Menu

Kegagalan AFF 2016, Disesali atau Disyukuri?

  Dibaca : 210 kali
Kegagalan AFF 2016, Disesali atau Disyukuri?

Kekalahan Tim Nasional Indonesia atas Thailand di Final AFF 2016 terasa sangat menyesakkan. Menang 2-1 di leg pertama saat bermain di Stadion Pakansari Bogor, ternyata belum menjadi modal yang cukup. Saat bertandang ke stadion kebanggaan rakyat Thailand di Stadion Rajamangala Bangkok (17/2/17), gawang Indonesia digelontor dua gol tanpa balas. Alhasil dua hasil berbeda tersaji, Thailand meraih gelar juara AFF ke-5 kalinya sejak turnamen ini digelar. Sedangkan Indonesia meraih “gelar” runner up juga untuk kali ke-5.

Kegagalan ini memang pantas disesali, namun jika ditilik lebih dalam sebenarnya hasil tersebut pantas disyukuri. Banyak pelajaran penting yang didapat pascagelaran AFF 2016. Prestasi tidak bisa diraih dengan persiapan instan, menjuarai sebuah turnamen juga tak bisa hanya mengandalkan semangat dan dukungan supporter semata. Yang terpenting, perhatian dan totalitas semua stakeholder sepakbola harus bersatu mendukung tim.

Persiapan tim yang hanya dua bulan menjelang kickoff, membuat persiapan tak maksimal. Kebijakan setiap klub yang maksimal memberikan dua pemain ke Timnas juga merupakan penyebab tak semua pemain terbaik masuk skuat. Agak lucu memang, bagaimana bisa untuk kepentingan negara, klub enggan melepas pemainnya? Ferry Pahabol yang tak diizinkan Persipura masuk ke Timnas, jelas menggambarkan bagaimana jeleknya komunikasi antara induk olahraga, pemerintah dan klub.

Dari aspek nasionalisme, hal lumrah jika ada yang menyalahkan klub. Itu juga dikuatkan dengan aturan FIFA yang menegaskan larangan menolak panggilan Timnas. Namun hal itu tak bijak, karena klublah yang membayar pemain. Klub harus dihormati dengan mekanisme administrasi yang profesional. Klub juga tentunya mengejar prestasi, apalagi saat turnamen dilangsungkan liga Indonesia tetap berlangsung. Jika pemain cedera, klub yang sangat merasakan dampaknya.

PSSI dan Kementerian Olahraga, dua institusi penanggung jawab prestasi sepakbola Indonesia mengakui akan mengevaluasi persiapan tim sebelum turun di sebuah turnamen.

“Persiapan yang hanya dua bulan sebelum turnamen menjadi salah satu penyebab kita belum menjuarai AFF 2016. Ini jadi bahan evaluasi, ke depannya persiapan harus lebih matang,” kata Menpora, Imam Nahrawi.

Memang, tim yang dibentuk dua bulan sebelum turnamen ini bisa melaju sampai ke Final. Namun jika dilihat dari teknis permainan, Indonesia harus mengakui ketertinggalannya dari para rival. Permainan Indonesia sudah tercecer di bawah Singapura, Vietnam apalagi Thailand.

Padahal, sejak tahun 90an, Indonesia selalu melahirkan banyak pemain muda berbakat. Timnas Merah Putih selalu merajai turnamen U-12 hingga U-15 tingkat Asia, bahkan tingkat dunia. Indonesia juga banyak mengirim tim muda untuk berlatih ke luar negeri seperti tim Primavera, Baretti, Belanda dan yang terakhir ke Uruguay.

Tahun 2016, tim U-12 yang berlaga di Piala Dunia Danone Nations Cup (DNC) 2016 di Paris, bisa masuk hingga babak 16 besar. Tim asuhan Jackson Tiago itu terjegal dari tim Argentina dengan skor 0-1.

Hal yang sama, Tim Nasional Indonesia U-15 yang diwakili tim ASIOP Apacinti menjadi juara di Gothia Cup Swedia, setelah di babak final mengalahkan klub tuan rumah IF Elfsbrog 3-1.

Secara logika, pemain-pemain hebat usia 12-15 tahun, 10 tahun berikutnya sudah matang dan bisa membawa prestasi yang sama di level senior. Namun, semua harapan itu tak pernah terjadi. Pemain-pemain berbakat itu tak terpantau lagi, apalagi yang tinggal nun di seberang lautan (baca:di luar Jawa, red).

Belum lagi kisruh di tubuh PSSI yang berjalan hampir 1 dekade. Pemerintah juga seakan menutup mata, masa bodoh dengan prestasi, tak lagi bertanggung jawab dengan pengadaan fasilitas. Peringkat Indonesia dalam ranking FIFA melorot hingga posisi 156 dari 208 anggotanya, padahal Indonesia pernah bercokol di peringkat 35 saat awal tahun 70an.

Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla mengakui Indonesia saat ini harus berbenah. Semua pihak harus turun tangan bersatu demi kemajuan sepakbola Indonesia.

“Thailand mempersiapkan tim selama 6 tahun. Sepakbola itu tentang lari dan berpikir. Bagaimana anak-anak kita bisa belajar berlari dan berpikir jika tak ada lagi lapangan untuk bermain?,” begitu katanya usai kekalahan Indonesia atas Thailand di final Piala AFF 2016.

KINI, sejak piala AFF 2016 semua berubah. Sepak bola Indonesia kembali berada on the track. Ketegasan dan keberanian pemerintah membekukan PSSI versi lama, meski berakibat Indonesia dilarang bertanding di ajang internasional, menjadi langkah penting.

Terpilihnya Edy Rahmayadi sebagi ketua PSSI menjadi angin segar dan harapan baru sepakbola Indonesia. Friksi yang sempat terjadi antara pemerintah dan PSSI kini berubah menjadi hubungan manis, hal yang membuat publik sepakbola Indonesia meyakini prestasi sepakbola Indonesia tinggal menunggu waktu.

“Paling dekat adalah Piala AFF. Setelah itu ada SEA Games 2017, Asian Games 2018 lalu kualifikasi Piala Dunia, harus secepatnya dipersiapkan,” itu janji Ketua PSSI sesaat terpilih (10/11/2016), tepat 9 hari sebelum turnamen AFF 2016 dimulai.

Ya, mimpi 250 juta rakyat Indonesia untuk melihat tim kesayangannya dengan kostum perah putih berlogo burung garuda di dada meraih prestasi besar. Merajai Asean, Asia bahkan bersaing di tingkat dunia. Semua butuh waktu, tapi dengan usaha yang benar ditopang doa dan semangat, yakinlah semua itu pasti akan terwujud.

Ajang Sea Games 2017 di Malaysia dan Asian Games 2018 di Indonesia akan menjadi target dan ajang pembuktian. Pembinaan dan persiapan harus dilakukan jauh-jauh hari. Biarlah Ajang AFF 2016 menjadi momentum dan candradimuka prestasi sepakbola Indonesia, kembali disegani dan diperhitungkan oleh negara Asean dan Asia. Mimpi besar lainnya, tentunya menembus jajaran 32 negara terbaik, masuk dalam gelaran piala dunia sepakbola.

Penulis: Franky Guntur Tangkudung

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Protected by Copyscape

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional