Menu

SGBK, Stadion Kebanggaan Visi Sukarno

  Dibaca : 604 kali
SGBK, Stadion Kebanggaan Visi Sukarno
SGBK, Stadion Kebanggaan Visi Sukarno

Stadion Gelora Bung Karno (SGBK), stadion kebanggaan Indonesia kini sedang direnovasi untuk menggelar hajatan besar Asian games 2018.

Stadion yang terletak di ibukota negara tersebut, kembali mendapat kesempatan menggelar ajang olahraga empat tahunan. Terakhir kali acara serupa digelar pada 55 tahun silam.

Namun ada hal yang belum banyak diketahui tentang sejarah berdirinya stadion yang berkapasitas 85 ribu penonton tersebut.

Pembangunan tersebut lebih dipengaruhi situasi politik setelah Indonesia merdeka di tahun 1945.

Empat belas tahun setelah merdeka tepatnya di tahun 1959, Sukarno yang waktu itu menjabat sebagai Presiden RI yang pertama, mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) nomor 113/1959 setelah Indonesia dipercaya menggelar Asian games 1962.

Isi Keppres tersebut adalah tentang pembentukan Dewan Asian Games Indonesia (DAGI).

Menunjuk Frederik Silaban sebagai arsitek dan Raden Maladi (mantan ketua umum PSSI) sebagai Menteri Penerangan, Sukarno ingin membuat stadion sangat megah berkelas dunia di Indonesia.

Sukarno yang waktu itu terkenal dengan diplomasi luar negerinya, memperoleh kredit lunak sebesar $12,5 juta dari Rusia untuk pembangunan stadion ini.

Sukarno menancapkan tiang pertama pada 1960 disaksikan Perdana Menteri Uni Soviet, Nikita Kruschev.

Sejumlah ahli teknik Rusia juga datang membantu arsitek dan pembangunan stadion yang menjadi mimpinya. Sukarno waktu itu ingin membuat stadion luar biasa yang bisa membuat publik dunia menatap Indonesia.

Dua tahun pengerjaan, tepat tanggal 24 Agustus 1962 bertepatan dengan siaran perdana Televisi Republik Indonesia (TVRI), Sukarno meresmikan Stadion Gelora Bung Karno.

Mimpi Sukarno terwujud, dunia menatap jauh ke Asia Tenggara. Ada sebuah negara berdaulat yang sukses melaksanakan Asian Games 1962, Indonesia namanya.

Tak lama setelah itu, Sukarno memutuskan keluar dari Perserikatan bangsa-Bangsa (PBB) karena berseteru dengan anggota PBB lain.

Sukarno kemudian menjalin kerjasama dengan beberapa negara di Asia dan Afrika untuk menciptakan sebuah blok baru di luar dua blok yang waktu itu sudah ada blok barat dengan Amerika Serikat sebagai koordinatornya dan blok timur dengan Uni Soviet sebagai ketuanya.

Sukarno kemudian menjadi pencetus lahirnya New Emerging Forces (NEFOS) yang beberapa tahun berselang diubah namanya menjadi gerakan non blok.

Akibat keluarnya Indonesia dari PBB, Indonesia mendapat tekanan dari dunia internasional dalam beberapa bidang termasuk dunia olahraga.

Tak mau didikte, Sukarno kemudian keluar dari IOC (International Olimpic Committee) dan menggelar ajang olahraga antar negara anggota NEFOS yang diberi tajuk GANEFO pada 1964 di SGBK. SGBK menjadi lambang kebesaran Indonesia dalam menggelar kejuaraan bertaraf internasional.

Setelah Sukarno turun takhta pada 1966, Presiden kedua RI, Suharto kemudian mengganti nama stadion tersebut dengan Stadion Utama Senayan.

Setelah puluhan tahun stadion tersebut dikenal dengan nama Stadion Senayan, tahun 2001 Abdurahman Wahid (Gusdur) menerbitkan Keppres No.7/ 2001 yang menyatakan pengembalian nama stadion tersebut ke nama semula Stadion Gelora Bung Karno (SGBK).

Kini di tahun 2017, stadion yang juga sering digunakan untuk menggelar konser grup musik atau kegiatan politik, kembali akan diperindah dengan menambahkan sejumlah fasilitas modern.
Lapangannya  juga akan diremajakan menggunakan rumput berkelas dunia dan pruduk terkini. Dari informasi rumput SGBK akan menggunakan rumput jenis zoysia matrella, rumput yang sama digunakan di Stadion kebanggaan klub Bayern Munchen dan timnas Jerman, Allianz Arena.

Renovasi tersebut diperkirakan selesai akhir tahun 2017 dan akan menjadikan SGBK kembali dipandang publik sepak bola dunia. Apalagi SGBK sebelum direnovasi terkenal dengan kehadiran supporter fanatiknya.

Semoga dengan penampilan baru SGBK juga turut melahirkan prestasi baru PSSI dan timnas Indonesia di tingkat internasional.

Penulis :Franky Guntur Tangkudung

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Protected by Copyscape

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional