Menu

Flashback Semifinal II AFF 2016, Vietnam Vs Indonesia

  Dibaca : 186 kali
Flashback Semifinal II AFF 2016, Vietnam Vs Indonesia

Tim Nasional Indonesia (7/12/16) akhirnya berhasil melepas dahaga selama 6 tahun, masuk ke partai puncak piala AFC setelah dalam semifinal kedua berhasil menahan imbang tim favorit juara, Vietnam 2-2. Dengan hasil ini Indonesia menang agregat 4-3 dan melaju ke final mengulangi capaian tahun 2010.

Tampil dalam kondisi mental sedang berduka, tim yang dikomandoi Boaz Salosa ingin memberikan pelipur lara buat negara tercinta. Kurang dari 14 jam sebelum bertanding, mereka menerima kabar buruk. Ratusan saudara di ujung barat Indonesia harus meregang nyawa di bawah puing reruntuhan akibat guncangan gempa. Aksi minute silence atau mengheningkan cipta untuk korban gempa Aceh, membulatkan tekad mereka.

Bukan menghapus duka, tapi ingin mengirimkan simpati yang menguatkan dari jarak ribuan kilometer, “Kita Adalah Saudara”.

Tampil mengenakan logo Garuda di dada, seluruh punggawa tim nasional sadar ada harapan tinggi yang diletakkan seluruh rakyat Indonesia di pundak mereka. Tapi perjuangan tak mudah, mereka berjuang di tanah kelahiran Ho Chi Minh. Apalagi bertanding di Stadion My Dinh, di bawah teror sekitar 40 ribu suporter tuan rumah. Memang benar adanya, sepanjang babak pertama Tim Nasional Indonesia bertahan total.

Dengan motivasi ekstra, para pemain Timnas Indonesia bahu-membahu mempertahankan bentengnya, menghalau semua serangan yang datang. Meski menciptakan belasan peluang emas, hingga rehat minum keadaan belum berubah, papan skor masih tertulis 0-0.

Sejak keluar dari ruang ganti, Vietnam makin meningkatkan serangannya. Sadar akan situasi, tim Indonesia hanya bisa bertahan, menunggu waktu yang tepat untuk melancarkan serangan. Menggunakan strategi serangan balik cepat, akhirnya Indonesia berhasil mencuri keunggulan lewat pemain naturalisasi, Stefano Lilipaly di menit 54.

Setelah itu bisa ditebak, serangan frontal bertubi terus dilancarkan tim tuan rumah sepanjang babak kedua. Meski kehilangan kipernya yang dikartumerah, Vietnam tetap mendominasi pertandingan. Hingga 7 menit sebelum waktu normal berakhir, gawang Kurnia Meiga akhirnya bobol. Arek Malang ini tak mampu menahan sepakan Thanh Vu Van yang menjaga asa tuan rumah.

Semangat anak asuh Nguyen Huu Thang memang pantas dipuji, mereka berjuang hingga detik terakhir dan berhasil membuat skor berbalik 2-1. Keadaan ini membuat agregat menjadi imbang 3-3, karena di pertemuan pertama Indonesia menang dengan hasil yang sama.

Pertandingan harus diteruskan dengan babak extra time 2×15 menit untuk menentukan siapa yang berhak melaju ke final. Indonesia dalam posisi terjepit. Stamina terkuras, mental tergerus karena teror penonton tuan rumah.

Namun disinilah tuah Bhineka Tunggal Ika, tujuh menit setelah kickoff babak tambahan, Manahati Lestusen berhasil mencetak gol lewat titik hukuman 11 meter yang membuat Indonesia unggul agregat 4-3. Hukuman ini diberikan menyusul pelanggaran keras kiper dadakan Vietnam, Que Ngoc Hai kepada Ferdinand Sinaga di dalam kotak penalti. Diburu waktu, Vietnam terus menekan, tapi tak bisa lagi menggoyahkan pertahanan tim Garuda. Hingga akhir babak kedua tambahan waktu, skor tak berubah. Indonesia ke final.

Kemenangan ini memberi inspirasi bagi banyak anak bangsa. Indonesia itu kuat jika bersatu, hal yang tak dilakukan dalam penampilan di dua edisi AFF sebelumnya. Tahun 2012 dan 2014 pengurus dan pemain terpecah, hasilnya lolos kualifikasi grup pun Indonesia tak sanggup.

Lihat kini dari Sumatera hingga Papua bersatu, memberikan yang terbaik untuk negerinya. Selain bakat besar Arek Surabaya Evan Dimas dan Andik Vermasyah, ada talenta hebat dari Priangan, Deddy Kusnandar.

Belum cukup, tengok saja Ferdinand Sinaga kelahiran Bengkulu dan Teja Paku Alam asal Sumbar utusan Bumi Andalas, Abdul Rachman dari Balikpapan wakil Tanah Borneo, Lerby Eliandry Pong kelahiran Samarinda berdarah Toraja dari Pulau Celebes.

Jangan dilupakan mutiara timur Indonesia seperti kapten tim, Boaz Salosa dan Yanto Basna asal Papua, Rizky Rizaldi Pora dan Zulham Zamrun dari Ternate, serta dua Nyong Ambon Abdu Lestaluhu dan Manahati Lestusen. Itu diparipurnakan semangat cinta Indonesia dari satu-satunya pemain naturalisasi berdarah Belanda Stefano Lilipaly dan sang manajer asal Austria, Alfred Riedl.

Kini langkah Tim Nasional tinggal setapak dengan trofi juara, hal yang masih menjadi mimpi bangsa ini. Seluruh bangsa Indonesia kembali akan bersatu untuk memberikan dukungan kepada Tim Nasional. Partai final Piala AFF 2016 akan digelar dalam dua leg. Pada leg pertama, Indonesia akan menjadi tim penantang yang digelar pada Rabu (14/12) di Indonesia, selanjutnya leg kedua di kandang lawan pada Sabtu (17/12).

Apapun hasil di final nanti, bangsa Indonesia sudah bangga dengan kekompakan, keberanian dan kegigihan anggota timnas. Rakyat Indonesia sudah banyak belajar arti pluralisme, persatuan dan nasionalisme.

Diketahui, selama 20 tahun berlaga di piala AFF (sebelumnya bernama Tiger Cup) Indonesia tak pernah meraih juara. Prestasi terbaik Timnas Garuda adalah 4 kali masuk final dari 7 kali tampil sebagai semifinalis. Ini juga menjadi turnamen pertama Ketua Umum PSSI yang baru, Edy Rahmayadi yang terpilih 10 November lalu.

Pelatih Alfred Riedl diharapkan bisa menghapus “kutukan” 20 tahun bagi Indonesia, sekaligus melepas julukan Mr. Runner Up yang disematkan kepadanya, karena prestasi tertingginya adalah 6 kali menjadi runner up di tingkat Asean.

Penulis: Franky Guntur Tangkudung

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional