Menu

Ramang, Spesialis Gol Salto yang Diakui FIFA

  Dibaca : 838 kali
Ramang, Spesialis Gol Salto yang Diakui FIFA
Ramang, Spesialis Gol Salto yang Diakui FIFA

Ketika menjamu RRC di Jakarta dalam kualifikasi piala dunia 1958 Swedia, Indonesia menang 2-0. Salah satu gol diciptakan dengan cara luar biasa. Striker Indonesia bernomor punggung 11 menciptakan gol dengan tendangan salto sambil membelakangi gawang.

Pemain tersebut bernama Andi Ramang, pria kelahiran 24 April 1924 asal Sulawesi Selatan . Keahliannya melakukan tendangan salto memang diwariskan sang ayah, Nyo’lo, ajudan Raja Gowa Djondjong Karaenta Lembangparang.

Ayah Ramang di awal tahun 1900-an memang dikenal sebagai jagoan olahraga sepak raga. Sejak itulah, Ramang kecil mulai meniru cara sang ayah menendang bola. Ramang mulai memperlihatkan bakatnya dengan belajar menendang gulungan kain yang diikat, buah jeruk Bali, hingga bola anyaman rotan pertamanya.

Ramang akhirnya memulai karirnya bersama klub kecil di kota asalnya, Bond Barru. Namun sesaat sebelum Indonesia menyatakan kemerdekaannya, Ramang merantau ke Makassar bersama keluarganya.

Di sana dia memperkuat Makassar Voetbal Bond (MVB) yang merupakan cikal bakal lahirnya Persatuan Sepakbola Makassar (PSM). Kemampuan mencetak golnya yang berada di atas rata-rata membuat dia dilirik memperkuat timnas. Dalam satu pertandingan, Ramang mencetak 6 gol dari kemenangan 9-0.

Federasi Sepakbola Dunia (FIFA) bahkan mengakui Ramang sebagai Indonesian who inspired ’50s Meridian atau Pemain Indonesia di puncak sukses yang menginspirasi Tahun 1950-an.

FIFA secara khusus memuji Ramang sebagai pemain sepakbola Indonesia yang terhebat kala mengenang 25 tahun kematian Ramang tahun 2012 silam. Diketahui,  Ramang meninggal pada 26 September 1987 setelah lama mengidap penyakit paru-paru tanpa bisa berobat ke Rumah sakit karena kekurangan biaya.

Dalam pernyataan FIFA, Ramang disebut sebagai kunci sukses Indonesia saat menahan Uni Soviet 0-0 dalam pertandingan Olimpiade Melbourne 1956. Ramang juga sempat menyebut pertandingan tersebut merupakan laga tak terlupakan yang pernah dimainkannya.

Saat itu Ramang beberapa kali mempunyai peluang mencetak gol. Jika bukan karena kehebatan kiper legendaris, Si laba-laba hitam, Lev Yashin, jala gawang Uni Soviet pasti sudah bergetar. Dalam sebuah peluang juga dikisahkan Ramang, saat ingin menendang bola, dia ditarik pemain belakang Uni Soviet.

Dalam partai ulangan, Uni Soviet yang sudah melakukan man to man marking terhadap Ramang berhasil menang besar 4-0. Uni Soviet kemudian tampil sebagai juara.

Penampilan mengejutkan Indonesia bersama Ramangnya disebut FIFA sebagai ‘salah satu hasil paling mengejutkan dalam sejarah Olimpiade’.

Keikutsertaan di ajang Olimpiade tersebut merupakan ajang resmi pertama Indonesia setelah merdeka tahun 1945. Sebelumnya di Piala Dunia pertama tahun 1938 di Uruguay, Indonesia pernah tampil sebagai wakil Asia pertama di piala dunia namun kala itu masih menggunakan nama Dutch East Indies.

Dalam piala dunia tersebut yang memainkan sistem gugur, Indonesia langsung tersingkir setelah dihajar babak belur tim kuat Eropa, Hongaria 0-6.

Ramang juga berhasil membawa Indonesia meraih medali perunggu di Asian Games 1958 di Tokyo, Jepang. Saat itu Indonesia kalah di partai semifinal melawan RRC dengan gol tunggal. RRC akhirnya mengalahkan Korsel kemudian menjadi juara. Dalam pertandingan memperebutkan tempat ketiga Indonesia menghajar India 4-1.

Yang paling diingat publik Jakarta waktu itu adalah ketika pertandingan Indonesia melawan RRC dalam kualifikasi piala dunia 1958 Swedia. Indonesia berhasil menyingkirkan RRC dengan skor 2-0. Satu gol diciptakan Ramang dengan berputar di atas udara dan melakukan tendangan salto. Sayang di pertandingan berikutnya, dengan alasan politis Indonesia tak bertanding melawan Israel. Indonesia akhirnya tersingkir dan gagal lolos ke piala dunia.

FIFA mengenang kemampuan Ramang yang mencetak 19 gol dalam 6 laga yang dimainkannya. Ramang memang berhasil membawa timnas Indonesia disegani di tingkat Asia dan dunia.

Waktu itu, timnas Indonesia di tahun 1954 memenuhi undangan beberapa negara untuk melakukan pertandingan persahabatan. (Filipina, Hongkong, Muangthai, Malaysia) PSSI nyaris menang di semua pertandingan persahabatan tersebut dengan perbandingan gol mencolok. Indonesia memasukkan 25 gol dan kemasukan 6 gol. Dari jumlah gol tersebut, 19 gol lahir dari kaki Ramang.

Di kancah lokal, Ramang membuat PSM disegani di tanah air. Ramang beberapa kali membawa tim PSM menjuarai kompetisi perserikatan.

Kehebatan Ramang terdengar ke seluruh tanah air. Bahkan dari informasi, setiap Ramang ingin bertanding di setiap wilayah yang disinggahinya, banyak masyarakat rela meninggalkan aktivitasnya hanya untuk menyaksikan permainan Ramang.

Pada waktu itu, banyak anak laki-laki yang dilahirkan diberi nama Ramang dengan harapan kelak bisa mengikuti kehebatannya.

Ketenaran nama Ramang memang melegenda. Dalam satu cerita, ada tim kuat di salah satu daerah bertemu dengan tim yang dibela Ramang. Karena waktu itu belum ada media televisi, wajah Ramang tak pernah dikenali.

Hingga usai pertandingan yang dimenangkan tim yang dibela Ramang, barulah tim lokal tersebut melakukan ‘protes’. Mereka baru tahu kalau lawannya memainkan Ramang, pemain legenda yang sudah sering didengar dari Radio.

Ramang sempat membagikan pengalaman dan kehebatannya di dunia kepelatihan. Dia sempat melatih PSM dan Persipal Palu. Ketika menjadi pelatih di Persipal Ramang dihadiahi satu hektare kebun cengkih oleh masyarakat setempat, karena prestasinya membawa Persipal menjadi tim hebat yang disegani di Indonesia.

Sayang, secara umum kisah hidupnya tak seindah prestasinya. Ramang di masa mudanya pernah menjadi kernet truk dan penarik becak. Di penghujung karirnya sebagai pemain dia bahkan dituduh terlibat suap dan harus menjalani skorsing. Saat menjadi pelatih juga, Ramang disingkirkan karena disebut tidak memiliki lisensi kepelatihan.

Yang memiriskan, pada tanggal 26 September 1987, di usia 59 tahun, Ramang, pemain terbesar sepanjang masa Indonesia menutup usia di rumahnya yang sederhana tanpa mendapat perawatan medis selayaknya.

Kontribusi dan perjuangannya semasa muda tak mendapat apresiasi setimpal dari negara dan tim yang pernah dibelanya. Sisa-sisa kejayaannya mungkin hanya bisa dilihat dari patung yang dibuat sederhana di pintu utara Lapangan Karebosi.

Ramang, memang sebuah ironi dalam sepakbola. Meski begitu, Ramang tetap menjadi pemain legendaris Indonesia, bahkan pemain terbesar yang pernah lahir di Indonesia.

Ramang mungkin juga terlalu cepat dilahirkan di masanya. Jika dia dilahirkan di masa sekarang, Indonesia akan disegani di Asia bahkan dunia seperti dulu. Ramang juga pasti akan bergelimang harta menikmati kontrak dengan nilai tinggi yang pasti akan ditawarkan sejumlah besar klub kaya.

Semoga akan ada Ramang-Ramang baru yang dilahirkan untuk mengharumkan nama Indonesia di tingkat dunia.

Penulis: Franky Guntur Tangkudung

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional