Menu

Edy Rahmayadi, Asa Baru Sepak Bola Indonesia

  Dibaca : 190 kali
Edy Rahmayadi, Asa Baru Sepak Bola Indonesia

Edy Rahmayadi akhirnya terpilih menjadi ketua Persatuan Sepakbola Seluruh (PSSI) Indonesia periode empat tahun ke depan, 2016-2020 dalam kongres PSSI (10/11)  yang dilangsungkan di hotel  di Hotel Mercure, Jakarta.

Dalam pemilihan, Jendral bintang tiga ini mendapat 76 suara. Pesaing utamanya, mantan Panglima TNI, Moeldoko jauh tertinggal dengan 23 suara. Sementara itu Walikota Batu, Eddy Rumpoko hanya meraih satu suara saja. Jumlah suara tidak sah ada tujuh dari total 107 suara.

Tiga calon ketua umum lainnya, Kurniawan Dwi Yulianto, Sarman dan Bernhard Limbong tidak mendapatkan satu suara pun. Erwin Aksa dan Toni Apriliani yang juga masuk bursa ketua umum PSSI, memilih mengundurkan diri dan mengalihkan suaranya kepada Edy Rahmayadi. Mantan ketua umum PSSI, Djohar Arifin Husin dinyatakan tak lolos verifikasi karena ditolak mayoritas pemilih.

Diketahui, Edy Rahmayadi didukung oleh sejumlah pemilik suara yang menamakan dirinya Kelompok 85 (K-85). Jauh sebelum proses pemilihan suara, K-85 sudah yakin akan memenangkan Edy Rahmayadi sebagai ketua.

Kongres Pemilihan Ketua PSSI sebelumnya bakal digelar di Makassar pada 17 Oktober 2016, namun kongres  harus ditunda hingga 10 November 2016, setelah FIFA mengirimkan surat kepada PSSI dan Kemenpora tanggal 14 Oktober lalu.

Selanjutnya, lewat hasil voting, Joko Driyono dan Iwan Budianto resmi menjadi Wakil Ketua Umum PSSI. Dengan perolehan 78 suara dan 73 suara, Joko Driyono dan Iwan Budianto berhasil menyingkirkan Erwin Aksa 31 suara, Hinca Pandjaitan 22 suara, Andi Rukman 1 suara, Erwin Budiawan 1 suara, Hadiyandra 1 suara, sedangkan 2 tidak sah.

Terpilihnya Edy Rahmayadi ini diharapkan semua pecinta sepak bola Indonesia bisa membawa prestasi sepak bola Indonesia ke arah lebih baik, apalagi sebelumnya Indonesia pernah disanksi FIFA hingga setahun. Jabatan Pangkostrad yang disandangnya juga diyakini bisa memberikan hubungan baik antara PSSI dengan pemerintah.

Kemenangan Edy Rahmayadi juga jelas menjadi angin segar dan harapan baru bagi kemajuan sepak bola Indonesia. Lama Negara terbesar Asia Tenggara ini terpuruk dalam kubangan. Persoalan mafia bola dalam perjudian, pengaturan skor, ketidaknetralan wasit hingga ricuh antar suporter bakal menjadi bagian dari tugas maha berat yang diemban Edy Rahmayadi.

Tantangan Edy Rahmayadi semakin besar saat Indonesia dituntut berprestasi saat menjadi tuan rumah Asian games 2018. Belum lagi Ajang Sea Games Agustus 2017. Ratusan juta masyarakat Indonesia jelas berharap Edy Rahmayadi bisa membawa Indonesia kembali ke habitat sesungguhnya. Itu semuanya harus dilakukan dengan persatuan semua stakeholder yang ada. Materi pemain berkualitas, pelatih hebat, pengurus mumpuni, topangan penuh pemerintah dan doa seluruh rakyat Indonesia.

Kini harus diakui, Indonesia tertinggal jauh dari Thailand tetangga di wilayah Asia Tenggara. Perkembangan sepakbola negara gajah putih tersebut berkembang pesat. Padahal dari tahun 80an, Indonesia menjadi rival Thailand menjadi raja Asia Tenggara.

SEA Games tahun 1991 di Filipina adalah kenangan terakhir kejayaan Indonesia. Kala itu Indonesia mengalahkan Thailand dan membawa pulang medali emas. Ferril Hattu dan kawan-kawan polesan Anatoli Polosin menang adu penalti 4-3 di Stadion Rizal Memorial, Manila.

Setelah itu, Indonesia seperti kehilangan jatidirinya. Tak ada lagi tawa dan kegembiraan setiap mengakhiri turnamen. Terhitung 7 kali Indonesia masuk ke babak pamungkas namun semuanya berakhir dengan kesedihan. Di Ajang Sea Games Tahun 1997, 2011 dan 2013 Indonesia masuk final namun tak mampu berbuat banyak.

Di ajang piala AFF (sebelumnya bernama piala Tiger) bahkan lebih menyesakkan, Indonesia masuk final empat kali di tahun 2000, 2002, 2004 dan 2010. Lagi-lagi, Indonesia hanya bisa menyaksikan pesta juara tim lawan, mengangkat trofi sambil menari.

Indonesia seakan lupa pernah punya banyak pemain hebat, sebut saja Soetjipto Soentoro, Maulwi Saelan, Ramang, Ronny Pasla, Ronny Patinasarani, Ricky Yakobi, Rully Nere, Robby Darwis, Aji Santoso, Fachri Husaini, Widodo C Putro, Kurniawan Dwi Yulianto, Rochy Putiray, dan Bambang Pamungkas.

Indonesia dulu memang pernah berprestasi mentereng, lihat saja, Indonesia yang sebelum merdeka bernama Hindia Belanda, tampil di Piala Dunia 1938 bermaterikan pemain pribumi. Tengok juga, saat Indonesia menahan imbang Rusia di Olimpiade 1956, Indonesia juga pernah meraih medali perunggu Asian Games 1958, Indonesia pernah meraih dua medali Sea Games 1987 dan 1991, Indonesia pernah imbang dengan Kuwait di Piala Asia 1996 bahkan Indonesia pernah mengalahkan Qatar di Piala Asia 2004.

Kini kita boleh berharap tinggi kepada sang jendral, memulai langkah berat membawa Indonesia ke persaingan dunia, membuat Dwi Warna Merah Putih berkibar lebih gagah dan membawa Indonesia Raya menggema lebih jauh. Selamat Bertugas, Jenderal.

Penulis: Franky Guntur Tangkudung

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional