Menu

Ahok, Intan dan Ironi Bangsa

  Dibaca : 250 kali
Ahok, Intan dan Ironi Bangsa
Ahok, Intan dan Ironi Bangsa

PERTENGAHAN tahun 1990-an, sebuah pabrik pengolahan pasir kwarsa di bagian timur Kepulauan Bangka Belitung, ditutup. Alasannya sepele, karena sang pemilik dianggap melawan pejabat kala itu.

Sang pemilik marah besar, tapi tak bisa berbuat banyak. Sempat terbersit di benaknya untuk hijrah dari Indonesia. Namun sang ayah, mencegahnya.

Dia justru diberi wejangan sang ayah yang berdarah Tiongkok untuk mengubah keadaan yang sudah berpuluh tahun terjadi, mendobrak tirani yang selama ini menindas rakyat miskin. Dengan jalur politik, sang ayah yakin anaknya bisa mewujudkan semua itu.

“Jika Rp1 Miliar dibagikan, hanya 2000 masyarakat yang mendapat Rp.500 ribu. Tapi dengan APBD yang ada, akan jauh lebih banyak masyarakat yang mendapatkan kesejahteraan” begitu pesan sang ayah.

Memulai karir politik lewat anggota DPRD Kabupaten Belitung Timur Tahun 2004, jalannya mulus hingga kini menjabat Gubernur DKI Jakarta.

Namanya kian terang bersinar, memberi cahaya bagi warga DKI, sesuai doa dan harapan sang ayah saat memberinya nama, Basuki Tjahaya Purnama atau lebih dikenal dengan Ahok.

Kini dia tersandung masalah, disangka menista agama karena pidatonya. Belakangan banyak pihak menilai unsur politis bernuansa agama lebih kental terasa. Mereka menilai Ahok mendapat penolakan karena lahir dari kaum minoritas.

SAAT proses hukum Ahok sedang bergulir, Minggu (13/11/16) di ibukota Provinsi Kalimantan Timur, ketika sekelompok anak sedang asyik bermain, menunggui para orang tuanya sedang beribadah di sebuah gereja, datang seorang pemuda berkaos oblong dan memikul tas ransel.

Tanpa belas kasih, dia melemparkan bom molotov tepat ke arah kerumunan anak kecil itu. Seketika api melahap tubuh-tubuh mungil itu, mereka kesakitan dan berteriak memanggil orang tuanya.

Intan Olivia Marbun, gadis kecil belum genap tiga tahun mengalami luka bakar lebih dari 80 persen. Bersama beberapa temannya yang terluka, mereka dilarikan ke rumah sakit, mendapat perawatan intensif.

Tak sampai sehari mendapat perawatan dengan peralatan medis maksimal, gadis mungil nan lucu itu menyerah, dia tak kuat lagi menerima sakit yang luar biasa. Dia menghembuskan nafas terakhir, meninggal bukan karena penyakit, tapi karena disakiti, dilukai secara sengaja.

Dia bahkan tak mengerti apa salahnya, tak juga sempat bertanya, kenapa terluka kemudian meninggal.

Belakangan, diketahui penyerang Intan adalah teroris yang mengatasnamakan agama, tak mau kedamaian dan persaudaraan tercipta di negara ini. Mereka tak bisa menerima jika di negara ini ada perbedaan agama atau perbedaan lainnya.

Mereka lupa, Jika Tuhan mau, DIA akan menciptakan semua manusia sama dan dalam satu agama. Tapi, Tuhan menciptakan perbedaan, Tuhan ingin mengajarkan manusia saling menghargai, toleransi dan berbuat baik kepada sesama, ajaran yang ada di semua agama atau aliran apapun di dunia ini.

Kasus Ahok dan Intan, hanya sebagian kecil realita di negeri ini. Masih banyak kelompok radikal yang terang-terangan menolak keberagaman, bagi mereka perbedaan adalah dosa, minoritas harus diperangi.

Sebuah ironi, padahal negara ini dibentuk dari perbedaan yang disatukan. Itu justru yang membuat kita kuat, itu juga alasan para founding father mengambil kalimat Bhineka Tunggal Ika dari kitab Sutasoma milik Mpu Tantular sebagai semboyan negara, Berbeda-beda tapi Tetap Satu.

Para pahlawan seperti Robert Wolter Mongisidi, Sam Ratulangi, WR Supratman, Kapten Pattimura, Gatot Subroto, I Gusti Ngurah Rai mungkin akan menangis jika melihat kondisi ini.

Padahal dahulu, mereka rela mencurahkan darah, ikhlas meregang nyawa berjuang tanpa melihat sekat perbedaan, tidak melihat perbedaan agama, suku, ras dan golongan hanya untuk satu tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Bagi para pejuang, Indonesia itu dari Aceh hingga Papua, dari Sabang ke Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote, dengan 6 agama dan berbagai kepercayaan, terdiri dari 1134 suku bangsa, bahasa dan adat istiadat.

Kejadian ini harus menjadi pelajaran bagi bangsa ini, pemerintah harus menguatkan nilai-nilai persatuan di setiap lini bangsa ini, juga memerangi semua bentuk intoleran dengan tegas tanpa ampun.

Tak perlu lagi saling bermusuhan karena perbedaaan. Hilangkan kata mayoritas dan minoritas, kita semua satu, sama hak dan kedudukannya sebagai warga negara.

Saat bangsa lain kini sibuk beradu terbang ke luar angkasa, kita masih berkutat di hal seperti itu. Haruskah kita malu? Entahlah…

Penulis : Franky Guntur Tangkudung

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Protected by Copyscape

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional