Menu

Anak Gugat Ibu Kandung, Nurani yang Hilang

  Dibaca : 301 kali
Anak Gugat Ibu Kandung, Nurani yang Hilang
Anak Gugat Ibu Kandung, Nurani yang Hilang

Belum hilang rasa trenyuh karena membaca kisah Fidelis Ari, kini masyarakat Indonesia kembali didengarkan dengan sebuah kisah yang benar-benar tak masuk nalar dan logika.

Seorang wanita dan suaminya, tega menuntut dan menyeret kakak dan ibu kandungnya ke pengadilan karena kasus hutang-piutang. Yang lebih mengejutkan, utang yang semula hanya 21 juta rupiah di tahun 2001 kini diminta ganti 1,8 miliar rupiah di tahun 2017 ini.

Hal itu bermula saat sang kakak yang akhir tahun 90-an menjadi pengusaha industri rumahan butuh modal. Dia pun melakukan pinjaman ke bank dengan jaminan sertifikat rumah keluarga.

Tapi malang tak bisa ditolak, saat resesi ekonomi, usahanya bangkrut dan menyisakan utang 21 juta. Waktu terus berjalan, datanglah sang penolong sang adik dengan suaminya.

Mereka bersedia melunasi semua utang plus denda dan bunganya sebanyak 41 juta rupiah. Tapi ternyata bantuan tersebut tidak tulus, keduanya sudah merencanakan sesuatu. Mereka berharap, sertifikat rumah yang dijaminkan harus dibaliknama atas nama mereka.

Rumah tersebut merupakan peninggalan almarhum sang ayah dan ditempati tiga belas orang kakak beradik bersama sang ibu. Meski tergolong rumah tua, lokasi dan posisi rumah tersebut kini ditaksir bernilai 2,2 milar rupiah.

Sang anak dan menantu pun tanpa rasa bersalah dan berdosa masih bisa tertawa saat disorot kamera. Mereka bersikukuh tetap memiliki rasa sayang dan cinta kasih yang besar terhadap sang ibu.

Bahkan dalam persidangan, sang anak dan menantu sudah menyiapkan ‘paket kasih sayang’ kepada sang ibu dengan memberikan setengah nominal yang dituntut, jika hal tersebut dikabulkan hakim, Ironis memang.

Banyak yang heran, marah bahkan mengirimkan sumpah serapah kepada pasangan tersebut. Tak ada lagi hati nurani dan balas budi dalam kasus ini.

Mediasi kekeluargaan yang coba dilakukan bahkan melibatkan Bupati Purwakarta, Deddy Mulyadi tetap tak berhasil. Pasangan itu bergeming dan ingin melanjutkan kasus perdatanya ke pengadilan.

Kasus seperti ini memang seperti terus berulang. Banyak kejadian luar biasa yang sudah terjadi dan akan terus terjadi di negara ini. Degradasi moral dan mental jelas menjadi penyebab utamanya.

Entah mengapa itu terjadi dan pihak mana yang harus disalahkan.

Tentunya yang paling bijak bukan lagi saling menyalahkan. Orang tua, guru, tokoh agama, pemerintah dan semua stakeholder terkait  harus saling bergandengan tangan. Bangsa ini harus secepatnya kembali kepada identitasnya.

Penulis :Franky Guntur Tangkudung

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Protected by Copyscape

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional