Menu

Perlukah Rehabilitasi Narkoba bagi Mereka yang Tertangkap?

  Dibaca : 382 kali
Perlukah Rehabilitasi Narkoba bagi Mereka yang Tertangkap?
Perlukah Rehabilitasi Narkoba bagi Mereka yang Tertangkap?

Penyanyi yang juga anak seorang pesohor dangdut tertangkap karena Narkoba akhir Maret 2017. Hal itu mungkin mengejutkan banyak pihak, apalagi tampilan sang artis selama ini begitu gagah dan terlihat sehat.

Namun, fakta berkata lain, pihak kepolisian berhasil menangkap tangan penyanyi yang digandrungi para gadis karena ketampanannya tersebut di sebuah hotel bersama temannya.

Polisi menemukan sabu seberat 0,7 gram dalam paper bag warna cokelat yang disimpan di jok depan kiri mobil Honda Civic miliknya termasuk alat isap jenis bong.

Setelah penangkapan tersebut barulah terdengar ucapan penyesalan dari sang artis. Dia mengaku mengkonsumsi barang haram tersebut untuk membuatnya lebih fit dan untuk mengusir rasa kantuk. Yang mencengangkan, dia sudah mengkonsumsinya lebih dari dua tahun.

Keluarga dan koleganya juga langsung  memberikan komentar bahwa sang artis hanya menjadi korban. Mereka meminta rehabilitasi untuk sang artis dan mengabaikan proses hukumnya.

MASALAH rehabilitasi untuk pengguna Narkoba yang tertangkap memang terbilang kontroversial dan menjadi celah banyak orang untuk menggunakan Narkoba. Banyak yang berpikir, jika tertangkap nantinya akan mengaku sebagai korban dan akan direhabilitasi tanpa mengikuti proses hukum.

Dalam Peraturan Pemerintah 25 Tahun 2011 era Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Patrialis Akbar), pengguna narkoba jenis sabu yang tertangkap tangan mengkonsumsi kurang dari 1 gram, maka jenis terapinya dibawa ke panti rehabilitasi dan bukan hukuman bui.

Celahnya adalah bagaimana jika seorang yang pintar yang sudah siap tertangkap polisi saat memakai Narkoba, hanya mengeluarkan “barang” di bawah 1 gram setiap dia “berpesta” dengan teman-temannya? Apakah dengan pasti dia tidak bisa dikategorikan Bandar?

Hal ini juga pernah terjadi pada salah satu anggota dewan di Sulawesi Utara. Ketika itu dia tertangkap tangan menggunakan Narkoba dengan sejumlah rekannya. Alih-alih mendapat proses hukum, atas nama rehabilitasi dia bebas beraktivitas termasuk pergi ke pusat perbelanjaan.

Dua kasus di atas, bisa menjadi pelajaran jika rehabilitasi menjadi celah terbesar orang untuk menggunakan Narkoba. Seharusnya kebijakan tesebut dievaluasi kembali.

Bukankah para pengguna Narkoba sadar akan konsekwensi hukum yang akan diterimanya, Bukankah juga pengguna Narkoba tahu masalah kesehatan yang akan dideritanya? Bukankah juga pengguna Narkoba tahu masalah sosial ketika dia tertangkap? Dia akan kehilangan karir, nama baik bahkan mempermalukan keluarga.

Justru dengan semua konsekwensi dan risiko tersebut sang pengguna melakukan pilihan dalam keadaan sesadar-sadarnya demi kenikmatan sesaat.

Hal ini jelas tidak bisa disamakan dengan wanita yang menjadi korban perkosaan. Inilah yang menjadi korban sebenarnya. Mereka dipaksa dan tidak bisa memilih. Justru para korban perkosaan lebih banyak tidak mendapat rehabilitasi.

Tetapi banyak juga orang yang masih berkelit mengatakan mereka itu menjadi korban, dipaksa, terpaksa dan lain-lain. Untuk alasan ini, korban anak-anak masih bisa dimaklumi serta patut dilindungi dan disembuhkan.

Namun bagaimana dengan pengguna orang dewasa? Layakkah mereka dikatakan korban? Benarkah mereka belum bisa membedakan baik dan buruknya menggunakan Narkoba?

Pernyataan Ketua Badan Narkotika Nasional (BNN), Komjen Budi Waseso (Buwas) memang tepat. Pengguna yang tertangkap tangan harusnya mengikuti proses hukum. Sosok satu ini, sejak terpilih menakhodai BNN menjadi orang yang tidak setuju dengan proses rehabilitasi.

Baginya rehabilitasi itu sebenarnya hanya layak diperuntukkan bagi mereka yang melapor saja.

Dari pengakuan pengguna yang kini lepas dari ketergantungan Narkoba, mereka bisa lepas dari barang haram tersebut karena niat besar untuk kembali hidup normal. Bahkan sebagian pengguna mengaku tak mengikuti program di panti rehabilitasi, meski pada awalnya mereka bergitu tersiksa.

Alasan terbesarnya, mereka tak ingin keluarganya hancur atau anak-anaknya terlantar. Sebagian lagi tak menginginkan karirnya rusak apalagi harus berakhir di jeruji penjara. Mereka memilih dalam keadan sadar, mengerti akan semua konsekwensi menggunakan Narkoba.

Narkoba itu memang musuh bersama yang merusak masa depan anak bangsa. Siapapun yang masih coba-coba bermain dengan narkoba harusnya diberikan hukuman yang berat. Bukan lagi di tataran Bandar, tapi harusnya pengguna dewasa.

Sudah cukup gencarnya pemberitaan media massa tentang efek buruk narkoba, keluarga yang hancur dan hukuman mati para gembong narkoba berseliweran selama ini. Terlalu panjang waktu yang diberikan negara untuk mengajak serta membujuk pengguna dewasa bertobat dan meninggalkan Narkoba.

Aturan rehabilitasi tersebut memang harus secepatnya dievaluasi untuk mencegah peredaran Narkoba yang lebih luas. Aturan pembatasan umur untukpengguna Narkoba yang tertangkap tangan kemudian direhabilitasi harus lebih bijak dilaksanakan.

Mereka yang tergolong belum bisa berpikir rasional dan merdeka atau yang jelas-jelas menjadi korban ini bisa dimasukkan ke panti rehabilitasi. Mungkin bisa ditetapkan di bawah mereka yang berusia di bawah 21 tahun atau bahkan di bawah 17 tahun.

Namun bagi mereka yang dewasa, tak lagi pantas dimasukkan ke dalam panti rehabilitasi. Sebagian dari mereka yang dewasa pasti akan kembali mencari barang haram tersebut jika tak ada kata tobat dan menyesal dalam artian sebenarnya dari relung hati terdalam.

Yang bisa menyembuhkan mereka adalah diri sendiri, bukan orang lain.

Mereka hanya perlu niat besar dan kekuatan dari diri sendiri. Belajar menggunakan logika untuk mengetahui benar dan salah, baik dan buruk.

Penulis: Franky Guntur Tangkudung

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional