Menu

Orang Waras Kini tak Boleh (Lagi) Mengalah…

  Dibaca : 3395 kali
Orang Waras Kini tak Boleh (Lagi) Mengalah…
Benarkah bentuk bumi datar?

Ungkapan ‘Yang waras ngalah’ selama ini memang mendapat legitimasi banyak orang.

Mungkin banyak yang berpendapat, lebih baik mengalah daripada membuang waktu berdebat atau mengikuti pola pikir ‘orang tak waras’.

Hal ini memang terjadi dalam kurun waktu lama, banyak orang diam dengan pendapat salah para ‘orang tak waras’.

Yang membuat keadaan makin runyam, makin banyak ‘orang tak waras’ baru yang tercipta karena pembiaran itu.

Perlahan, ketika komunitas ‘orang tak waras’ makin meningkat, mereka memproklamirkan diri sebagai orang yang waras menyisihkan orang waras sebenarnya.

Hingga suatu ketika, pesan ulama senior NU, KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) ‘membangunkan’ orang waras yang selama ini diam.

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuh Tholibin, Leteh, Rembang itu menganggap hal itu tak boleh dibiarkan terus terjadi.

“Sing waras ojo ngalah!,” tegas penerima Bintang Budaya Parama Dharma itu.

Bagi Gus Mus, orang waras tak boleh lagi diam di tengah suburnya tindakan intoleran, ujaran fitnah dan kebencian dalam masyarakat, terlebih di media sosial.

Tak bisa dipungkiri, Indonesia kini memasuki fase ujian dalam berbangsa dan bernegara.

Radikalisme dan tindakan intoleran nyata menjadi ancaman disintegrasi bangsa yang merusak harmoni persatuan dalam kebinekaan.

Sejak Pilpres 2014, bangsa Indonesia memang seakan terbelah ketika mendukung dua calon Presiden dan wakil Presiden.

Momen itu kemudian disusupi beberapa pihak untuk merusak persatuan bangsa. Bersileweran fitnah dan ujaran kebencian yang berbau SARA untuk saling menjatuhkan.

HAL itu berlanjut hingga masa Pilkada DKI Jakarta. Bahkan, kini terang-terangan isu agama dan suku menjadi komoditas utama sebagai bahan penyerangan.

Agama dan rumah ibadah, dijadikan alat politik untuk menyerang kubu lawan. Kebencian terbangun atas dasar doktrin kepada mereka yang kurang pemahaman agama.

Kerusuhan, kekacauan dan disintegrasi bangsa bagai bom waktu yang siap meledak sewaktu-waktu.

Beruntung, Indonesia punya pemerintahan yang sigap dan tanggap. Dua alat negara, Polri dan TNI begitu responsif menangkal semua potensi yang bakal terjadi.

Ulama dan umat Islam mayoritas juga sadar akan potensi tersebut. Sadar ada bahaya laten radikalisme yang mengatasnamakan agama.

Kini, rakyat Indonesia yang merasa waras harus secepatnya bangun dan bergegas turut ambil bagian mencegah radikalisme yang diciptakan para ‘orang tak waras’.

Mereka yang sempat menjadi ‘Silent Majority’ harus turut menjadi pilar dan garda terdepan menjaga tegaknya berdiri NKRI.

Tak boleh lagi sesama saudara bangsa hidup dalam kekhawatiran atau ketakutan.

Warga Indonesia dari Aceh hingga Papua bebas hidup merdeka tanpa intimidasi.

Indonesia itu dari Sabang ke Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote,

Indonesia itu terdiri 6 agama dan berbagai kepercayaan,

Indonesia itu terdiri dari 1134 suku bangsa, bahasa dan adat istiadat.

Tak boleh lagi segala bentuk intoleran, dibiarkan merusak harmoni kerukunan dan kedamaian yang sudah terbentuk selama ini.

Orang waras kini tak boleh (lagi) mengalah…

 Penulis : Franky Guntur Tangkudung

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional