Menu

Om Telolet Om, Menggelitik dan Menampar

  Dibaca : 231 kali
Om Telolet Om, Menggelitik dan Menampar
Om Telolet Om Menggelitik dan Menampar

Sekumpulan anak tampak bermain di tepian jalan. Ada yang necis dengan pakaian rapi, ada yang bertelanjang dada, ada juga yang tak beralas kaki. Ada yang berkulit hitam, ada yang kuning langsat, ada juga yang bermata sipit. Mereka berbaur dengan canda, mengisi waktu sambil menunggu sebuah bus datang.

Tak berapa lama, tampak sebuah bus besar perlahan melintasi mereka. Tak hitung tiga mereka langsung berbaris sambil berteriak bersama “Om Telolet Om” , berharap sang sopir bus mendengar dan membunyikan klason modifikasi dengan irama panjang merdu dan lucu.

Seketika terpancar wajah puas bahagia, mata mereka berbinar senang mendengar irama klakson dari bus tersebut. Mereka berpelukan, gembira usaha dan kerjasamanya membuahkan hasil, sesederhana itu. Permainan kembali dilanjutkan sambil menunggu bus berikutnya lewat melintas kembali. Mereka tak peduli apa warna kulit sahabatnya, apa agama temannya, tujuan mereka ingin bersenang-senang dalam kebahagiaan.

Fenomena Om Telolet Om kini lagi populer, bahkan mendunia. Banyak selebriti dunia ikut memberi perhatian, turut gembira melihat wajah bahagia kumpulan anak-anak Indonesia. Fenomena Om Telolet Om memang menggelitik namun menampar, tawa sekumpulan anak itu bagai oase di tengah suasana kebencian dan kesedihan bangsa yang menjadi sorotan dunia.

Ya, entah apa yang terjadi dengan bangsa ini, kini virus kebencian dan kemarahan terus menghiasi kehidupan setiap harinya, apalagi kebanyakan bernuansa agama.  Bangsa ini menjadi terpecah, bukan semata yang beda agama, yang seagama pun saling menjatuhkan, merasa berada di pihak yang paling benar. Ujaran kebencian hampir setiap menit kita lihat, saling hujat, saling fitnah bahkan saling maki.

Kita terus mempersoalkan halal dan haram, jihad dan kafir, pengalihan isu dan penistaan agama, padahal urusan agama adalah hubungan vertikal dengan Sang Pencipta. Tak ada lagi entitas jati diri kita sebagai bangsa Indonesia. Tenggang rasa, tepo seliro, budi pekerti, moralitas, toleransi dan saling menghargai, semuanya hilang tak berbekas. Pemimpin minoritas disalahkan, memberi ucapan selamat hari raya dianggap dosa, yang paling miris, aksi bom bunuh diri membunuh sesama manusia dianggap pahala dan masuk surga.

Bangsa ini harus bangkit, tak boleh terus berada di kubangan. Pembangunan Sumber Daya Manusia harus sejalan dengan pembangunan infrastruktur. Sudah saatnya pemerintah lebih tegas, tak boleh lagi kompromi dengan kelompok mengatasnamakan agama yang merusak persatuan. Aparat juga harus lebih jeli melihat, dari segi kuantitas ada kelompok silent majority, yang selama ini diam tapi pasti takkan terus tinggal diam jika persatuan bangsa dikoyak. Ada yang akan berontak jika keadaan ini terus berlangsung, semut marah jika diinjak, tawon pun menyengat jika diganggu. Biarkan bangsa ini kembali damai dan bersaudara, seperti saat awal didirikan. Jika bukan saudara seagama, kita adalah saudara sebangsa, saudara dalam kemanusiaan. Bersatu dalam perbedaan, Bhineka Tunggal Ika.

Biarlah orang dewasa juga bisa saling bersatu, berkaitan tangan seperti kumpulan anak di pinggir jalan. Menebar tawa dan mengumbar bahagia, menjalani hidup tanpa ada kebencian. Kembali menjadi saudara, bersama membangun bangsa ini menjadi bangsa yang disegani dan dihormati. Sesederhana kumpulan anak itu, bersatu untuk mendapatkan kebahagian dengan teriakan “Om Telolet Om”.

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Protected by Copyscape

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional