Menu

Ketika Nurani Terabaikan Dalam Penegakan Hukum

  Dibaca : 683 kali
Ketika Nurani Terabaikan Dalam Penegakan Hukum
Fidelis Ari

Nama Fidelis Ari mendadak menjadi pembicaraan. Perjuangannya untuk memberikan kesembuhan bagi sang istri yang mengidap penyakit langka mengundang simpati banyak orang. Kegigihan PNS di ujung barat Kalimantan ini memang menggambarkan sosok suami sejati.

Namun Impian Fidelis Ari melihat kesembuhan istrinya akhirnya pupus. Perjuangan atas nama cinta yang sudah dilakukannya bertahun-tahun harus berakhir di ruang berjeruji besi. Fidelis ditangkap pihak BNN karena menyimpan 39 batang tanaman ganja yang ditanam Fidelis di dalam rumahnya.

Yeni Riawati, istri Fidel memang menderita penyakit langka yang disebut  Syringomyelia. Penyakit ini ditandai dengan tumbuhnya kista di sumsum tulang belakang, yang terus membesar dan memanjang. Akibat penyakit tersebut Yeni tak bisa tidur nyenyak, sulit makan, tak bisa bicara dan mengalami kelumpuhan.

Segala tindakan medis sudah dicoba Fidelis, bahkan dia juga pergi ke pengobatan alternatif. Namun semua usaha itu sia-sia, kondisi Yeni tak kunjung membaik.

Hingga suatu saat, Fidel menemukan sebuah artikel di internet tentang pengobatan penyakit tersebut. Disebutkan penyakit tersebut bisa diobati dengan sari daun Cannabis Sativa atau ekstrak tanaman ganja.

Demi kesembuhan sang istri, Fidel akhirnya mengambil risiko. Dia menanam tanaman ganja di halaman rumahnya, untuk obat sang istri.

Menjalani metode pengobatan tersebut, kondisi sang istri mulai membaik. Perlahan mulai bisa bicara dan makan dengan baik. Yeni juga kini bisa tidur dengan nyenyak.

Tetapi pada akhirnya, tanaman terlarang tersebut ditemukan penegak hukum. Fidel akhirnya ditangkap, semua tanaman ganja yang ada sebagai obat sang istri turut disita Februari silam.

Dalam pemeriksaan Fidelis mengaku tak pernah ikut mencicipi barang haram tersebut apalagi menjualnya. Dia melakukan itu hanya untuk kesembuhan istrinya semata.

Pasca Fidelis tertangkap, Yeni tak bisa mengkonsumsi obatnya lagi. Kondisinya menurun dan makin memburuk. Genap 21 hari Fidelis dibui, Yenni akhirnya menghembuskan nafas terakhir (25/3/17).

Fidelis yang diizinkan melayat ke rumah, tak kuasa menahan kesedihannya. Yang lebih membuat orang tak bisa menahan haru, ketika Fidelis berusaha membuat si bungsu yang masih kecil untuk tegar.

Dia memberikan pelukan kekuatan untuk buah hatinya bersama Yeni. Anak itu kini harus kehilangan ayah dan ibu sekaligus. Entah bagaimana dia melanjutkan hidupnya nanti tanpa bimbingan kedua orang tuanya.

Kisah di atas menambah panjang deretan penegakan hukum yang mengabaikan nurani dan rasa kemanusiaan.

Masih teringat kasus Nenek Minah (55) asal Banyumas yang didakwa mencuri tiga buah Kakao di perkebunan milik PT Rumpun Sari Antan, yang harganya hanya belasan ribu. Waktu itu, untuk datang ke sidang Nenek Minah justru harus meminjam uang Rp 30.000 untuk biaya transportasi.

Atau kasus Nenek Asyani (63) di Situbondo yang didakwa mencuri beberapa batang pohon jati milik Perum Perhutani untuk dibuat tempat tidur. Sang nenek bahkan tegas membantah kayu itu bukan hasil curian tetapi diambil dari lahannya oleh mendiang suami beberapa tahun silam.

Kasus seperti ini sudah banyak kali terhampar di negeri ini. Tak terhitung jumlah kasus seperti ini yang membuat publik menangis.

Semua sepakat memang hukum harus ditegakkan kepada siapapun yang melanggar. Setiap orang mempunyai kedudukan yang sama di mata hukum termaktub jelas dalam UUD 1945.

Namun, apakah hukum kita terlalu kaku? Apakah para penegak hukum atau pemerintah tak bisa mencermati masalah yang ada sebelum mengambil tindakan hukum?

Haruskah atas nama hukum membiarkan seorang ibu sekaligus istri harus meregang nyawa karena menarik paksa obat yang selama ini dikonsumsi?

Haruskah menyalahkan dan memenjarakan sang suami yang selama ini pontang-panting mencari cara demi kesembuhan sang istri?

Haruskah mengorbankan masa depan anak- anak karena kehilangan kedua orang tuanya dengan cara tersebut?

Penegak hukum harusnya mampu memahami makna dan kearifan yang terkandung dalam aturan hukum. Penegak hukum harusnya menempatkan hati nurani dan nilai kemanusiaan jauh lebih tinggi posisinya dari hukum itu sendiri.

Hukum itu sejatinya bukan sekadar konteks benar dan salah. Hukum itu ‘hanya’ instrumen untuk menciptakan ketertiban dan keamanan dalam kehidupan berbangsa. Hukum sejatinya adalah alat untuk menciptakan keadilan, keadilan yang bernurani dan mempunyai rasa kemanusiaan.

Semoga kasus-kasus seperti itu tak lagi banyak terjadi di negeri ini. Biarlah keluarga Fidelis Ari menjadi ‘korban’ terakhir kekurangsempuranaan hukum di Indonesia. Biarlah itu menjadi momentum untuk berbenah demi hukum yang lebih bermartabat dan manusiawi.

Penulis: Franky Guntur Tangkudung

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional