Menu

Lepasnya Beban Berat Seorang AHY

  Dibaca : 210 kali
Lepasnya Beban Berat Seorang AHY

Hari pencoblosan Pemilihan Gubernur DKI, 15 Februari hampir berlalu. Quick count di beberapa lembaga survey sudah terhampar, hasilnya tak jauh berbeda. Tepat pukul 21.00 WIB, seorang pria gagah menggelar konferensi pers didampingi sejumlah pendukungnya. Ya, dialah Agus Harimurti Yudoyhono (AHY), calon gubernur nomor urut satu yang dalam survey hitung cepat baru terpental dari putaran pertama dan gagal melaju ke putaran berikutnya. Dalam sambutannya atau lebih cocok disebut dengan pidato kekalahannya, ada hal menarik yang tersaji. Agus terlihat begitu simpatik. Kalimatnya mengalir tanpa beban, tak ada hafalan lagi seperti yang tersaji dalam tiga debat sebelumnya.

Beban yang selama ini tergambar jelas di wajahnya, tak nampak lagi. Dia begitu tenang, kharismatik dan membuat orang yang mendengar pidatonya terharu. Pidatonya ini banyak membuat orang salut dan bangga, isi kalimatnya juga mengandung pesan yang sarat makna dan sangat mudah dipahami. Jauh berbeda dengan apa yang selama ini diucapkan di dalam debat yang selalu mengambang, ambigu dan kadang tanpa makna.

Saat para Timsesnya masih beradu retorika dengan tanpa malu menyebut masih yakin menang dan menunggu hasil resmi real count oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), Agus justru dengan gentle dan ksatria mengakui kekalahannya. Sebuah hal yang masih jarang terlihat dilakukan para kontestan yang kalah dalam sebuah pertarungan di Pilkada.

Hal ini membuat banyak respek ditujukan kepadanya, bahkan sikap dan keberanian Agus ini disebut menutupi “ketidakdewasaan” sang ayah yang belakangan terlihat lebay dan baper di media sosial. Ini seakan menghapus semua kegelian, ketidaksukaan dan kebencian terhadap Agus selama ini atas program-programnya yang terkesan tidak  masuk akal. Kini Agus disanjung dan dipuji sebagai sosok yang memberikan kedewasaan berpolitik di negeri ini. Dia mengajarkan kepada bangsa ini, kekalahan tak harus disikapi dengan berlebihan, mencari-cari alasan apalagi melakukan sesuatu yang anarkis.

Memang pencalonannya ke arena Pilkada DKI Jakarta harus dibayar mahal, jenjang karir yang tak lama lagi menyentuh level perwira tinggi harus rela dikorbankan. Langkah ini disebut lebih karena tekanan dan campur tangan orang tuanya yang terkesan memaksa. Selama masa kampanye juga, status anak mami juga tak bisa dilepaskan, dia terlihat belum bisa memberikan kesan tampil sebagai sosok yang mandiri dan bebas dari tekanan.

Sikap dan kedewasaan Agus yang baru terlihat dalam pidato kekalahannya sangat disayangkan, semua hal yang disukai dari sosok Agus justru baru dimaksimalkan dan ditunjukkan ke publik saat masa perpisahannya.

Andaikan Agus sedari awal bisa bersikap seperti ini, andaikan Agus juga tak langsung dipaksakan menjadi Cagub, andaikan Agus awalnya bisa dipasangkan dengan tokoh politik yang lebih matang sekaliber Yusril Izha Mahendra atau tokoh lain yang mempunyai elektabilitas lebih baik, mungkin posisi Agus bukan seperti saat ini.

Namun apa guna, semuanya sudah terlambat. Biar itu menjadi pelajaran dan hikmah dari para partai pengusung, terlebih sosok yang mengambil keputusan menduetkan Agus-Sylvi.

Tak ada gunanya menyesal, nasi sudah menjadi bubur…

Penulis: Franky Guntur Tangkudung

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional