Menu

Tuduh Penangkapan Teroris Pengalihan Isu? Baca Ini

  Dibaca : 187 kali
Tuduh Penangkapan Teroris Pengalihan Isu? Baca Ini
Tuduh Penangkapan Teroris Pengalihan Isu? Baca Ini

Polisi menangkap sejumlah terduga teroris sejak Sabtu (10/12). Ini berawal dari terungkapnya rencana peledakan Istana Presiden saat Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri menangkap tiga orang di Bintara, Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (10/12).

Dalam penangkapan tersebut, polisi mengamankan bahan peledak dan empat orang terduga teroris yang diduga terkait jaringan Jamaah Anshar Daulah Khilafah Nusantara (JADKN).

Ketiga orang tersebut ditangkap di kamar 104 rumah kontrakan milik Bukit Simangunsong, Bintara Jaya, Bekasi. Satu orang pelaku lain ditangkap di Solo, Jawa Tengah.

Saat penggerebekan ditemukan benda yang diduga sebuah bom yang berada dalam rice cooker. Bom yang ditemukan dari kelompok tersebut memiliki daya ledak yang tinggi dengan kecepatan dari tempat peledakan sebesar 4.000 km/jam. Bom itu memiliki berat tiga kilogram dan daya ledaknya 300 meter persegi.

Bom  mematikan tersebut rencananya akan dilakukan saat pergantian jaga Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) Minggu (11/12). Prosesi penggantian jaga Paspampres tersebut memang terbuka untuk umum. Dalam pelaksanaan bulan-bulan sebelumnya, prosesi ini ditonton ratusan bahkan ribuan masyarakat.

Namun, keberhasilan pihak kepolisian ini masih saja disambut skeptis dan fitnah. Beredar kabar penangkapan tersebut adalah cara untuk mengalihkan isu dari topik lain yang sedang hangat di Indonesia.

Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Jenderal Tito Polisi Karnavian menegaskan, penangkapan sejumlah terduga teroris yang dilakukan kepolisian bukan bentuk pengalihan isu. Pergerakan para kelompok sudah dimonitoring sejak jauh hari.

“Langkah monitoring yang dilakukan tim Densus telah menggagalkan rencana serangan yang akan dilakukan terhadap kumpulan massa di dekat pos penjagaan istana saat momen pergantian jaga Paspampres,” katanya.

Dia juga memberikan apresiasi kepada anak buahnya di lapangan yang berhasil menggagalkan rencana peledakan sehingga tidak terjadi korban.

“Di beberapa negara, semua peledakan terjadi dan membawa korban jiwa. Indonesia tidak ada korban, karena bisa digagalkan,” katanya.

Wakapolri, Komjen Syafruddin menambahkan penangkapan sejumlah terduga teroris tersebut menjadi bukti pihak kepolisian sekuat tenaga untuk menciptakan keamanan dan ketertiban masyarakat. Dia meminta pihak yang masih menganggap hal ini sebagai pengalihan isu agar tidak sembarangan berkomentar.

“Teroris itu serius! Jangan ada komentar bahwa itu pengalihan isu atau sebagainya. Anak buah saya, ada yang satu tahun tidak pulang ke rumah. Tidak ketemu anak dan istri untuk melacak aksi terduga teroris. Mereka tidur di jalan untuk selidiki ini itu dan kami bisa tangkap sebelum bom meledak, tolong jangan komentar ini pengalihan isu. Hati-hati berkomentar,” tegasnya, Rabu (14/12).

Dia berjanji pihak kepolisian akan terus mengerahkan segala kemampuannya untuk melindungi masyarakat.

Sekretaris Kabinet, Pramono Anung mengingatkan sejumlah pihak tidak menggiring aksi-aksi teror ke persoalan pengalihan isu. Kinerja Polri yang berjuang untuk melindungi masyarakat justru harus didukung seluruh masyarakat.

“Biasanya kalau misalnya terjadi ledakan, orang yang disalahkan pertama kali Kapolri. Kalau berhasil dicegah, ada sebagian masyarakat yang berprasangka. Menurut saya yang seperti ini harus dihilangkan bersama,” kata Pramono.

Dia meminta semua rakyat Indonesia untuk memberi dukungan dan kepercayaan kepada Polri dan TNI supaya bisa bekerja maksimal.

Diketahui, pada akhir pekan kedua bulan Desember terjadi aksi peledakan bom dalam waktu hampir bersamaan di beberapa negara yang berkaitan dengan Islamic State in Iraq and Syria (ISIS). Ratusan orang tewas dan melukai ribuan orang.

Yang pertama, bom Turki  yang meledak Sabtu (10/12/2017) sesaat setelah berakhirnya pertandingan sepakbola Liga Turki di Vodafone Arena Stadium antara Besiktas dan Bursaspor. Bom meledak di kerumunan petugas kepolisian. Kemudian terjadi bom kedua di area taman kota, Macka Park tepat di seberang stadion. Dua ledakan ini menewaskan 44 orang dan melukai lebih dari 150 orang, yang mayoritas adalah polisi.

Yang Kedua, bom Mesir yang meledak Minggu (11/12) di Cairo’s Coptic Catedhra saat ibadah sedang berlangsung. Ledakan itu menewaskan 25 orang melukai  49 orang. Mayoritas korban adalah wanita dan anak-anak.

Yang Ketiga, bom Yaman yang meledak Sabtu (10/12) saat ratusan tentara sedang berbaris untuk mengambil gaji di barak Al-Sawlaban, dekat dari Aden International Airport, Yaman. Ledakan bom bunuh diri menewaskan 48 tentara dan melukai puluhan orang.

Yang Keempat, bom Somalia yang meledak Minggu (11/12) di Mogadishu Seaport, Somalia. Bom ditaruh di sebuah truk bermuatan besar. Menewaskan 22 orang dan melukai puluhan orang. Mayoritas korban adalah warga sipil.

Yang Kelima, bom Nigeria yang meledak Jumat (9/12) di pasar padat pengunjung yang diledakkan dua anak perempuan. Bom ini menewaskan 56 orang dan melukai 177 orang.

Yang Keenam, Bom di Indonesia yang rencananya diledakkan Minggu (11/12) oleh seorang wanita berhasil digagalkan Kepolisian Republik Indonesia. Ribuan orang yang rencananya akan menyaksikan prosesi pergantian jaga Paspampres luput dari maut.

Penulis: Franky Guntur Tangkudung

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional