Menu

JK: Islam Indonesia Beda dengan Islam Timur Tengah

  Dibaca : 710 kali
JK: Islam Indonesia Beda dengan Islam Timur Tengah
Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam Kuliah Umum di IAIN Manado, Minggu, 23 April 2017. (Dok. Humas Polda Sulawesi Utara)

Islam di Indonesia adalah Islam moderat yang memiliki perbedaan gaya hidup dan pergaulan dari Islam di Timur Tengah

Dalam kuliah umum di Institut Agama Islam Negeri Manado (IAIN Manado), Wakil Presiden RI Jusuf Kalla memberikan pemahamannya tentang Islam di Indonesia. Kalla menyebutkan bahwa Islam di Indonesia adalah Islam jalan tengah atau sering disebut dengan Islam moderat.

Indonesia merupakan negara dengan masyarakat yang majemuk, dan hal itu sudah bahan pelajaran di kurikulum Sekolah Dasar. Majemuk dalam artian Indonesia memiliki banyak ragam agama, kepercayaan, budaya, suku, ras, dan bahasa. Kemajemukan itu sudah ada sebelum negeri ini berdiri dan masih berlangsung hingga kini.

Agama Islam menjadi agama dengan jumlah penganut terbesar di Indonesia dan menyandang predikat sebagai agama mayoritas. Bahkan secara kuantitas, jumlah penganut Islam di Indonesia adalah yang terbesar di dunia. Itu juga yang menjadikan Indonesia sebagai negara dengan masyarakat Islam terbesar di dunia.

Dalam kuliah umum yang digelar pada Minggu, 23 April 2017 tersebut, secara rinci dan jelas Kalla memaparkan apa itu Islam moderat. Islam yang menjadi ciri khas Indonesia ini, menurut Kalla berbeda dengan Islam di Timur Tengah. Perbedaannya terletak pada ciri-ciri pergaulan hidup.

Pergaulan hidup Islam di Indonesia memiliki perbedaan dengan Islam di Timur Tengah, namun tetap dengan nilai-nilai dan ajaran Islam yang sama. Islam Indonesia pergaulannya lebih kepada Islam yang dapat hidup berdampingan dengan baik terhadap sesama Islam juga terhadap agama lain.

“Islam jalan tengah, Islam moderat. Islamnya sama, tapi cara gaya hidupnya, pergaulannya lebih kepada suatu yang dapat bersama berdampingan secara sesama agama maupun dengan agama yang lain dengan baik,” tutur Kalla seperti dilansir situs Tempo.co.

Indonesia sudah majemuk sejak dulu kala

Dalam sejarah Indonesia pra-kemerdekaan dapat kita pelajari beberapa hal penting soal kemajemukan yang sudah ada. Sebelum masuknya agama-agama besar di dunia, Indonesia kuno sudah hidup dalam keragaman kepercayaan adat atau agama suku.

Banyak agama suku yang masih dipertahankan hingga kini, ada juga beberapa yang mengalami akulturasi dengan agama besar. Kita masih bisa menyaksikan langsung praktik agama suku di Indonesia hingga detik ini. Hampir seluruh suku masih mempertahankan agama suku mereka yang tentunya dengan ciri khas masing-masing.

Agama Hindu dan Budha menjadi agama besar pertama yang masuk ke Indonesia. Hal itu ditandai dengan berdirinya dua kerajaan besar yaitu Sriwijaya dan Majapahit. Peninggalan-peninggalan kerajaan Hindu dan Budha juga masih terjaga hingga kini.

Bahasa sansekerta dan huruf palawa serta kitab-kitab kuno Hindu dan Budha masih dipelajari hingga kini. Demikian juga dengan prasasti-prasati batu, candi-candi, arca, dan benda relik lainnya dipertahankan sebagai warisan sejarah budaya Indonesia.

Agama Islam kemudian masuk melalui pedagang-pedagang Arab. Kemudian diajarkan oleh para Sunan yang dikenal sebagai Wali Songo. Islam berkembang dengan baik di Indonesia karena diperkenalkan oleh para pedagang Arab yang ramah dan santun.

Menyusul kemudian masuk Agama Kristen Katolik yang dibawa oleh para misionaris Spanyol dan Portugis. Mereka datang dengan semboyan 3G (Gold, Gospel, Glori) dari para penjelajah samudera dari Eropa. Mereka mulai berdagang, menetap, mendirikan kerajaan, lalu menyebarkan agama di Indonesia.

Berikutnya agama Kristen Protestan masuk melalui lembaga penginjilan Eropa yang menumpang pada kapal-kapal kerajaan Belanda. Hal itu terjadi pada masa pemerintahan kolonial Hinda Belanda yang menguasai sebagian besar wilayah Indonesia kuno.

Setelah kemerdekaan, masyarakat Indonesia masih terus mempertahankan keberagaan yang sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Konsep keberagaman dan kemajemukan itu kemudian dituangkan dalam dasar negara Indonesia. Pancasila sebagai dasar ideologi negara, dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai dasar konstitusi negara.

Perbedaan Islam di Indonesia dengan Islam di Timur Tengah Menurut Jusuf Kalla

Kalla menegaskan bahwa Islam di Indonesia berbeda dengan Islam di Timur Tengah. Perbedaan itu terletak dari segi historis dan kultural. Di Timur Tengah sering sekali terjadi perbedaan pandangan antar sesama Islam, maupun dengan agama lain. Kalla menyebutkan bahwa hal itu sering menjadi alasan untuk terjadi perang.

“Islam di Indonesia dibawa pedagang yang lebih transaksional bukan panglima perang,” tegas Kalla. Dari segi historis, Islam masuk ke Indonesia dengan penyebaran melalui perdagangan. Para Wali juga menyatukan konsep Islam kedalam tradisi lokal di Indonesia.

Maka itu Islam di Indonesia sangatlah unik karena memiliki karakteristik yang khas. Kalla menyebutnya dengan “Islam moderat” atau “Islam jalan tengah”. Sebuah konsep Islam khas Indonesia yang membawa damai dalam masyarakat yang majemuk.

“Kalau negara lain Borobudur mungkin sudah hilang, tapi kami memelihara sebagai peninggalan bangsa,” ungkap Kalla. Itu adalah tanda bahwa Islam di Indonesia bisa menjaga kemajemukan dalam suatu kesatuan berbangsa dan bernegara.

Konsep Islam moderat yang dimaksud Kalla bertujuan untuk menerapkan ajaran-ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Ajaran-ajaran Islam yang utama menurut Kalla adalah tentang peradaban dan akhlak.

Dengan sering terjadinya konflik di Timur Tengah, Kalla menilai bahwa mempelajari Islam di Timur Tengah sudah tidak relevan lagi. Alasannya adalah konflik-konflik itu sudah jelas menggambarkan bahwa di Timur Tengah sudah terjadi degradasi peradaban dan akhlak.

Kalla berharap agar Indonesia mampu menjadi panutan terhadap umat Islam di dunia. Hal itu akan terjadi jika umat Islam di Indonesia benar-benar menerapkan konsep Islam moderat sebagai pembawa kemajuan peradaban dan akhlak.

Jika hal itu bisa tercapai, bukan tidak mungkin Indonesia akan menjadi tujuan pendidikan Islam dari negara-negara lain di dunia. Itulah mengapa Kalla sangat berharap kalau institusi pendidikan Islam seperti IAIN Manado mampu untuk mewujudkan konsep Islam moderat tersebut.

Penulis: Onky Leonardo Manua

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Protected by Copyscape

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional