Menu

Joko Widodo dan Garry Kasparov (2)

  Dibaca : 690 kali
Joko Widodo dan Garry Kasparov (2)
Joko Widodo dan Garry Kasparov

Joko Widodo, Sang Presiden Indonesia coba digoyang mengatasnamakan isu agama. Banyak yang menilai momen aksi damai bela Islam diikuti lebih dari 100 ribu orang itu ditunggangi pihak yang ingin menyerang Jokowi. Namun disinilah, kelihaiannya menggunakan strategi ala Kasparov.

Sore sehari sebelum demo berlangsung,  Jokowi bersama JK di belakang Istana Merdeka, menanggapi pernyataan SBY terkait eror and failure intelijen. Saat itu, keduanya santai mengatakan memang ada perbedaan analisa terhadap informasi intelijen yang masuk. Keduanya tetap berpegang teguh pada UU 17 tahun 2011 tentang Intelijen Negara, pasal 25 ayat 1 yang menyatakan Rahasia intelijen merupakan bagian dari rahasia negara, tak akan dibagikan kepada siapapun termasuk mantan presiden. Bagi mereka, informasi yang masuk sebagai alarm kewaspadaan untuk berhati-hati.

Pagi sebelum aksi dimulai, Jokowi langsung keluar istana. Dia langsung bertolak ke bandara meninjau proyek kereta api bandara Soekarno-Hatta. Kesan yang ingin disampakan ke rakyat adalah tak usah terganggu dengan demo, semua akan baik-baik saja.  Jokowi ingin bekerja untuk kepentingan masyarakat yang lebih besar. Meski sebenarnya pada hari itu tidak ada agenda Jokowi untuk meninjau lokasi proyek tersebut.

Pesan menohok lain yang ingin disampaikan Jokowi adalah sindiran bahwa proyek pembangunan jalur ganda KA Bandara Soekarno Hatta dari Stasiun Batu Ceper ke Stasiun Bandara Soetta sepanjang 12,1 km sudah terlaksana dan hampir rampung. Proyek ini baru bisa berjalan tahun 2015 saat kepemimpinan Jokowi dan rencananya akan selesai tahun 2017.

Proyek tersebut nyatanya ditandatangani Presiden SBY tanggal 24 November 2011sebagai tindak lanjut dari Perpres No. 83 Tahun 2011 tentang Penugasan kepada PT KAI (Persero) untuk menyelenggarakan prasarana dan sarana KA bandara Soekarno Hatta dan jalur lingkar Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi yang.

Sore harinya, ketika ratusan ribu orang memadati jalan sepanjang istana, Jokowi memilih tak hadir dengan alasan keamanan atas masukan dari Paspampres. Saat itu juga tak memungkinkan mobil keprisedenan menembus barikade ratusan ribu massa di sepanjang jalan menuju istana. Jokowi menugaskan sang wakil, Jusuf Kalla dan Menkopolhukam Wiranto yang sudah berpengalaman menenangkan massa, untuk menerimanya.

Tuntutan pendemo pun ditampung dan langsung disanggupi. Kapolri Tito Karnavian berjanji mempercepat dan menuntaskan proses hukum dugaan penistaan agama yang dilakukan Basuki Tjahaya Purnama dalam waktu 2 Minggu.

Terakhir, ketika lewat tengah malam Jokowi menyampaikan pidato menanggapi demonstrasi yang terjadi. Dengan jelas dia menyebut demo ini telah ditunggangi oleh aktor-aktor politik yang memanfaatkan situasi. Hal ini jelas bertolak belakang dengan pidato SBY dua hari sebelumnya yang dengan tegas membantah ada orang kelompok atau partai politik yang terlibat di dalamnya. Pada akhirnya kepolisian mengendus adanya aliran dana dari sejumlah pihak untuk memuluskan demo atas nama agama tersebut.

Waktu bergulir, meski proses hukum dipercepat pihak pendemo tak puas. Mereka ingin Basuki Tjahaya Purnama yang disangka menoda agama untuk segera ditetapkan sebagai tersangka. Para elit pendemo merencanakan aksi yang lebih besar lagi tanggal 2 Desember 2016. Namun Jokowi adalah seorang visioner dengan strategi tak disangka-sangka ala Kasparov.

Jokowi melakukan safari diplomasi sekaligus showing force. Lihatlah ketika Jokowi satu persatu menemui tokoh berpengaruh. Mulai dari tokoh politik seperti Prabowo Subianto, Megawati Soekarno Putri, Setya Novanto, Muhaimin Iskandar, Zulkifli Hasan, dan Romahurmuziy.

Setelah itu Jokowi menemui sejumlah tokoh agama seperti ketua Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia KH Ma’ruf Amin, Ketua PBNU KH Said Aqil Siradj dan Ketua Umum PP Muhammadiyah KH Haedar Nashir beserta sejumlah tokoh islam lainnya.Tokoh-tokoh yang tidak dilibatkan dalam pembicaraan jelas mulai tersudut, seakan Jokowi tahu pihak-pihak mana yang jelas mempunyai benang merah dengan aksi tersebut.

Jokowi juga melakukan kunjungan ke sejumlah markas militer seperti Kopasus, Korpaskhas, Marinir, Kostrad, dan Brimob. Jokowi ingin menunjukkan semua alat negara berada di belakang pemerintah yang sah dan konstitusional. Yang siap melawan segala bentuk intoleran yang terjadi di negara ini.

Jokowi juga seperti membiarkan alur yang ingin diciptakan para pendemo, namun tetap menjaga dalam koridornya. Jokowi membiarkan ketika polisi akhirnya “kalah” saat “dipaksa” mentersangkakan Basuki Tjahaya Purnama. Waktu itu banyak rakyat Indonesia yang protes bahkan marah ketika negara kalah terhadap intimidasi ormas atas nama agama.

Namun pada akhirnya, itu terbukti adalah pilihan terbaik untuk mencegah kerusuhan dan perang saudara terjadi. Jokowi membiarkan kasus yang membelah umat Islam ini diselesaikan secara fair di dalam persidangan.

Sesaat demo 2 Desember atau yang dikenal dengan aksi 212, lewat aksi senyap, Kapolri Tito Karnavian dan jajarannya langsung menangkap belasan orang yang selama ini terkesan melawan pemerintah. Mereka diketahui ingin memanfaatkan aksi ini untuk menjatuhkan pemerintahan yang sah. Tito juga melarang aksi long march pada 212. Yang diperbolehkan hanya aksi tauziah, doa dan Salat Jumat bersama.

Peristiwa menegangkan ketika sekitar 700 ribu massa yang memenuhi beberapa titik di ibukota termasuk kawasan Monumen Nasional melakukan Aksi 212. Saat masuk waktu Salat Jumat, Presiden Jokowi disarankan untuk tidak menghadiri tersebut dengan alasan keamanan. Kembali strategi ala Kasparov terjadi.

Saat semua pihak menyangka sang raja akan melakukan blokade untuk keamanannya, Jokowi mengambil langkah lain dengan menggerakkan dua bentengnya, sang raja pun melakukan langkah ke depan membantu penyerangan.

Ya, Kapolri Tito Karnavian ikut duduk bersama dengan para pendemo. Sementara Panglima TNI Gatot Nurmantyo terus bergerak mengawal Jokowi. Jokowi pun mengatakan akan melakukan Salat Jumat bersama bersama pendemo. Sontak hal tersebut membuat pihak keamanan termasuk Paspampres kelabakan. Namun semua itu sudah diperhitungkan dengan matang oleh seorang Jokowi. Usai Salat Jokowi juga memberikan sambutan dan berpesan agar pendemo bisa pulang dengan tertib. Aksi demo yang dikhawatirkan menjadi sebuah kerusuhan akhirnya tak terjadi.

Jokowi kemudian melakukan counter attack ala Kasparov untuk menyerang semua aktor utama demo yang nyaris memecah belah bangsa ini. Satu persatu tokoh yang mengatasnamakan umat diseret ke ranah hukum untuk mempertanggungjawabkan ucapan dan perbuatannya. Aksi bela islam selanjutnya yang kini dipusatkan di Masjid Istiqlal  tanggal 11 Februari tak lagi melibatkan massa yang terbilang besar. Apalagi banyak yang mengaitkan aksi itu dengan aksi penjegalan Basuki Tjahaya Purnama-Djarot Saeful Hidayat di pemilihan gubernur dan wakil gubernur putaran pertama.

Kini, Jokowi mungkin menyiapkan strategi baru setidaknya untuk memback up kemenangan mantan partnernya saat menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta tahun 2012-2015, Basuki Tjahaya Purnama. Memang secara langsung presiden harus netral dalam pemilihan gubernur ini. Namun jika ditilik lebih jauh, presiden Jokowi tentu akan lebih memilih orang yang sudah dipercayainya luar dalam untuk bekerjasama membangun Jakarta dan Indonesia daripada membiarkan mantan ‘pembantunya’ yang pernah dipecat untuk kembali bekerjasama dengannya.

Biar waktu yang menjawab…

Penulis: Franky Guntur Tangkudung

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional