Menu

Candu Agama; Ketakutan adalah Jualan Agama yang Paling Laris

  Dibaca : 520 kali
Candu Agama; Ketakutan adalah Jualan Agama yang Paling Laris

Agama manakah yang benar? Semuanya punya versi Tuhan yang berbeda-beda. Kenapa agama selalu menjadi pembeda, sehingga begitu sensitif?
Harus diakui bahwa agama tidak memiliki indikasi untuk punah dari planet biru ini. Dari waktu ke waktu cerita tentang agama tidak pernah usai. Lihat saja setiap manusia yang lahir hampir semua langsung disodorkan dengan identitas beragama.

Saya sering bertanya dalam benak bagaimana jika seseorang tidak pernah diajarkan soal agama apapun; bagaimana nanti ia memandang dunia yang penuh dengan banyak keyakinan, lengkap dengan versi “Tuhan-nya” masing-masing?

Akhir tahun lalu, saya selesai menonton film berjudul P.K, lucunya film bollywood ini dilarang tayang di negaranya sendiri. Tentu saja otoritas India punya alasan mengapa harus dilarang. Dan seperti konsep psikologi public relations, black campaign selalu berbuah manis di era media sosial kala ini. Saya pun menjadi salah satu korban terpaan itu, dengan pertanyaan yang sama di benak banyak orang, yang tahu betul sepak terjang Amir Khan, sang actor film bergenre ‘sindirian’, yakni “why”. Kenapa harus dilarang?

Pada akhirnya, dengan penuh curiga, saya simpukan film ini pasti penuh dengan sindirian. Perlu diketahui bahwa, Amir khan merupakan salah satu actor India yang humanis. Dua film sebelumnya sudah saya tonton. ‘3 Idiots’ dan ‘Taree Zameen Par’. Keduanya menyinggung soal sistem pendidikan di India. Jadi film ini tentang apa?
CANDU AGAMA, ya, candu agama mungkin frase yang tepat mewakili kesimpulan saya, setelah menyaksikan karya ini. Berabad-abad sekelompok orang berhasil menciptakan tatanan yang rapi. berpolitik dengan menggunakan kendaraan agamawi. Apa lagi yang bisa manusia lakukan jika sudah bersentuhan dengan ketuhanan. Irasionalitas memang tidak bisa dijangkau oleh umat manusia, siapapun itu.

Jadi sebagian besar orang memilih mempercayainya, memang mereka dibuat seolah-olah tidak punya pilihan lagi. Padahal, jika kita menengok kebelakang, sejarah mencatat, banyak terjadi pembunuhan massal hanya untuk menegakkan agama. Saya selalu bertanya, lantas apa yang kita bisa pegang jika permulaan hingga perjalanan agama saja dimulai dengan penumpahan darah, bahkan merenggut jutaan nyawa? Apapun itu jika sudah menyentuh kemanusiaan, saya rasa tidak bisa dibenarakan!

Mari kita tengok sekarang bagaimana candu agama itu menyebarluas dimana-mana. Sedari dari dulu sebagian orang bijak sudah paham betul bahwa tatanan ini begitu berbahaya. Kita tahu persis bagaimana perjuangan Marthen Luther di abad 16-17M, rasanya itu harus jadi perhitungan mendasar. Jadi apa yang menyebabkan banyak orang kecanduan beragama? Jawabannya adalah ‘Ketakutan’. Kita bisa cek di kebanyakan agama. Yang menjadi jualan agama kepada umat adalah rasa takut.

Rasa takut inilah yang mengharuskan orang bersentuhan dengan agama. Kebanyakan orang terlalu lemah sehingga berlari kepada agama, tanpa sadar mereka semakin terjebak dengan doktrin ketakutan, seperti: kutukan, tidak diberkati, kegagalan, dan lain ssebagainya.

Seperti kata Karl Marx, sebenarnya Tuhan hanya diciptakan oleh orang-orang yang lemah, mereka berimajinasi sekan tuhan menolong mereka. Jika diperhatikan buah pikiran Marx, saya sependapat. Karena ia menyimpukannnya dengan melihat jualan agama adalah ‘Ketakutan’. Andai saja jualan agama sejak dulu adalah Tuhan yang penuh cinta, kasih dan sayang. Mungkin pendapatnya berbeda.
Kemudian, banyak agama merasa berhasil menakut-nakuti orang. Apa yang mendorong mereka untuk mempercayai agama. Kenapa tidak mempercayai Tuhan saja? Gus Dur juga pernah mengeluarkan pernyataan yang mencengangkan. “Kalau kamu berbuat baik, orang tidak akan tanya agamamu apa?”

Marthen Luther juga pernah berkata. “God doesn’t need your good works, but your neighboor does.” Harus dicurigai, banyak orang percaya cerita surga itu seperti bisnis, ada permintaan ada pemberian, ada pemberian ada pengembalian. Harusnya dipertanyakan lagi, bagaimana bisa Tuhan membutuhkan kebaikan manusia? Apakah Dia kekurangan, bahkan haus kebaikan manusia? Kalau begitu pecandu agama ini terlalu naïf, menganggap Tuhan begitu membutuhkan kebaikan. Lucunya juga ada yang membela agama; seperti membela tuhannya.

Kalau memang ketakutan selalu berhasil, lantas kenapa kejahatan semakin menjadi hingga saat ini? Bukankah berbuat jahat itu beresiko dikutuk tuhan? Berarti agama manapun yang mendoktrin orang-orang dengan ketakutan telah GAGAL!
Bisa jadi kebanyakan manusia kehilangan pengenalan akan sang penicpta, bagaimana bisa Tuhan yang dipercayai banyak orang, maha pengasih dan penyayang, penuh dengan geram kepada penciptanya. Secuil kesalahan manusia, seperti melenyapkan kepenuhan cinta-Nya, sangat kontradikfif. Kalau begitu, apa yang Tuhan tawarkan kepada umat manusia. Ini menggelikan. Kalau begitu tuhan yang kita kenal seperti ini, masih lebih baik sebagian orang yang pemaaf dan tidak mudah mendendam. Miris!

Sekalipun tidak bisa dipungkiri, kita harus angkat topi terhadap peran agama. Sepak terjangnya dalam kepedulian sosial memang mengaburkan bahasan diatas. Sama halnya dengan yang dipercayai semua orang bahwa apapun yang diciptakan manusia pasti memiliki kekurangan, sedangkan apa yang diciptakan Tuhan? Saya rasa tidak ada. Jadi, mungkinkah Tuhan tidak ada hubungannya dengan agama? Dan bukankah Tuhan tidak menciptakan agama?

Catatan Harvey Jersic 

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional