Menu

Jaksa Agung Tepis Tuduhan Fadli Zon

  Dibaca : 256 kali
Jaksa Agung Tepis Tuduhan Fadli Zon
Jaksa Agung Tepis Tuduhan Fadli Zon

Tuntutan hukuman oleh tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam dugaan kasus penodaan agama yang menyeret Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahya Purnama ditanggapi miring oleh segelintir orang.

Mereka menilai tuntutan tersebut sangat ringan, bahkan menuduh pihak JPU berada di pihak Basuki Tjahaya Purnama.

Tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang diketuai Ali Mukartono dalam persidangan menuntut Ahok 1 tahun penjara dengan masa percobaan 2 tahun.

Wakil Ketua DPR dari partai Gerindra juga turut bersuara dalam kasus ini. Dia bahkan menuduh kasus ini sudah direkayasa.

“Saya sependapat tuduhan dakwaan jaksa itu menguntungkan terdakwa. Tuntutan ini kelihatan direkayasa dan dipermudah, diperingan,” kata Fadli Zon.

Dia menilai tuntutan tersebut, tidak sejalan dengan rasa keadilan dan berpotensi masyarakat tidak percaya penegakan hukum di Indonesia.

Menanggapi hal itu, Jaksa Agung Muhammad Prasetyo menegaskan pihaknya sudah bersikap independen dan melakukan tugasnya sesuai dengan koridornya.

Prasetyo meminta semua pihak dapat menghormati proses hukum yang sedang berlangsung.

“Jangan sampai ada suatu tuntutan supaya penegak hukum independen tapi di sisi lain ditekan. Itu kan seperti itu bentuknya, disuruh independen tapi ditekan untuk mengikuti kehendak dan kemauan mereka,” kata Prasetyo.

Persidangan kasus dugaan penodaan yang dilakukan Gubenrur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama akan memasuki tahap akhir pada 9 Mei mendatang.

Majelis hakim akan membacakan putusan atau vonis hukuman terhadap terdakwa, setelah tim JPU tidak melakukan replik atau tanggapan dari pembelaan terdakawa dan tim penasihat hukumnya.

Basuki Tjahaya Purnama dituntut JPU hukuman 1 tahun penjara dengan 2 tahun masa percobaan.

Dalam tuntutannya, JPU menyatakan Basuki Tjahaya Purnama bersalah sebagaimana diatur dalam Pasal 156 KUHP.

Sementara Pasal 156a KUHP digugurkan karena ucapan Basuki tak memenuhi unsur niat menodai agama.

Dalam setiap persidangan, selalu hadir dua kelompok massa yang menanggapi berbeda kasus hukum ini.

Satu kelompok percaya Basuki Tjahaya Purnama melakukan penodaan Agama dengan menyebutkan kutipan Surat Al-Maidah 51 untuk menghina agama dan ulama.

Mereka meminta terdakwa bisa dihukum berat untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Sedangkan kelompok lain sangat yakin terdakwa tak melakukan kesalahan seperti yang dituduhkan sekelompok orang.

Mereka juga meyakini tuduhan itu bermuatan politis dan berkaitan dengan agenda pemilihan gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta 2017-2022.

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Protected by Copyscape

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional