu

Google Rayakan Ulang Tahun Pelukis Affandi

  Dibaca : 238 kali
Google Rayakan Ulang Tahun Pelukis Affandi
Google Rayakan Ulang Tahun Pelukis Affandi

Nama legenda lukis asal Indonesia, Affandi kembali dibicarakan. Hal ini setelah google menampilkan google doodle bertema pelukis bergaya ekpresionis tersebut.

Google lebih memilih tema Affandi dibandingkan perayaan hari buruh di hari yang sama. Hari buruh atau yang dikenal dengan ‘May day’ dirayakan untuk menghormati kelas pekerja baik laki-laki maupun perempuan di seluruh dunia.

Hari buruh sendiri bermula dari Amerika Serikat ketika pada 1886, ribuan pekerja berunjuk rasa di berbagai negara bagian menuntut penerapan 8 jam kerja per hari.

Tanggal 1 Mei diyakini sebagai tanggal lahir Affandi, sehingga jika masih hidup tahun ini adalah ulang tahunnya yang ke-110.

Sebelum menggeluti dunia lukis, Affandi pernah menekuni berbagai bidang pekerjaan termasuk menggambar papan iklan.

Affandi yang bernama lengkap Affandi Koesoema lahir di Cirebon, Jawa Barat. Tanggal lahirnya masih menjadi perdebatan hingga saat ini. Namun banyak yang meyakini Affandi dilahirkan di hari pertama bulan ke lima.

Affandi dikenal sebagai Maestro Seni Lukis Indonesia dan menjadi pelukis Indonesia paling terkenal di dunia.

Affandi terkenal karena gaya ekspresionisnya dan romantisme yang khas.

Pada tahun 1950-an, Affandi banyak mengadakan pameran tunggal di sejumlah negara Asia, Eropa, dan Amerika Serikat.

Affandi juga dikenal sebagai pelukis yang sangat produktif. Hingga akhir hayatnya, Affandi telah melukis lebih dari dua ribu lukisan.

Affandi merupakan putra dari R. Koesoema, seorang mantri ukur di pabrik gula di Ciledug, Cirebon.

Affandi memang dikenal memiliki pendidikan formal cukup tinggi karena memperoleh pendidikan di HIS, MULO, dan AMS yang merupakan sekolah yang hanya bisa dimasuki sedikit anak pribumi.

Meski begitu, Affandi lebih memilih jalur seni karena bakat melukis yang deras mengalir di darahnya.

Pada tahun 1933 saat berusia 26 tahun, Affandi menikah dengan Maryati.

Dari pernikahan dengan Maryati, Affandi dikaruniai seorang putri bernama Kartika Affandi, yang kini juga dikenal mewarisi darah seni ayahnya sebagai pelukis.

Sekitar tahun 30-an, Affandi bergabung dalam kelompok Lima Bandung, yaitu kelompok lima pelukis Bandung. Mereka itu adalah Hendra Gunawan, Barli, Sudarso, dan Wahdi.

Kelompok ini memiliki andil yang cukup besar dalam perkembangan seni rupa di Indonesia.

Pada tahun 1943, Affandi mengadakan pameran tunggal pertamanya di Gedung Poetera Djakarta yang saat itu sedang berlangsung pendudukan tentara Jepang di Indonesia.

Ketika republik ini diproklamasikan 1945, Affandi mendapat tugas membuat poster. Poster yang merupakan ide Soekarno itu menggambarkan seseorang yang dirantai tetapi rantainya sudah putus.

Pelukis Dullah menjadi model dalam gambar yang kemudian dikenal dengan poster  ‘Bung, ayo bung’.

Kata-kata itu merupakan usulan dari penyair Chairil Anwar. Sekelompok pelukis siang-malam memperbanyaknya dan dikirim ke daerah-daerah.

Bakat melukis yang menonjol pada diri Affandi pernah menghadirkan cerita menarik dalam kehidupannya.

Affandi pernah mendapat beasiswa untuk kuliah melukis di Santiniketan, India, akademi lukis yang didirikan oleh Rabindranath Tagore.

Saat tiba di India, Affandi ditolak karena dipandang sudah tidak memerlukan pendidikan melukis lagi. Akhirnya biaya beasiswa yang telah diterimanya digunakan untuk mengadakan pameran keliling negeri India.

Affandi juga termasuk pimpinan pusat Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), organisasi kebudayaan terbesar yang dibubarkan oleh rezim Suharto.

Dia bagian seni rupa Lembaga Seni Rupa bersama Basuki Resobowo, Henk Ngantung, dan sebagainya.

Potret diri Affandi diabadikan dalam perangko Indonesia seri Seniman Indonesia tahun 1997.

Semasa hidupnya, ia telah menghasilkan lebih dari 2.000 karya lukis. Karya-karyanya yang dipamerkan ke berbagai negara di dunia, baik di Asia, Eropa, Amerika maupun Australia selalu memukau pecinta seni lukis dunia.

Affandi meraih gelar Doktor Honoris Causa dari University of Singapore tahun 1974.

Dalam mengerjakan lukisannya, Affandi sering menumpahkan langsung cairan cat dari tubenya kemudian menyapu cat itu dengan jari-jarinya, bermain dan mengolah warna untuk mengekspresikan apa yang ia lihat dan rasakan tentang sesuatu.

Affandi menganut aliran ekspresionisme atau abstrak sehingga seringkali lukisannya sangat sulit dimengerti oleh orang lain terutama oleh orang yang awam tentang dunia seni lukis jika tanpa penjelasannya.

Kini museum Affandi berdiri sejak 1973 di tanah yang menjadi tempat tinggalnya. Sejumlah lukisannya bersama lukisan teman dan keluarganya dipajang di museum tersebut.

Dalam perjalanan karirnya sebagai pelukis, Affandi banyak mendapat penghargaan dari luar negeri.

Penulis : Franky Guntur Tangkudung

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Protected by Copyscape

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional