Menu

Jakarta, Ahok dan Sidang Sesungguhnya

  Dibaca : 574 kali
Jakarta, Ahok dan Sidang Sesungguhnya
Jakarta, Ahok dan Sidang Sesungguhnya

SEPASANG suami istri tampak tergesa-gesa masuk ke kantor kelurahan. Sepucuk surat keterangan sangat mereka butuhkan sebagai persyaratan kelengkapan berkas di tempat yang lain. Kira-kira hampir setengah jam menunggu, keduanya dipanggil duduk berhadapan seorang petugas.

Setelah menyampaikan maksudnya, petugas itu langsung mempersilakan keduanya kembali keesokan harinya. Meski kecewa, keduanya tak bisa berbuat banyak, beberapa lembar sepuluh ribuan yang kini tersisa terpaksa harus disisihkan lagi untuk uang transportasi besok.

Keesokan harinya, keduanya kembali lebih awal, bahkan saat jam kerja baru dimulai. Dengan sabar keduanya menunggu, tapi kantor itu masih sepi , kosong melompong. Belum terlihat petugas yang melayani mereka hari kemarin.

Seorang petugas yang baru datang, menanyakan maksud keduanya. Kemudian terdengar arahan agar menunggu petugas yang melayani mereka kemarin.

Menunggu lebih sejam, akhirnya petugas itu datang.  Belum langsung melayani, petugas itu tampak tidak mengindahkan mereka, mempersiapkan hal-hal yang kurang penting. Sepuluh menit bolak-balik tak jelas, dia pun duduk dan langsung memanggil keduanya.

“Suratnya sudah jadi, ini tidak dibayar. Tapi, ada uang partisipasi, sekadarnya aja,” begitu kata si petugas sambil menyorongkan sedikit surat yang dimaksud.

Dengan berat hati, karena status surat itu “urgen”, dua lembar sepuluh ribuan terpaksa dikeluarkan.

Masalah seperti itu, sudah berjalan berpuluh tahun lamanya. Masyarakat kecil tak bisa mengeluh apalagi berontak. Itu baru di kelurahan. Bidang pelayanan kesehatan juga terjadi hal sama, di bidang pendidikan, malah lebih parah.

Tak ada yang bisa menyelesaikannya, pemimpin juga seakan memaklumi bahkan menutup mata terkait praktik ini.

SUATU saat, datang seorang lelaki kerempeng didampingi lelaki berkacamata di sebuah Puskesmas sudut kota, tanpa pemberitahuan.

Telihat banyak orang sedang mengantre, tampak seperti tak mendapat pelayanan.

Di sudut ruangan ada ibu tua dengan mata berkaca seperti sedang menahan tangis.

“Ada apa Bu?,” begitu sapa pria kerempeng.

“Anakku panas tinggi, tapi belum mendapat perawatan karena saya tidak punya uang,pak. Tolong anak saya,” pecahlah tangis sang ibu sambil setengah berlutut.

Wajah sang pria kerempeng memerah, memeluk ibu itu mengembalikannya ke tempak duduk. Tak berapa lama, dengan langkah cepat dia masuk menembus kerumunan orang yang mengantre, langsung masuk ke dalam, memanggil penanggung jawab di tempat itu.

Ditemani beberapa orang berbaju putih, tampak seorang ibu necis lengkap dengan anting dan gelang mahal. Sadar siapa yang menemuinya, terlihat dia mulai gemetar, gagap menjawab beberapa pertanyaan si pria kerempeng dan pria tinggi berkacamata yang mendampinginya.

Tampak dia hanya bisa mengangguk dan mengiyakan.

“Besok pelayanan harus berubah total, jika tidak mampu, biar diganti orang lain,” begitu pesan sang pria kerempeng dan langsung berlalu.

Seketika semua orang yang mengantre langsung dilayani bak raja. Pesan dari kedua orang itu langsung dijalankan, inspeksi yang dilakukan dirasa melebihi sebuah tamparan.

Hal yang tak pernah mereka temui sebelumnya. Sikap pimpinan mereka kini berbeda, mereka siap turun ke bawah mengawasi ketat semua program pemerintah.

Sejak itu, pelayanan publik diperbaiki, kedisiplinan ditingkatkan dan praktik yang menyusahkan masyarakat terlebih yang berbau Pungutan Liar, dibersihkan. Siapa yang masih mencobanya, siap-siap dipecat dan dipidanakan.

Hasilnya, pelayanan publik langsung berubah total. Pengurusan surat keterangan di kelurahan bahkan bisa langsung ditunggu, tanpa biaya sepeserpun, tak juga partisipasi.

Pelayanan kesehatan dan pendidikan langsung dirasakan banyak orang. Keindahan kota dan tata ruang apalagi, lihat saja kini banyak taman kota dan taman bermain digunakan masyarakat sekadar berselfie ria, duduk melepas lelah atau menjadi tempat bersantai keluarga.

Itu belum bicara tentang keindahan dan kebersihan sungai. Pemandangan yang sudah puluhan tahun tak pernah terlihat, atau sekadar memimpikannya.

Siapa yang mengira ada pemimpin yang lahir di kota terbesar negeri ini mau turun ke dalam selokan atau berbasah ria turun ke area banjir. Tak ada yang menyangka seorang pemimpin  menaikkan gaji para PNS yang baik kerjanya atau memberikan rumah gratis buat warganya.

Pria kerempeng itulah yang dikenal dengan Jokowi, Gubernur DKI Jakarta yang kemudian menjadi Presiden RI dan pria tegap berkacamata bernama Basuki Tjahaya Purnama atau Ahok, Wakil Gubernur Jakarta, yang kemudian menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Sepeninggal Jokowi, tak berarti pelayanan untuk masyarakat berubah. Ahok terus melanjutkan program yang dicanangkan berdua saat awal masa kepemimpinan mereka, tapi kini dengan pendekatan karakter yang berbeda. Jokowi pembawaannya lebih kalem, Ahok 180 derajat berbeda.

Dengan perangai meledak-ledak dan ucapan spontan apa adanya pengawasan begitu kentara. Tak terhitung PNS yang sudah dirotasi bahkan dipecat karena dianggap menyusahkan masyarakat.

Menerima aduan masyarakat setiap paginya, pendidikan gratis lengkap dengan beasiswa dan tunjangan bagi siswa kurang mampu, pendirian sejumlah Rusun bagi masyarakat kecil, menaikkan gaji para petugas kebersihan, penyegaran angkutan umum terkait keamanan dan kenyamanan warga.

Selain itu, dia juga melakukan lelang jabatan PNS agar terpilih orang yang kapabel di bidangnya, memangkas anggaran pidato 1,2 miliar, mencoret anggaran siluman 12,1 triliun dari APBD merupakan sebagian hasil kerjanya yang berpihak kepada masyarakat.

Hingga penghujung masa kepemimpinannya, dia berusaha tetap bekerja on the track. Berbagai tuduhan yang kental aroma politis bernuansa agama dijawab dengan bekerja sebaik mungkin.

Memberangkatkan haji dan umroh puluhan petugas masjid, memberikan bantuan di sejumlah tempat ibadah, memberikan zakat dan kurban dari uang pribadi, bahkan mendirikan Masjid di Balai Kota dan Masjid Raya Jakarta milik daerah yang selama ini tak pernah terpikir pemimpin sebelumnya.

Bukan hanya itu, dia menertibkan kawasan Kalijodo yang dikenal menjadi tempat prostitusi selama puluhan tahun, hal yang tak dilakukan pemimpin sebelumnya bahkan Ormas yang kini memusuhinya.

Sama nasibnya dengan dua klub malam legendaris yang katanya surga transaksi narkoba, Stadium dan Milles, ditutup tanpa kompromi.

Kini dia tersangkut masalah, disangka menodakan agama karena sebuah pidato di hadapan masyarakat. Sebagian kalangan menganggapnya musuh entah karena kinerjanya atau karena sosoknya yang bersih tak kenal kompromi.

Bagi dia, apapun yang menjadi hasil akhir kasus hukum yang membelitnya, dia ikhlas menjalaninya.

Dia terus berpegang, hukum adalah panglima di negara ini. Jika dia terbukti salah di pengadilan, dia rela dipenjara. Sebaliknya, jika hakim memutusnya tak bersalah dia minta masyarakat yang marah atau memusuhinya, menghormati keputusan tersebut.

Menurutnya , biar hari pencoblosan Pilkada Gubernur DKI menjadi sidang sesungguhnya bagi mayarakat Jakarta. Jika hasil kerja selama lima tahun dianggap tidak cukup baik, tak usah memilihnya kembali.

Mungkin ada yang lebih baik dari dirinya dengan program-program yang lebih baik bagi masyarakat, atau mungkin juga tidak.

Penulis : Franky Guntur Tangkudung

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Protected by Copyscape

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional