Menu

Para Wakil Rakyat yang Suka Ribut

  Dibaca : 241 kali
Para Wakil Rakyat yang Suka Ribut
Para Wakil Rakyat yang Suka Ribut

Dalam sebuah tayangan di televisi, seorang wakil rakyat berkumis menarik seorang kawannya saat mendekati koleganya yang lain di podium. Sempat terjadi adu mulut, sang wakil rakyat berkumis tersebut langsung mempraktikkan teknik judo. Kawannya seketika langsung tejerembab mencium lantai. Tayangan itu bahkan dipotong karena mengandung unsur kekerasan.

Tak berapa lama, muncullah tanggapan dari sang wakil rakyat berkumis tersebut. Katanya itu hanya kecelakaan, dia membantah melakukan pengeroyokan bahkan mengancam balik melaporkan kawannya itu. Padahal jelas-jelas itu terekam dan disaksikan jutaan rakyat Indonesia.

Mungkin itulah yang menjadi kehebatan para wakil rakyat, sebagian dari mereka masih yakin bersilat lidah dan retorika bisa membelokkan kebenaran yang terpampang.

Keributan itu bagian dari aksi para anggota Dewan Perwakilan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) saat sidang paripurna. Saat itu, sebagian anggota DPD menolak kehadiran kedua pimpinan lama untuk memimpin sidang. Mereka berpendapat jabatannya yang hanya 2,5 tahun sudah berakhir sesuai tata tertib yang dibuat.

Merasa masih berhak memimpin karena mengacu keputusan MA terbaru, keduanya tetap bersikukuh akan membuka sidang. Akibatnya terjadi kejadian yang tidak pantas diperlihatkan kepada jutaan rakyat Indonesia yang diwakili mereka.

Hal itu sebenarnya bukan kali pertama terjadi, beberapa tahun terakhir, DPD lebih sering terdengar karena perkelahiannya ketimbang hasil kerjanya. Atau yang paling diingat adalah korupsi ketua DPD.

Mungkin hal yang sama beberapa kali terjadi dengan ‘saudaranya’, DPR RI. Namun itu lebih sering terjadi sesaat pasca terpilihnya presiden dan wakil presiden yang baru. Saat itu friksi dan ketegangan dua kubu memang sangat tinggi.

Publik masih ingat ketika seorang wakil rakyat membalikkan meja dan saling membentak. Atau beberapa perselesihan yang nyaris berujung bentrokan missal tersebut.

Kejadian tersebut jelas menambah panjang siulan negatif rakyat terhadap sikap para wakilnya tersebut yang notabene digaji dari uang rakyat.

Para wakil rakyat yang terhormat sebelumnya sudah mendapat cap tukang tidur, suka nonton film biru, suka nyolong dan masih banyak lagi.

Dari survey sebuah lembaga, institusi wakil rakyat bahkan menjadi nomor satu dalam daftar institusi yang paling korup dan tidak dipercaya.

Mungkin tidak bijak jika mengeneralisir semua wakil rakyat seperti itu, masih banyak sosok bersih dan berintegritas yang berada dalam kumpulan 560 + 132 wakil rakyat tersebut.

Pernah ada seorang wakil rakyat berkelit, menyebut citra negatif yang terbangun di masyarakat, lebih karena ulah para jurnalis yang  lebih memilih isu ‘menjual’ ketimbang menghargai dan memuji hasil kerja serta perilaku para anggota dewan.

Mereka lupa, sudah sepantasnya mereka terus bersikap dan berperilaku baik. Mereka adalah wakil rakyat yang dianggap pintar, cerdas, berintegritas dan bisa selalu menjaga kehormatannya. Untuk itulah rakyat memilih 560 + 132 untuk mewakili dan memperjuangkan nasib mereka di tingkat pusat. Mereka juga lupa, segala tindakan mereka dibayar puluhan juta dari keringat rakyat kecil yang diwakili.

Apa jadinya, jika periode tugas lima tahun hampir berakhir, tak ada kinerja luar biasa yang dilahirkannya. Justru  sebaliknya, hal luar biasa yang dilakukan lebih mengarah hal-hal negatif, bukan untuk memperjuangkan rakyat.

Memang benar, para wakil rakyat itu manusia yang tak luput dari salah dan khilaf. Namun jika itu tersaji berulang kali dan menyakiti hati rakyat sudah sepantasnya mereka bercermin.

Mungkin juga sudah saatnya mereka dihadiahi kitab suci masing-masing untuk mempelajari arti amanah dan tanggung jawab, termasuk konsekwensinya jika tidak bisa melaksanakan itu. Jika tak lagi takut dosa, biarkanlah itu menjadi urusan mereka dengan sang pencipta.

Biarkan Tuhan akan menghukum mereka dengan Cara-NYA.

Biarkan juga di periode berikut, para anggota dewan yang terhormat yang tak amanah tersebut bisa ‘naik pangkat’ dari Wakil Rakyat menjadi RAKYAT.

Penulis: Franky Guntur Tangkudung

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Protected by Copyscape

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional