Menu

Payung Jokowi, Simbol Pelayan Masyarakat

  Dibaca : 296 kali
Payung Jokowi, Simbol Pelayan Masyarakat

Payung, benda itu tiba-tiba saja menjadi cerita menarik perhatian publik pekan-pekan terakhir ini karena terkait dengan kepemimpinan negara. Di tengah hujan rintik-rintik dalam kunjungan kerja lapangan, Jokowi memayungi diri sendiri, tanpa layanan ajudannya.

Di Papua, Presiden Joko Widodo (Jokowi) tampil memayungi diri sendiri dan tampak berusaha memayungi Gubernur Papua Lukas Enembe. Di Minahasa Utara, Jokowi memayungi diri sendiri, sementara Bupati Vonny Panambunan dan Wakil Bupati Jopie Lengkong Minahasa Utara dipayungi ajudan masing-masing. Tidak hanya itu, Jokowi saat kunjungan kerja itu, tidak mengenakan setelan pakaian seperti pejabat kebanyakan. Jokowi tampil dengan jaket hitam, tetapi yang ikut mendampingi justru tampil dengan pakaian dinas lengkap dengan lambang-lambang pejabat negara.

Sebuah pergeseran sikap prilaku pemimpin sedang terjadi di repoblik ini. Merujuk pada latar budaya yang feodalistik di sebagian besar masyarakat Indonesia, maka Jokowi benar-benar tampil revolusioner. Penampilan Jokowi sejak awal jauh dari model pemimpin feodalistik pada umumnya. Bahkan Jokowi sangat berbeda dengan pemimpin-pemimpin sebelumnya yang masih berpenampilan “dipayungi”.

Jokowi sendiri lahir, dibesarkan, dan menjadi pemimpin dari sebuah masyarakat berlatar belakang feodalistik Jawa. Tetapi justru dari lingkup tradisi-tradisi feodalistik itulah Jokowi tampil intens dengan “memayungi diri sendiri”. Sebuah sikap revolusioner kepemimpinan dengan sangat berani diperankan Jokowi, dia keluar dari tradisi-tradisi lama kepemimpinan. Sikap itu mencengangkan rakyat kebanyakan.

Sebagai kepala negara, Jokowi juga tidak ingin tampil dengan kemegahan iring-iringan melintasi hiruk-pikuk rakyat di jalanan dengan kepadatan dan kemacetan. Dia membatasi kendaraan pengawalan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) dan melarang penutupan arus lalu lintas saat romobongan presiden melintas.

Sikap dan penampilan itu menjadi revolusioner, pertama karena memang masyarakat Indonesia umumnya memiliki latar belakang tradisi kepemimpinan feodalistik. Di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara hingga saat ini tradisi-tradisi kepemimpinan feodalistik masih sangat tampak. Kedua karena, Jokowi juga menunjukan kesederhanaan “memayungi diri sendiri” di tengah masyarakat Indonesia yang tidak memiliki latar belakang feodalistik seperti di Papua dan Minahasa.

Papua dan Minahasa adalah dua daerah yang latar belakang sejarah masyarakatnya cendrung egaliter jauh dan dari feodalisme karena di sana tidak pernah hadir kerajaan. Namun, tak bisa disangkal, tradisi kepemimpinan baru sejak kemerdekaan di repoblik ini telah memunculkan feodalisme baru di dua daerah tersebut. Di dua daerah itu Jokowi justru memberi peringatan sekaligus teladan pentingnya pemimpin yang melayani rakyat, pemimpin yang memayungi rakyat. Pemimpin yang tidak feodalistik.

Cerita Jokowi memayungi diri, memang sederhana tetapi dapat menjadi pelajaran penting bangsa ini. Melayani rakyat menjadi jauh lebih penting dari semua prilaku dan fasilitas pemimpin di semua tingkatan. Bahwa amanat yang diemban setiap pemimpin, adalah memberi bukan menerima, melayani bukan dilayani.

Ada pesan penting menyusul “cerita payung” yang diperankan Kepala Negara Joko Widodo. Pemimpin hendaknya bisa menepis semua kemungkinan menjadi “raja-raja kecil” di depan rakyatnya. Sebab ada kecendrungan feodalisme baru sedang merebak di daerah-daerah.

Tradisi dan kompetisi kepemimpinan politik di daerah memang telah mendorong pemimpin politik disanjung dan dilayani dengan berbagai fasilitas dan pengawalan. Kepemimpinan politik nyaris menjadi identik dengan pencapaian kedudukan dengan limpahan fasilitas dan dapat mengesampingkan amanat melayani rakyat sebagai sesuatu yang hakiki dan amanah.

Revolusi mental yang dicangankan Jokowi sejak awal, memang bukanlah seruan biasa. Salah satu yang terkait dengan itu adalah hubungan pemimpin dengan rakyat, interaksi pemimpin dengan rakyat menjadi kebutuhan untuk makin mendinamiskan kerja kebangsaan ini.

Semoga “Payung Jokowi” akan dapat memayungi tradisi kepemimpinan di semua tingkatan. Agar semua pemimpin negeri dapat mememayungi rakyatnya.

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Protected by Copyscape

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional