Menu

Buffon, Pengawal Benteng Setangguh Superman

  Dibaca : 510 kali
Buffon, Pengawal Benteng Setangguh Superman
Buffon, Pengawal Benteng Setangguh Superman

Tahun 1997, ketika partai play off Italia vs Rusia, untuk memperebutkan satu tiket ke Piala Dunia 1998 Perancis, Gianluca Pagliuca kiper utama Italia mengalami cedera. Dalam pertandingan hidup mati tersebut, pelatih Italia Cesare Maldini memilih kiper muda ketimbang Fransesco Toldo atau Angelo Peruzzi.

Namun dalam pertandingan yang dilangsungkan saat salju turun tersebut, sebuah gerakan refleks luar biasa saat menghalau tendangan Dmitri Alenichev ke pojok bawah membuat anak muda itu menyelamatkan Italia dari kekalahan. Italia akhirnya melaju ke Piala Dunia 1998.

Anak muda tersebut adalah Gianluigi Buffon. Dia memulai karir di akademi sepak bola muda di klub AC Parma. Buffon kemudian memulai debut Serie A saat Parma melawan AC Milan pada 19 November 1995. Kehebatan kiper belia bertinggi 191 centimeter itu, membuat dua penyerang terbaik dunia, Marco van Basten dan George Weah Frustasi. Bahkan Pelatih Milan, Fabio Capello memuji Buffon yang berhasil meredam gempuran serangan Milan. Saat di Parma, Gigi-panggilan akrabnya- suka mengenakan baju bertema superman. Namun entah mengapa, saat di Juventus hal itu dia tinggalkan.

Meski belia, Buffon berhasil mengantar tim yang disponsori perusahaan susu, Parma menjadi juara Piala UEFA dan Coppa Italia. Tahun 2001 Juventus kemudian membeli Buffon sepaket dengan rekannya di lini belakang, Lilian Thuram.

Musim pertamanya, Buffon berhasil mengantar Juventus juara Serie A dalam pekan dramatis ketika Juventus meraih kemenangan sementara di tempat lain sang capolista, Inter Milan tersungkur melawan Lazio. Hingga musim 2016-2017, Buffon sudah 15 musim bersama sang nyonya tua. Dia berhasil mempersembahkan 10 gelar juara liga buat Juventus, 9 di seri A dan satu kali saat Juventus degradasi ke seri B. Sayang dua gelar Scudetto Seri A Juventus harus dicabut.

Skandal Calciopoli yang mengharuskan Juventus terdegradasi ke seri B dan kehilangan dua mahkota Scudetonya itu tak lama saat Buffon dipanggil ke timnas Italia untuk menuju Piala dunia Jerman 2006. Namun masalah tersebut seolah menjadi penyemangat buat Buffon dan tim. Italia akhirnya berhasil meraih gelar piala Dunia setelah di Final menang adu penalti atas Perancis. Buffon terpilih sebagai kiper terbaik.

Di timnas, pasca pensiunnya Fabio Cannavaro usai piala dunia 2006, Buffon menjadi kapten tak tergantikan. Sejak tahun 2002, Buffon selalu dipanggil mengikuti turnamen besar. Tahun 2000 Buffon sebenarnya menjadi penjaga gawang utama Italia, sayang bebrapa saat turnamen dimulai, Buffon mengalami cedera parah.

Begitu juga di Juventus, Buffon menjadi kapten yang disegani dan dihormati. Bagi Juventus, kehadiran Buffon saat mengawal gawang, seperti dijaga tiga kiper sekaligus. Ketenangannya membuat semua lini bekerja dengan baik.

Usai Piala Dunia, Buffon menunjukkan kesetiaannya kepada Juventus saaat sebagian besar penggawa Juventus hengkang. Buffon bersama Del Pierro, Nedved, Trezequet dan Camoranessi memilih tetap bermain untuk tim kuda zebra meski harus turun kasta. Alhasil Juventus menjadi juara Serie B dan berhasil kembali promosi ke Serie A. Sekarang, Buffon tercatat satu-satunya pemain yang pernah membela Juventus di Seri B yang masih aktif bermain.

Kini di tahun 2017, kualitas Buffon tak menurun, justru makin memikat. Kemenangan Juve atas Sampdoria Maret 2017 merupakan rekor terbaru bagi Gianluigi Buffon yang bermain untuk Juventus. Kapten Juventus 39 tahun tersebut telah mencatat rekor berlaga untuk Bianconeri di Seri A Liga Italia selama 39.681 menit.

Catatan itu mengalahkan pemain Juve sebelumnya yakni Giampiero Boniperti yang mencatat 39.680 menit pertandingan,  Boniperti merupakan pemain legenda Juventus dan membela Bianconerri selama 15 musim. Ia bermain dari musim 1946 sampai 1961. Dalam kurun waktu tersebut, Boniperti sudah terhitung bertanding bersama Bianconeri dengan 443 pertandingan.

Rekor tersebut melengkapi sejumlah prestasi yang sudah ditorehkannya sejak dari Parma, Juventus dan timnas Italia. Kini Buffon masih mengejar satu mimpi di level klub yakni menjuarai liga champion. Dua kali Buffon tinggal selangkah memegang si kuping besar, sayang Juventus terjegal oleh AC Milan dan Barcelona di babak Final.

Namun, apapun hasilnya nanti, ketika Buffon pensiun banyak yang pecinta sepak bola yang bakal merindukan aksi-aksinya. Penyelamatan-penyelamatan luar biasa yang bagi kiper lain mustahil dilakukan. Buffon, Pengawal Benteng Setangguh Superman.

Penulis: Franky Guntur Tangkudung

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Protected by Copyscape

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional