Menu

Ronaldo, Striker Fenomenal tanpa Gelar Liga Champion

  Dibaca : 510 kali
Ronaldo, Striker Fenomenal tanpa Gelar Liga Champion
Ronaldo Striker Fenomenal tanpa Gelar Liga Champion

Ketika Piala Dunia 1994 yang dilangsungkan di Amerika Serikat, seorang pemuda plontos bernomor punggung 20 tampak di bangku cadangan tim Brazil. Masih berusia 17 tahun dan berasal dari klub Cruzeiro dia disebut banyak pengamat bakal menjadi striker hebat. Nama pemain belia itu adalah Luiz Ronaldo Nazario  da Lima, lebih dikenal dengan Ronaldo. Sayang, hingga Brazil menjadi juara dunia setelah menyudahi perlawanan tim Italia di babak final lewat adu pinalti, pelatih Brazil kala itu Carlos Alberto Pareira tak pernah memainkannya.

Pasca Piala Dunia 1994, Piet de Visser pemandu bakat PSV Eindhoven menyarankan klub itu untuk membeli Ronaldo. Mulailah dia berpetualang di Eropa saat ditransfer PSV Eindhoven ke Liga Belanda.

Musim pertamanya, Ronaldo langsung menjadi pencetak gol terbanyak Liga Belanda dengan 30 gol. Publik sepakbola mulai mengakui kemampuan pemuda plontos ini.

Tahun 1996, Sir Bobby Robson pelatih Barcelona merekrut Ronaldo, setelah buruan utamanya Alan Shearer tak dilepas Newcastle United. Ronaldo mulai menunjukkan bakat besarnya dengan mencetak 47 gol dalam 49 penampilannya untuk semua ajang kompetisi bersama Barca. Yang paling diingat, adalah ketika gol spektakulernya meliuk-liuk memporak-porandakan pertahanan Celta Vigo dengan melakukan solo run dan melewati 6 pemain dari tengah lapangan. Ronaldo juga menjadi pencetak gol terbanyak La Liga dengan 34 gol dari 37 penampilan

Penampilan gemilangnya bercama Barca akhirnya berbuah manis setelah FIFA memberikan gelar Pemain Terbaik Dunia versi FIFA 1996. Pemain kelahiran 18 September 1976 menjadi pemain termuda yang pernah meraihnya dalam usia 20 tahun. Bersama Barca Ronaldo meraih trofi Winner Cup, Piala Spanyol dan Piala Super Spanyol.

Hanya setahun bersama Barcelona, Ronaldo beralih ke ketatnya persaingan Seri A yang waktu itu menjadi liga terbaik dunia. Pemain berjuluk sang fenomenal itu langsung  mengantarkan klub barunya meraih gelar piala UEFA setelah mencetak trigol melawan Lazio di partai puncak. Musim pertamanya di Inter Milan, dia  mencetak total 34 gol dalam 47 penampilan dalam semua ajang kompetisi.

Ronaldo pun kembali meraih gelar Pemain Terbaik Dunia versi FIFA untuk kedua kalinya. Ronaldo juga membawa Brazil menjadi juara Copa Amerika tahun 1997.

Saat Piala Dunia 1998, dia tak lagi menjadi pemain cadangan. Dia kini menjadi tumpuan tim samba untuk mempertahankan gelar di Perancis. Ronaldo berhasil menunjukkan permainan terbaiknya. Namun di partai Final yang saat itu bersua tuan rumah Perancis, penampilan Ronaldo begitu aneh, dia berlari tak karuan. Hingga saat ini, misteri tersebut belum terjawab, cedera apa yang menyerang Ronaldo saat partai final tersebut. Alhasil Brazil digunduli tim ayam jantan Perancis tiga gol tak berbalas.

Namun, Ronaldo tak patah arang, dia bangkit dan kembali membawa tim samba menjuarai Copa America satu tahun berselang, di tahun 2009.

Lima musim bersama Inter Milan, dia lebih akrab dengan cedera. Ronaldo hanya nyaris membawa inter Milan meraih Scudetto di musim terakhirnya. Unggul poin hingga pekan terakhir, Inter Milan harus bertandang ke kandang Lazio yang waktu itu terkenal dengan pertahanan super rapat Fernando Couto dan Alessandro Nesta. Inter Milan akhirnya takluk 4-2 dan Juventus berhasil menyalip poin Inter Milan.

Ronaldo kemudian dipanggil skuat Brasil untuk Piala Dunia 2002 di Jepang dan Korea. Dalam pagelaran ini, Ronaldo menunjukkan dirinya masih belum habis. Ditopang Rivaldo dan Ronaldinho, Ronaldo berhasil menghancurkan semua tim lawan. Partai pamungkas, Oliver Kahn penjaga gawang terbaik saat itu, harus rela gawangnya dibobol Ronaldo dua kali, Brazil kembali meraih gelar piala dunia. Ronaldo menjadi pencetak gol terbanyak dengan 8 gol. Dia juga menyamai rekor legenda Brasil, Pele yang telah mencetak 12 gol selama tampil dalam ajang Piala Dunia. Ronaldo mendapatkan gelar pemain terbaik sekaligus meraih gelar pencetak gol terbanyak. Ronaldo pun kembali merebut gelar penghargaan pemain terbaik FIFA untuk ketiga kalinya di tahun 2002.

Musim berikutnya, Ronaldo akhirnya melengkapi tim dari galaksi lain, Real Madrid. Musim pertamanya Ronaldo mencetak 23 gol dalam 31 pertandingan, dan meraih gelar Liga pertamanya. Dia juga meraih gelar Piala Interkontinental dan Piala Super Spanyol.

Sayang mulai musim kedua, dia kembali mulai  lekat dengan cedera. Kedatangan Michael Owen, Antonio Cassano dan Ruud van Nistelrooy serta memburuknya hubungannya bersama pelatih Fabio Capello membuat dia tidak bisa menunjukkan kemapuan terbaiknya. Bersama Real Madrid Ronaldo mencetak 177 gol dalam semua ajang kompetisi. Di Akhir kebersamaannya dengan Real Madrid, dia dberikan penghargaan Real Madrid Hall of Fame, karena dianggap menjadi pemain yang paling berpengaruh di Real Madrid.

Tahun 2006, Ronaldo tetap dipanggil ke timnas Brazil meski berat badannya tampak melebihi berat ideal. Pada pertandingan ketiga melawan Jepang, Ronaldo mencetak 2 gol yang membawanya sejajar dengan Gerd Muller sebagai pencetak gol terbanyak di Piala Dunia sepanjang sejarah dengan 14 gol. Satu gol yang dicetaknya saat melawan Ghana pada 27 Juni menjadikannya pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia dengan 15 gol. Brazil gagal mempertahankan gelar juara Piala Dunia setelah kalah 1-0 dari Prancis dalam babak perempat final. Ini adalah penampilan terakhir Ronaldo bersama tim nasioanl Brasil dalam ajang resmi. Ronaldo telah mencetak 62 gol dan tampil sebanyak 92 kali dengan seragam Seleção.

Setelah itu, Ronaldo tampil bersama AC Milan. Sayang penampilannya jauh dari harapan. Cederanya terus merenggut permainan indahnya. AC Milan tidak memperpanjang kontrak Ronaldo ketika musim berakhir. Ronaldo dilepas dengan status bebas trsnsfer.

Tahun 200, Ronaldo bergabung dengan klub negara asalnya Corinthians. Dia membawa  Corinthians memenangkan Liga Paulista dengan mencetak 10 gol dalam 14 pertandingan. 14 Februari 2011, Ronaldo akhirnya memutuskan pensiun dari sepakbola karena frustasi dengan cedera yang terus menghantamnya.

Meski begitu, aksinya di lapangan terus menjadi kenangan. Hingga saat ini, banyak yang menyebut Ronaldo adalah tipe striker komplit yang pernah ada. Kemampuan sprint cepat yang menusuk pertahanan lawan sambil mendribel bola dan piawai dalam menyelesaikan umpan-umpan terobosan. Berbagai gelar individu, klub dan timnas sudah banyak diraihnya, sayang hingga akhir karirnya Ronaldo tak pernah mengecap manisnya mencium si kuping besar, piala liga champion Eropa.

Penulis: Franky Guntur Tangkudung

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Protected by Copyscape

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional