Menu

Ancaman Hukuman Kebiri tak Efektif

  Dibaca : 274 kali
Ancaman Hukuman Kebiri tak Efektif
Ancaman Hukuman Kebiri tak Efektif

Terbongkarnya jaringan internasional pedofilia lewat grup Facebook Official Candy’s Groups dengan banyak anggota membuat masayarakat Indonesia terhenyak

Apalagi setelah melihat sejumlah postingan dalam grup tersebut yang menggambarkan perilaku pedofilia atau kelainan seks yang cenderung suka pada anak-anak.

Semua orang tua, terlebih mereka yang memiliki anak masih anak-anak sepakat pelaku harus dihukum berat.

Tahun lalu, dipicu Kasus Yuyun di Bengkulu, pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah Penganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Di situ disebutkan tentang hukuman kebiri kimia dan rehabilitasi bagi pelaku kekerasan seksual pada anak. Tetapi,  hukuman tersebut baru akan dilakukan setelah pelaku menjalani hukuman penjara belasan tahun lamanya, bukan dilakukan sesaat setelah dia melaksanakan perbuatan bejatnya. Bagaimana jika pelaku dalam penjara menemukan hidayah dan bertobat hingga masa kebebasannya? Apakah negara tak akan memafkan jika belasan tahun dia sudah berkelakuan baik menunjukkan “kesembuhannya”?

Perppu ini sendiri merupakan perubahan dua pasal dari UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, yakni pasal 81, disisipkan satu pasal 81A. Kemudian pasal 82, disisipkan satu pasal 82A.

Namun, apakah ancaman tersebut membuat pelaku perkosaan dan kekerasan seksual kepada anak takut? Sejak Perppu tersebut berlaku, sejumlah kejahatan seksual anak masih terus terjadi.

Seorang Psikolog menyebutkan, meskipun ancaman tembak mati di tempat ketika tertangkap diberlakukan, tak akan membuat pelaku takut.

Hal ini disebabkan kerusakan otak yang terjadi pada pelaku. Tahun 1990-an, Dr. Donald Hilton mengungkapkan hasil penelitiannya bahwa kerusakan otak akibat pornografi lebih besar dibandingkan dengan narkoba.

Bagian otak yang dirusak adalah prefrontal cortex yang merupakan bagian terpenting dalam otak manusia.  Bagian inilah yang manusia dengan hewan, sehingga wajar di sejumlah kasus perkosaan dan pedofilia, pelaku bersikap layaknya bukan manusia.

Dari penelitian lain, menurut Hucker tahun 1986, menunjukkan bahwa pedofil memiliki kelainan otak yang ditemukan di lobus temporal. Selain itu,  peneliti juga menemukan adanya perbedaan serotonin agonis (senyawa yang mengaktifkan reseptor serotonin) pada pedofil.

Kenyataan di atas harusnya membuat para orang tua makin awas. Ancaman kekerasan seksual pada anak bisa sewaktu-waktu menyerang.

Hal yang paling dimungkinkan adalah tidak membiarkan anak di bawah umur bermain lepas dari pengawasan dalam waktu yang relatif lama. Orang tua juga harus sebisanya mengecek mental dan kondisi anak setiap harinya. Perubahan perilaku mendadak pada anak bisa jadi indikasi telah terjadi sesuatu pada anak.

Keresahan para orang tua ini jelas tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian. Butuh peran aktif semua lapisan masyarakat untuk menjaga keamanan dan masa depan anak-anak bangsa.

Jangan lagi ada anak-anak mungil dengan senyum lucunya, yang harusnya bermain sepuasnya dengan tawa riang gembira terenggut masa depannya.

Penulis :Franky Guntur Tangkudung

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional