Menu

Leicester City, Kucing Kecil yang Merasa Sudah Menjadi Singa

  Dibaca : 179 kali
Leicester City, Kucing Kecil yang Merasa Sudah Menjadi Singa

Ketika menyaksikan partai Fiorentina vs Borusia Moenchengladbach (24/2/17), semua orang terkejut dengan hasil akhirnya.  Partai ini menyajikan “comeback” luar biasa yang ditampilkan anak asuh  Dieter Hecking. Kekalahan 0-1 di partai kandang, jelas mengharuskan mereka harus menang partai tandang di Artemhio Franzhi, Firenze.

Misi itu menjadi sesuatu yang mustahil, ketika hampir setengah jam berlangsung mereka justru sudah kemasukan dua gol, yang membuat mereka tertinggal agregat -0-3. Semua orang yang menyaksikan sudah sepakat, permainan telah berakhir, Fiorentina berhasil melaju ke babak berikutnya. Namun, apa yang terjadi di luar dugaan,  permainan nothing to loose Moenchengladbach, mampu membuat keajaiban dengan menyarangkan 4 gol, dan membuat mereka melaju ke babak 16 besar Liga Eropa. Satu hal yang membuat banyak orang terkejut.

Tapi, siapa sangka ada hal lain yang membuat banyak orang lebih terkejut dibandingkan hasil ini. Ketika masuk sesi komentator, muncullah breaking news yang menginformasikan, Pelatih Leicester City, Cludio Ranieri dipecat.

Pelatih tim Cinderella yang membawa Leicester City dari sebuah tim gurem menjadi juara liga Inggris, mengangkangi 7 tim raksasa di akhir musim 2015-2016. Dengan materi pemain yang tidak terkenal, dia membuat sebuah kekuatan baru di Liga Inggris. Ranieri pun diganjar pelatih terbaik FIFA 2016.

Hal itu membuat semua publik sepakbola terkejut, memang benar saat ini posisi Leicester nyaris berada di zona degradasi. Di liga champion, Leicester juga baru saja mengalami kekalahan 1-2 dari wakil Spanyol di leg pertama. Mungkin itulah yang menjadi alasan manajemen Leicester City mengambil keputusan itu.

Manajemen mungkin ingin hasil lebih baik dari hasil saat ini, Leicester adalah raja Inggris, yang tak seharusnya mendapatkan rentetan hasil buruk seperti ini. Sayangnya mereka lupa dari mana asal mereka sebenarnya, mereka tak lagi menganggap mereka adalah tim dari kubangan lumpur kekalahan, kini mereka menganggap mereka tim besar.

Menggelikan, Seekor kucing kecil, kini tak lagi mengakui asalnya, kini mereka memproklamirkan diri sebagai singa yang gagah perkasa. Pemecatan itu langsung disambut hujatan luar biasa dari seluruh dunia. Leicester dianggap sebagai tim yang tidak tahu berterima kasih. Sudah melupakan sejarah klub yang selama 166 tahun selalu berada di jajaran tim gurem menjadi raja tertinggi liga Inggris berkat polesan seorang Ranieri.

Jika saja itu terjadi saat Ranieri dipecat tim sekelas Madrid, Chelsea atau Juventus adalah sebuah hal yang wajar. Materi pemain berlimpah dengan skill yang mumpuni. Namun Leicester? Mungkin hanya empat pemain yang selalu diingat pecinta Sepakbola. Casper Schmeichel anaknya Peter Schmeichel, N’Golo Kante, Jammy Vardie dan Ryan Mahrez. Selebihnya, tanpa bermaksud menghina, tapi mereka adalah kumpulan pemain dengan pemain standar, jika tak ingin disebut pemain murahan.

Kini Kante yang disebut nyawa dan keseimbangan permainan Leicester musim lalu, sudah berlabuh dan menjadi bagian dari kekuatan tim Chelsea. Leicester juga kini bermain di kompetisi tertinggi Eropa, Liga Champion. Dengan komposisi pemain seperti itu, wajar saja Leicester kesulitan membagi waktu dan tenaga, belum lagi harus bertarung di piala Liga dan Piala FA. Tim sekelas Chelsea, MU dan Aresenal juga setiap musim harus merelakan membuang beberapa turnamen hanya untuk berkonsentrasi di salah satu kompetisi.

Jika melihat prestasi Ranieri, sejak awal banyak pihak sudah memprediksi mereka akan terseok-seok di Liga namun minimal akan menempati posisi di tengah klasemen. Mereka justru berkonsentrasi di Liga Champion sebagai semangat baru mereka, dan itu terbukti mereka bisa lolos sebagai juara grup.

Namun, semua sudah terjadi, Ranieri tetap Ranieri, seorang penyihir yang merusak tatanan juara Liga Inggris dengan menempatkan tim gurem menjadi bagian sejarah Inggris. Kini dia sudah dipecat, meski harusnya dia justru dibuatkan patung di Kota Leicester atas pencapaian itu. Pemecatan itu tak akan pernah menghapus sejarah, bahwa Ranieri adalah seorang penyihir seperti Otto Rehhagel ketika membawa tim gurem Yunani menjadi Juara piala Eropa 2004.

Leicester, kembalilah menjadi kucing, yang justru membuat tim lain menjadi takut. Janganlah bertingkah menjadi singa yang justru membuat orang tertawa, bahkan menghujat. Lebih parah, jangan sampai lebih banyak orang yang mendoakan agar Leicester justru benar-benar terdegradasi. Mungkin juga tim sekelas Leicester membutuhkan cermin di setiap sudut stadion, agar tahu caranya berterima kasih. Namun itulah sepakbola, etika sering dikesampingkan demi hasil instan dan bisnis semata.

Penulis: Franky Guntur Tangkudung

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional