Menu

Pengusiran Haji Djarot, Penodaan Agama Sesungguhnya

  Dibaca : 953 kali
Pengusiran Haji Djarot, Penodaan Agama Sesungguhnya
Pengusiran Haji Djarot, Penodaan Agama Sesungguhnya

Haji Djarot Saiful Hidayat diusir dari Masjid Jami Al-Atiq, Tebet, Jakarta Selatan usai melaksanakan Salat Jumat (14/4/17).

Aksi pengusiran yang dilakukan jamaah Masjid terhadap Haji Djarot Saiful Hidayat mengagetkan dan membuat rakyat Indonesia tersadar.

Masjid kini telah menjadi sarana politik oleh sekelompok orang, terlebih saat menghadapi Pilkada.

Kejadian itu terjadi usai Djarot menunaikan salat Jumat Masjid Jami Al-Atiq, Tebet, Jakarta Selatan (14/4/17). Beberapa jemaah dan takmir masjid berteriak meminta Djarot keluar dari kawasan masjid sambil mengucap takbir.

Djarot Saiful Hidayat yang mendapat pengusiran hanya bisa tersenyum kepada jemaah dan perlahan meninggalkan area masjid.

Djarot diketahui merupakan calon wakil Gubernur DKI Jakarta, berpasangan dengan Basuki Tjahaya Purnama.

Basuki Tjahaya Purnama sendiri, kini sedang menghadapi proses hukum karena didakwa melakukan penodaan agama, terkait pernyataannya tentang surat Al Maidah-51.

“Ya Allah, apa salah saya? Apa kami pernah mengungkapkan kebencian pada mereka. Apa kami pernah mengatakan kata kasar kepada mereka. Kalau pernah, kami mohon maaf,” begitu Djarot menanggapi pengusiran terhadap dirinya.

“Saya mohon dan ingatkan kepada seluruh takmir masjid bahwa itu tidak baik, itu bertentangan dengan ajaran Islam,” tambah Djarot meminta.

Pengusiran tersebut, tak bisa dielakkan akan dihubungkan dengan PIlkada DKI Jakarta. Tanggal 19 April menjadi hari pencoblosan putaran ke-2 untuk memilih pemimpin DKI Jakarta.

Tak sepantasnya rumah ibadah yang suci sebagai tempat interaksi umat dengan Sang Pencipta menjadi alat kepentingan politik. Yang memiriskan, hal tersebut sudah berlangsung lama.

Banyak ceramah yang dilakukan justru mengandung ‘pesan kebencian’ dan menghasut para jamaah.

Belum lagi spanduk yang bertebaran di pagar dan halaman masjid yang berisi ancaman bagi sesama muslim. Apalagi sudah menjadi kenyataan ada jenazah muslim yang ditolak masjid, karena perbedaan pilihan politik.

Islam adalah agama yang mengajarkan umatnya untuk menjaga persatuan dan persaudaraan antar umat. Itu dikuatkan Pancasila sebagai dasar negara yang menegaskan persatuan dalam kebinekaan sebangsa.

PWNU DKI Jakarta, menegaskan pengusiran Haji Djarot dari dalam masjid itu adalah satu contoh bentuk kejahatan politisasi masjid.

Hal itu merupakan bentuk radikalisme agama yang berbahaya dan merupakan bentuk kejahatan yang harus ditolak.

Dewan Masjid Indonesia (DMI) juga menyatakan hal tersebut sebagai aksi provokatif yang berbahaya bagi kebinekaan di Indonesia.

Kebinekaan merupakan kodrati bangsa Indonesia. Tuhan dengan mudahnya bisa menciptakan seluruh manusia dalam satu suku atau satu agama.

Tetapi, Tuhan justru menciptakan manusia beda suku, tradisi, bangsa dan agama agar manusia tahu arti toleransi, saling menghargai dan saling menghormati.

Kejadian pengusiran Haji Djarot Saiful Hidayat dan penghasutan kebencian dari dalam masjid harus menjadi perhatian tegas pemerintah.

Ini harus menjadi pelajaran penting, sebelum semuanya terlambat. Sudah banyak contoh negara yang hancur karena gerakan radikalisme mengatasnamakan agama.

Rakyat yang kurang pemahaman agama ditakuti dengan doktrin yang salah karena kepentingan politik dan golongan.

Bangsa Indonesia harus tetap berdiri kokoh dengan nilai Pancasila, berbeda-beda tapi tetap satu. Hal ini sudah dipikirkan matang dan jauh ke depan oleh para pendiri bangsa, yang mayoritas beragama Islam.

Toleransi, saling menghargai dan saling menghormati adalah nilai yang ditegaskan dalam Islam. Islam tak pernah mengajarkan kebencian, Islam adalah agama Rahmatan Lil ‘Alamin. Islam justru mengajarkan persaudaraan dalam ukhuwah Islamiyah, Wathaniyah, dan Basyariyah.

Jangan lagi merusak citra Islam dengan segala bentuk perbuatan yang tercela.

Jangan lagi mengajarkan kekerasan dan kebencian atas nama Islam,

karena itulah bentuk PENODAAN AGAMA ISLAM sesungguhnya.

Penulis : Franky Guntur Tangkudung

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional