Menu

Janji Hari Pahlawan Bakal Menangkan Ahok

  Dibaca : 304 kali
Janji Hari Pahlawan Bakal Menangkan Ahok

Lagu Indonesia Raya membahana di sejumlah pelosok Nusantara, tampak juga berbagai ornamen bernuansa Merah Putih lengkap dengan replika bambu  runcing terpasang di sejumlah bangunan. Tepat pukul 08.15 WIB semua orang tampak menghentikan aktivitas sejenak, menundukkan kepala, mendoakan dan mengenang para pahlawan yang gugur mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Ya, hari itu 10 November 2016 diperingati sebagai Hari Pahlawan, hari untuk mengenang perjuangan heroik tanpa kenal takut yang ditunjukkan arek-arek Surabaya, bahu membahu dengan sejumlah kelompok pemuda lintas suku untuk melawan tentara Inggris. Diperkirakan ribuan pemuda Indonesia yang gigih dan gagah berani gugur untuk mempertahankan martabat sebuah bangsa yang begitu mereka cintai, INDONESIA. Banyak orang berkumpul di sebuah tempat, untuk memperingati hari pahlawan.

Hal yang sama juga terjadi di sebuah pelataran parkir, di luar tembok sebuah penjara di Kota Tangerang. Terlihat banyak orang berkumpul dan memegang spanduk. Namun, mereka bukan sekadar merayakan Hari Pahlawan, namun juga sedang menanti seseorang keluar dari dalam sebuah rumah tahanan.

Tepat pukul 10.00 WIB, tampak pria berkumis yang mengenakan jaket hitam berpeci dengan pin Merah Putih keluar disambut haru oleh wanita berkerudung merah didampingi keluarga dan koleganya.

“Merdeka” begitu kata pertamanya yang langsung dibalas kerumunan orang yang sejak lama sudah menunggunya.

Dialah Antasari Azhar, mantan ketua KPK yang harus dikurung di Lapas Kelas 1A Tangerang sejak 2009. Didakwa melakukan pembunuhan berencana dan dihukum selama 18 tahun penjara. Kini dia bebas meski masih dilabeli sejumlah syarat, setelah menjalani 2/3 masa hukumannya. Kebebasannya disambut bak pahlawan yang baru kembali dari medan perang.

Ketika bersua dengan kelompok pewarta, dia berkata rindu pulang ke rumahnya, ingin memeluk cucu dan menghabiskan waktu bersama keluarga.

“Satu hal yang paling saya sesali adalah kurangnya waktu bersama keluarga selama saya berkarir, nyatanya keluargalah yang terus ada untuk saya dalam penjara, itu yang akan tebus setelah keluar dari penjara,” begitu kata Antasari.

Bukan sebuah rahasia, kasus hukumnya hingga saat ini masih berpolemik. Perbuatan yang dituduh kepadanya diragukan banyak pihak. Bahkan nyaring terdengar jika tuduhan tersebut adalah sebuah rekayasa demi sebuah kepentingan. Sebagai mantan penegak hukum, Antasari ikhlas menjalani hukuman itu, dia menghormati vonis tersebut sebagai sebuah produk hukum.

Namun yang paling mengejutkan dan mungkin baru pertama kali terjadi, dalam sebuah kasus pembunuhan, keluarga korban justru bersahabat dengan pelaku. Keluarga korban bahkan merayakan kebebasan Antasari, mereka percaya ‘seribu’ persen Antasari bukan pelaku pembunuhan.

Hal itu juga yang membuat Antasari berada di persimpangan, di satu sisi dia ikhlas dan ingin melupakan semuanya kemudian kembali ke keluarganya, di lain sisi dia pernah berjanji kepada keluarga korban untuk membuktikan dia bukan pembunuh dan bekerja sama mengungkap jelas kasus ini.

Jalan tengah pun dipilih, Antasari ingin menikmati masa kebebebasannya dulu dengan keluarga yang lama ditinggalkannya. Namun dengan tegas dia berjanji, setelah tiga bulan, dia akan melaksanakan apa yang pernah diucapkannya.

WAKTU tiga bulan hampir berlalu, secarik kertas ditandatangani Pemimpin Republik ini, Joko Widodo. Isinya mengabulkan permohonan grasi yang diajukan Antasari dengan mengurangi hukuman selama enam tahun. Antasari sumringah, kini dia resmi mengakhiri hukumannya, bebas murni. Dia ingin menyampaikan ucapan terima kasih secara langsung kepada sang pemimpin, yang begitu memperhatikan keadilan.

Tak sampai seminggu, pertemuan itu akhirnya terwujud. Presiden Joko Widodo meluangkan waktu untuk menjamu Antasari. Pertemuan tersebut memang agak tak biasa, dilakukan di sebuah ruangan bukan di teras tempat biasanya presiden minum teh bersama sejumlah tokoh politik. Para pewarta pun tak boleh mengambil gambar pertemuan tersebut. Yang menambah kesan pertemuan tersebut tak biasa adalah dipanggilnya Kapolda Metro Jaya dan Pangdam Jaya sebelum pertemuan tersebut.

Mungkin sebuah kebetulan semata, agendanya di hari bersamaan. Namun jika ditilik dari pesan politiknya ada maksud yang beririsan dengan Antasari terkait pemanggilan kedua jenderal tersebut.

Yang lebih menguatkan dugaan tersebut adalah janji sang Kapolda Metro Jaya untuk kembali mengecek laporan Antasari enam tahun silam, tentang SMS yang dikirimkan ke Antasari menjelang terbunuhnya, bos PT Putra Rajawali Bantaran, Nasrudin Zulkarnain, korban yang katanya dibunuh Antasari.

Entah kebetulan atau tidak, janji tiga bulan Antasari tersebut ternyata berdekatan dengan agenda Pilkada DKI Jakarta. Jika dihitung, 10 Februari, tepat tiga bulan Antasari bebas bersyarat, hanya berselisih 5 hari dari hari pemungutan suara Pilkada Gubernur ibukota negara tersebut, tanggal 15 Februari. Salah satu calon gubernur yang ikut dalam kontestasi, adalah Agus Harimurti Yudhoyono, putra Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang menjabat saat Antasari dijebloskan ke penjara.

Sudah santer beredar meski belum terbukti, nama SBY tersebut memiliki benang merah dengan Antasari terkait penangkapan mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia, Kasus Century dan Kasus IT KPU. Itu juga yang diminta Antasari saat menanggapi cuitan mantan atasannya tersebut untuk membantu pengungkapan kasusnya.

Yang teranyar, saat Antasari terlihat hadir dalam debat ke-2 Pilkada DKI Jakarta. Bahkan Antasari dengan tegas mendukung calon nomor 2 Basuki Tjahaya Purnama-Djarot Saiful Hidayat usai debat tersebut. Pernyataan tersebut jelas berimplikasi positif kepada elektabilitas pasangan nomor dua, sebaliknya merupakan sinyal negatif buat kandidat lainnya, terlebih buat Agus Yudhoyono dan pasangannya.

Memang jauh sebelum hari pemungutan suara Pilkada DKI Jakarta sebagian besar masyarakat DKI Jakarta sudah menentukan pilihannya, entah itu berdasarkan psikologis, sosiologis maupun rasionalitasnya. Namun, di luar kelompok tersebut, jumlah pemilih yang belum menjatuhkan pilihannya bukan sedikit. Mereka diprediksi bakal menentukan pilihannya di hari-hari terakhir bahkan saat sudah berada di bilik suara.

Tren kenaikan suara pasangan Ahok-Djarot yang sempat menukik tajam pascakasus penodaan agama, terlihat mulai menanjak lagi menjelang hari pemungutan suara. Manuver Antasari ini juga mungkin menjadi satu faktor dan alasan kelompok pemilih tersebut untuk menjatuhkan pilihannya ke pasangan Ahok-Djarot. Bisa jadi Ahok-Djarot bakal diuntungkan dan menyalip pasangan Agus-Sylvi yang selama ini menurut sejumlah lembaga survei mengalahkan Ahok-Djarot. Bisa jadi juga, Agus-Sylvi bakal terpental jauh, bahkan dilewati pasangan Anies-Sandi. Akankah itu terjadi? Kita akan segera tahu jawabannya.

Penulis: Franky Guntur Tangkudung

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Protected by Copyscape

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional