Menu

Allan Nairn dan Kebenaran Kudeta kepada Jokowi

  Dibaca : 1853 kali
Allan Nairn dan Kebenaran Kudeta kepada Jokowi
Allan Nairn dan Kebenaran Kudeta kepada Jokowi

Indonesia kembali dihebohkan dengan beredarnya laporan investigatif seorang asing berkewarganegaraan Amerika Serikat, Allan Nairn.

Allan yang menyebut dirinya jurnalis aktivis HAM, merilis sebuah tulisan yang berjudul Trump’s Indonesian Allies in Bed with ISIS-Backed Militia Seeking to Oust Elected President, yang rilis pertama kali di situs The Intercept.

Tirto Id kemudian menukil dengan sedikit penyuntingan di bagian yang dianggap minor ke dalam versi bahasa Indonesia dengan judul Investigasi Allan Nairn: Ahok Hanyalah Dalih untuk Makar.

Tulisan ini kemudian menjadi trending topic karena mengulas tentang kaitan para tokoh dengan upaya makar terhadap pemerintahan Jokowi-JK.

Kasus Basuki Tjahaya Purnama disebutkan hanya menjadi pintu masuk untuk agenda utama melengserkan presiden yang terpilih secara konstitusional.

Yang lebih bikin merinding adalah tulisan Nairn tentang keterkaitan ISIS, PKI, FPI, Freeport dan sejumlah tokoh, mantan perwira dan tentara aktif dengan upaya makar tersebut.

Namun dalam tulisannya, Nairn terlalu banyak menggunakan sumber anonim, meski ada beberapa nama yang dituliskan jelas sebagai sumber wawancaranya.

Dalam sisi jurnalistik, penggunaan sumber anonim dapat dibenarkan untuk melindungi sumber dari ancaman atau bahaya yang bisa menimpa.

Tetapi, hal itu kadangkala digunakan sebagai ‘senjata’ para penulis untuk memasukkan opini tanpa fakta sebenarnya.

“Jadi, yang saya lakukan ini memang pelanggaran serius dalam praktik jurnalistisk. Tapi ini pengecualian. Saya memiliki informasi ini dan saya rasa masyarakat Indonesia berhak untuk tahu,” kata Nairn menanggapi komentar miring tentang tulisannya.

Hal inilah yang membuat tulisan Allan Nairn mendapatkan pro dan kontra di kalangan pembaca.

Banyak yang menilai karya Nairn hanya sebagai bentuk opini, terkesan mirip novel atau karya yang tak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Apalagi kemunculan tulisan ini dikaitkan dengan agenda politik, Pilkada DKI Jakarta, seperti saat Nairn menghebohkan nusantara jelang Pilpres 2014 lalu dengan tulisannya yang menyerang satu kandidat presiden.

Waktu itu Nairn ‘mengkhianati’ Prabowo Subianto yang bersedia melakukan wawancara off the record dengannya.

Di sisi lain, tak sedikit pihak ‘agak’ percaya dengan tulisan yang disertai sejumlah data dan nama orang tersebut.

Apalagi melihat sepak terjang Nairn yang pernah mengungkapkan fakta di berbagai negara, seperti Haiti, Guatemala, Indonesia, dan Timor Timur.

Nairn yang mengaku bersahabat dengan Munir Said Thalib, pernah menulis pembunuhan massal warga sipil dari suku Maya di Guatemala, yang dilakukan oleh Efrain Rios Montt, mantan pemimpin militer yang berkuasa pada 1982-1983.

Nairn sempat akan dihadirkan menjadi saksi dalam persidangan sebagai saksi atas kasus tersebut, namun pada akhirnya ditolak. Pengadilan  kemudian memvonis mantan pemimpin militer Guatemala itu 80 tahun penjara pada tahun 2013.

Dalam karir jurnalistik, Allan Nairn pernah beberapa kali mendapatkan penghargaan karena liputan dan tulisannya dinilai memperjuangkan rasa keadilan dan Hak Asasi Manusia.

Nairn pernah mendapatkan penghargaan Memorial Prize Pertama Robert F. Kennedy untuk Radio Internasional karena peliputan mereka di Timor Timur (1993).

Nairn juga menerima penghargaan George Polk untuk Jurnalisme tentang Majalah Pelaporan (1994), dan penghargaan James Aronson untuk Keadilan Sosial Jurnalisme dalam tulisannya tentang Haiti di majalah The Nation (1994).

Kasus hukum dan kekalahan Basuki Tjahaya Purnama dalam Pilkada DKI 2017-2022 memang menjadi perdebatan tak ada habisnya.

Keterlibatan sejumlah tokoh besar di dalam tim pemenangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno, membuat beberapa pihak menghubungkannya dengan tulisan Nairn.

Secara logika, hal itu bisa menjadi tanda awas dan informasi buat pemerintah, meski kebenarannya belum bisa dipastikan 100 persen.

Kebijakan menyaring informasi, menelaah dan menganalisa dari pembaca sangat dituntut menghadapi tulisan ‘berat’ Nairn tersebut.

Bangsa Indonesia tak boleh heboh dengan dengan sebuah tulisan yang belum bisa dipertanggungjwabkan kebenarannya.

Tetapi tak bisa juga mengabaikan informasi dan kebenaran yang terkandung di dalamnya.

Manis jangan cepat ditelan, pahit jangan cepat dibuang…

Penulis :Franky Guntur Tangkudung

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional