Menu

Joko Widodo dan Garry Kasparov (1)

  Dibaca : 332 kali
Joko Widodo dan Garry Kasparov (1)
Joko Widodo dan Garry Kasparov

WAJAH pemuda itu terlihat masih sangat polos, namun pembawaannya terlihat optimis. Tak sedikitpun gurat ketakutan dan raut gentar terpancar ketika bertemu dengan sang lawan. Kali ini, memang lawannya terbilang sangat berat, seorang juara dunia. Sempat tertinggal 0-5, namun dia tetap gigih, mencari celah dan strategi yang tepat untuk mengalahkan lawannya. Dia tetap berpegang pada aturan, siapa yang lebih dulu mencapai 6 kemenangan, akan menjadi juara dunia.

Dengan ketenangannya, perlahan dia mulai memperkecil kekalahan hingga mendekat di posisi 3-5. Dengan 17 kali bermain remis, akhirnya pertandingan itu dihentikan, ditunda dengan alasan fisik. Lawannya bahkan disebut harus dirawat ke rumah sakit.

Setahun kemudian, pertandingan dilanjutkan. Pemuda itu makin matang, tapi datang dengan strategi yang makin mumpuni. Pujian yang ditujukan kepadanya tak membuat dia besar kepala. Sebaliknya dia makin menunjukkan  kerendahan hatinya. Hal inilah yang membuat dia tak menemui kendala berarti untuk mengalahkan sang lawan, Anatoly Karpov.

Jadilah pemuda itu juara dunia di usia 22 tahun pada tahun 1985 dan mempertahankannya selama 15 tahun. Dia makin dipuji saat mengalahkan Deep Blue, ketika ide mempertemukan manusia dengan komputer digagas pertama kalinya. Anak muda itu, akhirnya dikenal sebagai Garry Kasparov, pecatur terhebat sepanjang masa dari Rusia. Strateginya diakui para lawan-lawannya tak pernah terduga sebelumnya.

DI belahan dunia seberang, hampir tiga dekade setelahnya muncullah seorang bernama Joko Widodo, seorang tukang mebel sederhana dari Solo. Tak pernah diperhitungkan sebelumnya dalam kancah perpolitikan di Nusantara, mantan Mahasiswa Pecinta Alam ini akhirnya terpilih menjadi presiden ke-7 Indonesia. Awal terpilihnya, banyak cacian dan hinaan yang dialamatkan kepadanya. Namun pembawaannya tetap tenang dan santun, dia tak membalasnya dengan kemarahan. Tetap dengan wajahnya yang polos dengan kesantunannya yang membumi.

Perlahan dia menunjukkan kapasitas dan kapabelitasnya. Prioritas pembangunannya terstruktur rapi, mulai dari pembangunan infrastruktur, kebijakan ekonominya dan yang teranyar reformasi hukumnya. Namun yang paling dipuji adalah strategi ala Kasparovnya ketika menghadapi masalah pelik. Banyak contoh yang sudah membuat publik menyanjungnya.

Lihatlah ketika ramai istilah “Petugas Partai“ merendahkan harga dirinya, saat itu dia tak mempersoalkannya. Namun tak berselang lama, Panglima TNI kala itu, Moeldoko memberikan gelar warga kehormatan TNI dan menyematkan baret dari tiga angkatan (darat, laut, udara) secara bergantian. Pesan politik yang terselip di dalamnya jelas membuat ciut siapapun yang merendahkan martabat pemegang komando tertinggi TNI, Panglima Tinggi.

Atau ketika dia ditekan partai pengusungnya terkait pemilihan Kapolri. Tak berapa lama, mantan rivalnya Prabowo Subianto yang merupakan Ketua IPSI datang dan memberikan gelar Pendekar sebagai bentuk dukungannya. Alhasil, Budi Gunawan Kapolri pilihan partai pendukungnya tak jadi dilantik dan diganti dengan pilihannya, Badrodin Haiti.

Belum lagi saat Ketua DPR saat itu, Setya Novanto terjerat kasus “Papa Minta Saham”. Saat itu Jokowi memperlihatkan kemarahannya karena mencatut nama presiden. Mimik yang jarang terlihat di publik. Sindiran dalam justru terbaca ketika dirinya makan malam dan tertawa bareng sejumlah pelawak di istana, padahal saat yang bersamaan sedang dilakukan sidang etik di Majelis Kehormatan Dewan.

Pun begitu, ketika sang mantan menyentil kinerjanya. Tanpa banyak kata, Jokowi pergi ke Hambalang lokasi proyek mangkrak saat masa kepemimpinan sebelumnya dan terbukti dikorupsi banyak anggota partai Demokrat. Hal ini jelas menohok keras SBY. Jangan lupa juga demo FPI part I, yang langsung diredamnya dengan tiba-tiba melantik Ignasisus Jonan dan Archanda Tahar sebagai Menteri dan Wakil menteri ESDM, dampaknya demo tersebut tak banyak mendapat perhatian media karena kalah menarik dari pelantikan itu.

Namun, mungkin kali ini yang terberat dan paling sensitif. Ancaman demo puluhan ribu orang tanggal 4 November menuntut Basuki Tjahaya Purnama- partnernya saat menjabat Gubernur DKI- ditangkap terkait dugaan penistaan agama membuat dia harus mengeluarkan strategi ekstra. Kunjungannya ke markas Prabowo Subianto di Hambalang, dengan berkuda bersama menunjukkan kepiawaiannya merangkul tokoh-tokoh besar untuk bekerja sama menghadapi masalah ini. Setelah itu Prabowo “diutus” ke Presiden PKS, Sohibul Iman dan Jusuf Kalla “disuruh” menjamu SBY. Belum lagi langkahnya mengumpulkan Pemimpin Redaksi sejumlah media dan bertemu dengan bertemu para tokoh Ormas Islam. Tak berapa lama, berseliweran pesan damai dari para tokoh yang ditemuinya yang membuat keadaan semakin dingin.

Tak lupa juga dia menyampaikan perintah kepada dua alat negara, Kepolisian dan TNI lewat Kapolri dan Panglimanya untuk Santun tapi Tegas dalam mengawal demonstrasi. Langkahnya ini jelas membuat semua pihak terkagum-kagum. Strateginya tak pernah terpikir oleh siapapun. Semua langkahnya seakan memberikan pesan tersirat yang sangat gamblang buat masyarakat, “Tidak usah khawatir berlebihan”. Negara hadir memberikan keamanan dan ketertiban bagi semua lapisan masyarakat. Seperti halnya, mereka yang bebas melakukan demonstrasi, menyampaikan rasa dan aspirasi karena hal itu diatur dalam undang-undang.

Sebaliknya, jika ada yang merugikan kepentingan masyarakat lebih banyak, jika ada yang melangkahi konstitusi, coba-coba menggerus keutuhan NKRI, pasti tindakan tegas jadi konsekwensinya. Karena Persatuan dan kesatuan bangsa ini di atas segala-galanya, seperti kata Soekarno dalam pidatonya di hadapan sidang BPUPKI 1945,

“Negara Republik Indonesia ini bukan milik sesuatu golongan, bukan milik sesuatu agama, bukan milik sesuatu suku, bukan milik sesuatu golongan adat-istiadat, tetapi MILIK KITA SEMUA dari Sabang sampai Merauke!”

Penulis : Franky Guntur Tangkudung

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional