Menu

Ronaldinho, Menghibur dengan Trik dan Senyumannya

  Dibaca : 388 kali
Ronaldinho, Menghibur dengan Trik dan Senyumannya
Ronaldinho, Menghibur dengan Trik dan Senyumannya

Saat Piala Dunia 2002, Brazil bersua dengan Inggris di babak perempat final. Ketika itu Inggris unggul lewat bocah ajaib mereka yang kini tampil makin dewasa, Michael Owen. Menerima Umpan Emilie Heskey bola sempat disapu Lucio. Namun sepakan tak sempurna tersebut direbut Owen dan langsung membuat tusukan ke kotak penalti. Owen melakukan tendangan chip indah untuk membuat Kiper Brazil Marcos tersungkur.

Namun, seorang  pemuda gondrong kriwil tampil menjadi aktor utama pertama sesaat sebelum kedua tim masuk ke ruang rehat. Ketika menerima bola dari tengah lapangan dia kemudian meliuk-liuk dan melewati Ashley Cole di sisi kiri pertahanan Inggris kemudia memberikan umpan brilian kepada Rivaldo, meski dalam sudut sempit Rivaldo berhasil mencetak gol. Jadilah kedudukan sama kuat, kedua tim kemudian masuk ke ruang istirahat. Nama pemuda itu adalah Ronaldo de Assis Moreira atau lebih suka menyebut dirinya sebagai Ronaldinho Gauco.

Aksi Ronaldinho tak berhenti di situ, tak lama setelah babak kedua digulirkan gelandang Inggris Paul Scholes melakukan pelanggaran di tengah lapangan. Ronaldinho mengambil tendangan bebas yang berjarak 35 yards tersebut. Semua mengira Ronaldinho akan memberikan umpan kepada rekan-rekannya di kotak penalti. Ternyata Ronaldinho melihat sebuah kelengahan yang dibuat kiper legendaris Inggris, David Seaman. Seaman terlalu maju karena juga berasumsi yang sama. Dan, Ronaldinho menendang langsung ke gawang. Seaman pun terhempas jatuh tak kuasa menahan sepakan sangat terarah tersebut. Karena kesalahan ini juga Seaman dihujat di Inggris saat kepulangannya.

Tak sampai sepuluh menit kemudian, ada hal menarik terjadi. Ronaldinho yang terlalu bersemangat, disangka menginjak bek Inggris, Danny Mils. Sang hakim lapangan tanpa ampun mengeluarkan kartu merah buat Ronaldinho. Meski terlihat bingung dan marah, Ronaldinho tetap memperlihatkan senyum khasnya. Dia terus tersenyum hingga meninggalkan lapangan pertandingan. Meski di sisa pertandingan, Inggris lebih dominan, namun skor tidak berubah, Brazil menang 2-1 dan melaju ke babak semifinal untuk bertemu dengan Turki. Brazil akhirnya terus melaju ke final dan membawa gelar juara dunia.

Pasca turnamen tersebut berakhir, permainan Ronaldinho terus meningkat di klubnya Paris Saint Germain. Hal ini membuat raksasa Spanyol kepincut dan memberikan tawaran menggiurkan. Waktu itu, PSG belum diakuisisi pengusaha Timur Tengah, sehingga langsung tegoda. Dilepaslah Ronaldinho tahun 2003 ke Barcelona.

Di Barcelona Ronaldinho menemukan puncak karirnya. Bersama Samuel Etoo, Xavi Hernandes, Deco, Carles Puyol, Rafael Marquez di musim pertamanya Ronaldinho langsung merebut liga Spanyol dua kali berturut-turut setelah meruntuhkan kekuatan baru seperti Deportivo La Coruna dan Valencia serta kekuatan Abadi liga Spanyol, Real Madrid. Ronaldinho juga berhasil membawa Barcelona juara liga champion 2005/2006 setelah di partai puncak mengalahkan tim untouchable liga inggris, Arsenal 2-1. Ronaldo ditahbiskan menjadi pemain terbaik FIFA dua tahun berturut-turut 2004 dan 2005 serta menerima penghargaan Ballon d’Or tahun 2005.

Ronaldinho juga turut menularkan ilmunya kepada rising star Barcelona waktu itu Lionel Messi. Bersama pemain senior lainnya, mereka menjadi mentor untuk mendidik bocah ajaib asal argentina itu. Hasil didikan Ronaldinho berbuah manis, Messi menjelma menjadi pemain bintang. Messi juga akhirnya menjadi tandem Ronaldinho di Barcelona hingga tahun 2008.

Ronaldinho akhirnya mencoba peruntungannya ke AC Milan di liga Italia. Meski prestasinya tak semengkilap di Barcelaona, Ronaldinho berhasil membaw AC Milan menjadi Scudetto.

Sayangnya, setelah mengenal dunia Italia dengan segala gemerlapnya dia seperti tak fokus lagi dengan klub AC Milan. Ronaldinho seakan menemukan klub baru, klub malam yang penuh dengan kesenangan dan wanita. Ronaldinho juga tekesan angkuh dengan berseteru dengan beberapa pelatih. Jumlah golnya langsung menukik, perlahan kebintangannya meredup. Ronaldinho akhirnya balik ke kampung halamannya bermain di liga Brazil.

Terlepas dari semua itu, Ronaldinho adalah seorang pelopor sepakbola modern dengan segala keindahannya. Deretan prestasi dan piala yang diterimanya mulai dari level klub dan timnas bisa menggambarkan kehebatannya. Ronaldinho terlahir untuk mebuat sepak bola lebih indah. Trik dan aksinya selalu menghibur pecinta sepak bola. Bukan hanya itu, senyumannya yang mempesona membuat Ronaldinho akan terus dirindukan sepakbola.

Penulis: Franky Guntur Tangkudung

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional