Menu

Ribuan Bunga dan Sejuta Kata untuk Basuki-Djarot

  Dibaca : 1895 kali
Ribuan Bunga dan Sejuta Kata untuk Basuki-Djarot
Ribuan Bunga dan Sejuta Kata untuk Basuki-Djarot

Pilkada DKI Jakarta sudah selesai dilaksanakan. Hasilnya juga sudah terpampang berulang di sejumlah media. Peraih suara terbanyak sudah terpilih, meski belum ditetapkan.

Namun, ada hal menarik dan baru pertama kali terjadi di Indonesia berkaitan dengan hasil Pilkada DKI Jakarta.

Seminggu usai hari pemilihan putaran ke-2 (19/4/17), Balai Kota atau tempat berkantornya Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama yang kalah dalam pemilihan lalu, kini dipenuhi ribuan karangan bunga.

Bahkan, halaman balai kota di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat tak kuasa lagi menahan derasnya karangan bunga yang terus berdatangan.

Akibatnya, karangan bunga lainnya ditaruh berjejer ke luar hingga ke jalan di depan balai kota.

Bukan hanya itu, ribuan orang setiap harinya memenuhi balai kota hanya untuk mencium, memeluk, berfoto atau berterima kasih kepada Basuki Tjahaya Purnama.

Fenomena ini memang baru pertama kali terjadi di Indonesia.

Idealnya, pemenanglah yang bakal mendapat ucapan simpati dan selamat dari banyak pihak. Tapi kali ini, berbeda.

Pasangan Basuki Tjahaya Purnama dan Djarot Saeful Hidayat mendapat ribuan karangan bunga lengkap dengan jutaan kata dari yang lucu hingga serius.

Ada ucapan terima kasih, ada ungkapan kehilangan, ada ungkapan menguatkan hingga yang bikin haru.

Ribuan karangan bunga yang dikirim ke balai kota, memperlihatkan rasa cinta yang tulus dari warga Jakarta.

Meski pilihannya kalah, para pengirim bunga punya alasan jelas dan logis untuk menjelaskan rasa kehilangan pemimpin yang dicintainya.

Lebih dari itu, aksi kirim bunga ini ‘menampar’ mayoritas pemilih rival Basuki-Djarot dalam PIlkada DKI Jakarta.

Cara ini menunjukkan ‘kecerdasan’ kelompok pendukung Basuki-Djarot yang melakukan unjuk rasa damai penuh cinta tanpa mengerahkan massa.

Unjuk rasa ini tak mengganggu aktivitas masyarakat yang lebih besar, tak menghadirkan kemacetan, dan tak menimbulkan rasa takut buat warga Jakarta.

Unjuk rasa ini pun tak mengharuskan pengamanan dari TNI-Polri yang bisa menghabiskan anggaran ratusan miliar.

Unjuk rasa dengan bunga ini menunjukkan rasa cinta sekaligus rasa marah atas apa yang terjadi.

Basuki-Djarot memang fenomena yang menjadi simbol pemerintahan bersih yang berpihak kepada rakyat.

Pasangan ini menjadi simbol perlawanan kepada korupsi, birokrasi berbelit, narkoba, prostitusi, kemiskinan dan oknum partai politik yang bobrok.

Tak genap satu periode menjabat, keduanya sudah begitu sangat dicintai.

Sayang, suara yang mendukung masih kalah dengan jumlah yang menolak mereka.

Yang lebih disayangkan dalam pertarungan politik itu, kampanye beraroma kebencian etnis dan agama menjadi suguhan dominan sebagai alat kemenangan.

Kini, Pilkada DKI Jakarta sudah berlalu. Warga DKI Jakarta telah menentukan pilihannya.

Semua konsekwensi tentu akan ditanggung warga DKI Jakarta lima tahun ke depan sejak Oktober nanti.

Tak perlu lagi ada sesal, sedih apalagi marah. Inilah bagian dari demokrasi di Indonesia.

Life must go on…

Semoga pemimpin baru yang terpilih, bisa menjalankan tugasnya seamanah mungkin dan merealisasikan janji kampanyenya.

Satu pertanyaan terselip, akankah pemimpin baru nantinya bisa dicintai tulus melebihi pasangan yang digantikannya?

Wallahu A’lam…

Penulis: Franky Guntur Tangkudung

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Protected by Copyscape

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional